Prabu Kian Santang

silsilah 1

asal usul kian santang

Prabu Kian Santang, namanya seakan-akan kabur antara nama dari dunia nyata dengan legenda, sebagaimana nama Prabu Siliwangi di wilayah Pajajaran. Nama sebenarnya adalah Raja Sangara atau Sunan Rohmat yang merupakan orang penting dalam penyebaran agama Islam di tanah Sunda. Menurut Ridwan Saidi, Prabu Kian Santang juga merupakan penyebar agama di tanah Betawi khususnya daerah Karawang, dulu, memang tidak ada pemisah antara tatar Sunda (yang diwakili oleh Kerajaan Pajajaran) dengan tanah Betawi. Posisinya sebagai menak atau turunan Raja menyebabkan da’wah Kian Santang cukup berpengaruh, latar belakang keilmuan dan keshalehannya adalah warisan dari ibunya Nyi Mas Subang Larang.

silsilah sunda

silsilah sunda

Kian Santang adalah anak dari Nyi Mas Subang Larang dengan Raden Pamanah Rasa (Pangeran kerajaan Pajajaran) yang awalnya diutus Prabu Anggalarang untuk menutup pesantren Syekh Quro, dimana Subang Larang menjadi murid disana. Sejarah Kian Santang tidak dapat diepaskan dari sejarah Syekh Quro seorang da’i asal Campa yang menyebarkan Islam di daerah Cirebon dan Karawang.

Riwayat Sang Ibu

Nyi Subang Larang adalah anak dari Ki Gedeng Tapa yang masih keturunan dari Prabu Wastu Kancana. Kedatangan Syekh Quro, da’i dari Campa yang masih keturunan Imam Husein bin Ali di Cirebon telah menarik minat Ki Gedeng Tapa untuk lebih mendalami tentang Islam.

Tetapi, Prabu Anggalarang yang tidak berkenan, memerintahkan Syekh Quro menghentikan dakwahnya, karena semangat memahami agama Islam yang tidak ingin terputus, Ki Gedeng Tapa menitipkan anaknya Nyi Mas Subang untuk ikut Syekh Quro ke Campa. Beberapa tahun kemudian, Syekh Quro kembali ke wilayah Pajajaran dengan menumpang Kapal Laksamana Cheng Ho. Syekh turun di Karawang dan mendirikan mushola yang mungkin menjadi Pesantren Pertama Jawa Barat di daerah Karawang. Dari sinilah awal kiprah Nyi Subang Larang sebagai da’iyah di Tatar Sunda.

Mengetahui Syekh Quro yang kembali, Prabu Anggalarang mengutus anaknya Raden Pamanah Rasa untuk menutup pesantren tersebut. Alih-alih menutup pesantren, Raden Pamanah Rasa malah tertarik oleh alunan merdu suara tilawah Qur’an Nyi Subang Larang (yang mewarisi keahlian gurunya, Syekh Quro). Pamanah Rasa masuk Islam dan menikahlah dengan Nyi Subang Larang yang sama-sama turunan raja. Mereka memiliki tiga anak yakni Raden Walangsungsang, Nyi Mas Rara Santang dan Raja Sangara atau lebih dikenal sebagai Prabu Kian Santang.

Mendalami sejarah penyebaran agama Islam di tatar Sunda nampaknya harus dimulai dari tokoh-tokoh utamanya seperti Syekh Quro, Nyi Subang Larang, Prabu Kian Santang dan seterusnya. Agar identifikasi keislaman orang Sunda menjadi jelas adanya, wallohu a’lam.

About these ads

24 responses to “Prabu Kian Santang

  1. keturunan terakhir siapa?

  2. Ass. saya masih keturunan dari Kian Santang generasi ke 8 (delapan) atau turunan langsung ke 112 dari Kian Santang…sy meneruskan leluhur saya untuk menyeru kepada manusia untuk toat kepada Alloh SWT bukan toat kepada manusia. sy tinggal di Bandung dan punya Majlis Ta’lim Salafiyah Syafi’iyyah Al-Aydrus. Doa dan dorongan semangat anda yang menulis artikel ini ataupun komentar lainnya sy perlukan sebagai dukungan moril dalam amal ma’ruf nahyi munkar..amiiin

  3. jono al-khowarik

    ass..ma’af numpang nimrung,,,di daerah garut cerita prbu kian santang lain lg,di sini di ceritakan bahwa prbu kian santang langsung belajar agama dr syeikh/sayidina ali mekah & dia sebenarnya bukan putr asli prabu siliwangi.dst,(sumber kitab kuno,situs babad godog,babad situs ciburuy,& peninggalan hutan sancang garut).& cerita ini di benarkan sama dng yg di ceritakan dr sjarah sayidina ali mekah…ma’af ya,, tp di garut byk sekali peniggalannya termasukcerita ini yg di ambil dr kitab sastra sunda peninggalan sunan rohmat godog,,dll

    • maaf ne,,, setau saya prabu kian santang bener2 anak dari eang prabu siliwangi,,, ini bukan d ambil dari buku cerita atawa sejarah…. saya tidak begitu percaya dengan buku sejarah, kecuali melihat atau berbicara langsung dengan sang raja siliwangi

  4. jono al-khowarik

    tp saya juga tidak tu kebenaranya krn belum pernah melihat aslinya,,tp org garut percaya dan mengakui kebenarannya berdasar dr sejarah & keturunanya yg turun temurun… insya alloh saya akan buat blog tentang sejarah prabu kian santang versi babad garut yg menjadi jantung kerajaan padjajaran

  5. bagus kang Jono kalau nanti buat blognya, karena akan memperbanyak khazanah. Mengenai urutan yang sebenarnya memang perlu kajian para ahli. Saya juga pernah dengar tentang Pangeran Borosngora di Panjalu yang juga belajar langsung dari Sayyidina Ali. Apakah mereka berada di satu zaman, atau ada Sayyidina Ali yang lain selain Imam Ali bin Abi Thalib Kw

  6. cerita’a bagus bgt…….

  7. kenal ama raden sacadipura ga itu eang anak’e r.arsikin keturunan’e pg.anggalarang gue kake gue r.uki ema gue r.baryati

  8. Assalmualaikum wr wb, mengaculah pada sejarah yg sdh ditulis oleh para ahli sejarah tentang keturunan prabu kian santang, kebenaran harus solid dan bs dipertanggung jawabkan, selagi kita masih bs berpegang pd kebenaran, dan juga sy menghimbau kepada khusus nya yg msh keturunan beliau, coba tengok dan perhatikan peninggalan situs sejarah yg ada di godog garut, masih belum terawat dgn baik, kita prihatin dgn keadaan nya, beliau seorg penyebar agama yg sdh sepantasnya kita hargai perjuangan nya, dan tak kalah penting utk kebaikan umat, pelihara hubungan antar umat islam, dan beri tanda atau peringatan berziarahlah dengan benar dan lurus, AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG SYIRIK, mohon maaf atas kometar sy yg dhoif, terima kasih, wss

  9. kelana, yang saya tau bahwa prabu kian santang adalah putra ke tiga dari prabu siliwangi, eyang cakra buana, enyang putri rara santang dan eyang prabu kian santang dan yang saya tau beliau belajar kepada syaidina ali sahabat rosul kanjeng nabi Muhammad SAW

  10. dan kalo gak salah, ada 3 muridnya syaidina ali di indonesia, di panjalu, banten dan prabu kian santang, mungkin ada lagi di daerah lain dan makamnya prabu kian santang ada di godok garut di puncak bukit, beliau menetap dan menyebarkan agama di daerah garut karena menurut berita yang saya dapat, bahwa beliau mendapat amanat dari syadina ali, jika gelang kaki dan pusaka beliau berbunyi (bergerincing di suatu daerah) maka di tanah itulah beliau harus menetap dan menyebarkan agama islam, dan murid beliau juga dimakamkan di godog garut, semoga kita bisa mengambil contoh dari leluhur kita dalam menjaga tanah nusantara dan dunia umumnya

  11. Ass,,punten kang muhammad idris abdi keturunan dari maung bodas,
    abdi seneng akang neruskeun jalan leluhur urang……….wrwb

  12. Ikut nimbrung….Eyang Prabu Kian Santang atau Garantrang Setra atau Jala Setra atau Borosngora atau Gagak Lembayung atau Raja Sangara atau Sunan Rahmat Suci mempunyai beberapa nama dan krn tingginya ilmu Beliau dpt merubah wajah menjadi 7 rupa….Beliau tdk bisa dipisahkan dari sejarah penyebaran Islam di tanah Padjadjaran….
    Berjubah putih,bersorban putih dgn tasbih bercahaya adalah ciri-ciri Beliau..Tasbih – Tahmid – Takbir tdk pernah lepas dari nafas Beliau…mhn maaf bukan nya saya lancang menulis ini…tp demi Allah saya pernah berjumpa Beliau ketika tirakat di Gn.Salak – Kawah Ratu ,Bogor thn 1994.

  13. Sejarah iku bener gak?

  14. Iku nurut babad ngendi?

  15. rian jafar sodik

    ass. maaf saya ikut nimbrung , kenapa cerita legenda prabu kian santang ini berbeda dengan yang saya baca ? ..
    saya membaca yang salah satu ini !! ..

    GODOG adalah sebuah daerah pedesaan yang indah dan nyaman, berjarak 10 km kearah timur dari puseur dayeuh Garut. Tepatnya di Desa Lebakagung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut. Disana terdapat makam Prabu Kiansantang atau yang dikenal dengan sebutan Makam Godog Syeh Sunan Rohmat Suci. Hampir setiap saat banyak masyarakat yang ziarah, terlebih di bulan-bulan Maulud.
    Prabu Kiansantang atau Syeh Sunan Rohmat Suci adalah salah seorang putra keturunan raja Pajajaran, Prabu Siliwangi, dari prameswarinya yang bernama Dewi Kumala Wangi. Kian Santang lahir tahun 1315 Masehi di Pajajaran, mempunyai dua saudara, bernama Dewi Rara Santang dan Walang Sungsang.

    Pada usia 22 tahun, tepatnya tahun 1337 Masehi, Kiansantang diangkat menjadi dalem Bogor kedua yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor. Peristiwa itu merupakan kejadian paling istimewa di lingkungan Keraton Pajajaran dan dapat diketahui oleh kita semua sebagai pewaris sejarah bangsa, khususnya Jawa Barat.
    Kiansantang merupakan sinatria yang gagah perkasa. Konon tak ada yang bisa mengalahkannya. Sejak kecil sampai dewasa, yaitu berusia 33 tahun, tepatnya tahun 1348 Masehi, Kiansantang belum pernah tahu seperti apa darahnya. Dalam arti, belum ada yang menandingi kegagahannya dan kesaktiannya. Sering kali dia merenung seorang diri, memikirkan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi kesaktian dirinya. Akhirnya Prabu Kiansantang memohon kepada ayahnya supaya mencarikan seorang lawan yang dapat menandinginya.
    Sang ayah memanggil para ahli nujum untuk menunjukkan siapa dan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi Kiansantang. Namun tak seorangpun yang mampu menunjukkannya. Tiba-tiba datang seorang kakek yang memberitahu bahwa orang yang dapat menandingi kegagahan Prabu Kiansantang adalah Sayyidina Ali, yang tinggal jauh di Tanah Mekah. Sebetulnya pada waktu itu Sayyidina Ali telah wafat, namun kejadian ini dipertemukan secara gaib dengan kekuasaan Alloh Yang Maha Kuasa. Lalu , orang tua itu berkata kepada Prabu Kiansantang: “Kalau memang kau mau bertemu dengan Sayyidina Ali, kau harus melaksanakan dua syarat: Pertama, harus mujasmedidulu di ujung kulon. Kedua, namamu harus diganti menjadi Galantrang Setra (Galantrang – Berani, Setra – Bersih/ Suci).
    etelah Prabu Kiansantang melaksanakan dua syarat tersebut, maka berangkatlah dia ke tanah Suci Mekah pada tahun 1348 Masehi. Setiba di tanah Mekah, ia bertemu dengan seorang lelaki yang disebut Sayyidina Ali, tetapi Kiansantang tidak mengetahui bahwa laki-laki itu bernama Sayyidina Ali. Prabu Kiansantang yang namanya sudah berganti menjadi Galantrang Setra menanyakan kepada laki-laki itu.
    “Kenalkah dengan orang yang namanya Sayyidina Ali?” tentu laki-¬laki itu menjawab dengan jujur, mengiyakannya, bahkan ia bersedia mengantar Kian Santang. Sebelum berangkat, laki-laki itu menancapkan dulu tongkatnya ke tanah. Setelah berjalan beberapa puluh meter, Sayyidina Ali berkata, “Wahai Galantrang Setra, tongkatku ketinggalan di tempat tadi, tolong ambilkan dulu!”
    Semula Galantrang Setra tidak mau. Namun Sayyidina Ali mengatakan jika tidak mau, tentu tidak akan bertemu dengan Sayyidina Ali. Terpaksalah Galantrang Setra kembali ketempat bertemu, untuk mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat tongkat tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah tangan. Ternyata tongkat tidak bisa dicabut, bahkan tidak sedikitpun berubah. Sekali lagi, Kian santang berusaha mencabutnya, tetapi tongkat itu tetap tidak berubah. Ketiga kalinya, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sekuat tenaga dengan disertai tenaga bathin. Tetapi tongkat tetap tertancap di tanah dengan kokoh, sebaliknya kedua kaki Galantrang Setra amblas masuk ke dalam tanah, dan keluarlah darah dari tubuh Galantrang Setra.
    Sayyidina Ali mengetahui kejadian itu, maka beliaupun datang. Setelah Sayyidina Ali tiba, tongkat itu langsung dicabut sambil mengucapkan Bismillah dan dua kalimat syahadat.Tongkatpun terangkat dan bersamaan dengan itu hilang pulalah darah dari tubuh Galantrang Setra. Galantrang Setra merasa heran, kenapa darah yang keluar dari tubuh itu tiba-tiba menghilang dan kembali tubuhnya sehat. Dalam hatinya ia bertanya. “Apakah kejadian itu karena kalimah yang diucapkan oleh orang tua itu tadi?”. Kalaulah benar, kebetulan, akan kuminta ilmu kalimah itu. Tetapi laki-laki itu tidak menjawab. Alasannya, karena Galantrang Setra belum masuk Islam.
    Kemudian mereka berdua berangkat menuju Mekah. Setelah tiba di Mekah, di tengah perjalanan ada yang bertanya kepada laki-laki itu dengan sebutan Sayyidina Ali. Galantrang Setra kaget mendengar panggilan ”Ali” tersebut. Ternyata laki-laki yang baru dikenalnya tadi tiada lain adalah Sayyidina Ali.
    Setelah Kiansantang meninggalkan Mekah untuk pulang ke Tanah Jawa (Pajajaran), ia terlunta-lunta tidak tahu arah tujuan. Maka ia berpikir untuk kembali ke Mekah lagi dengan niat bulat akan menemui Sayyidina Ali, sekaligus bermaksud memeluk agama Islam. Pada tahun 1348 Masehi, Kiansantang masuk Islam. Ia bermukim selama dua puluh hari sambil mempelajari ajaran agama Islam. Kemudian dia pulang ke tanah Jawa (Pajajaran) untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya.
    Setibanya di Pajajaran, ia bertemu dengan ayahnya. Kian Santang menceritakan pengalamannya selama bermukim di tanah Mekah serta pertemuannya dengan Sayyidina Ali. Pada akhir ceritanya, ia memberitahukan bahwa dirinya telah masuk Islam dan berniat mengajak ayahnya untuk memeluk agama Islam. Prabu Siliwangi kaget sewaktu mendengar cerita anaknya, terlebih ketika anaknya mengajak masuk agama Islam. Sang ayah tidak percaya, dan ajakannya ditolak.
    Tahun 1355 Masehi, Kiansantang berangkat kembali ke tanah Mekah. Jabatan kedaleman, untuk sementara diserahkan ke Galuh Pakuan yang pada waktu itu dalemnya dipegang oleh Prabu Anggalang. Prabu Kiansantang bermukim di tanah Mekah selama tujuh tahun dan mempelajari ajaran agama Islam secara khusu. Merasa sudah cukup menekuni ajaran agama Islam, kemudian ia kembali ke Pajajaran tahun 1362 M. Ia berniat menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa. Kembali ke Pajajaran pun disertai saudagar Arab yang punya niat berniaga di Pajajaran sambil membantu Kiansantang mensyi’arkan agama Islam.
    Setiba di Pajajaran, Kiansantang langsung menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat, karena ajaran Islam dalam fitrohnya membawa keselamatan dunia dan akhirat. Masyarakat menerimanya dengan tangan terbuka. Kemudian Prabu Kiansantang bermaksud menyebarkan ajaran agama Islam di lingkungan Keraton Pajajaran.
    Setelah Prabu Siliwangi mendapat berita bahwa anaknya sudah kembali ke Pajajaran dan akan menghadap kepadanya. Prabu Siliwangi yang mempunyai martabat raja mempunyai pikiran. “Dari pada masuk agama Islam lebih baik aku muninggalkan keraton Pajajaran”. Sebelum berangkat meninggalkan keraton, Prabu Siliwangi merubah Keraton Pajajaran yang indah menjadi hutan belantara.
    Melihat gelagat demikian, Kiansantang mengejar ayahnya. Beberapa kali Prabu Siliwangi terkejar dan berhadapan dengan Kiansantang yang langsung mendesak agar sang ayah dan para pengikutnya masuk Islam. Namun Prabu Siliwangi tetap menolak, malah beliau lari ke daerah Garut Selatan. Kiansantang menghadangnya di laut Kidul Garut, tetapi Prabu Siliwangi tetap tidak mau masuk agama Islam. Dengan rasa menyesal, Kiansantang terpaksa membendung jalan larinya sang ayah. Prabu Siliwangi masuk ke dalam gua yang sekarang disebut gua sancang Pameungpeuk.
    Prabu Kiansantang sudah berusaha mengislamkan ayahnya, tetapi Alloh tidak memberi hidayah kepada Prabu Siliwangi. Kiansantang kembali ke Pajajaran, kemudian membangun kembali kerajaan sambil menyebarkan agama Islam ke pelosok-pelosok, dibantu oleh saudagar Arab sambil berdagang. Namun istana kerajaan yang diciptakan oleh Prabu Siliwangi tidak dirubah, dengan maksud pada akhir nanti anak cucu atau generasi muda akan tahu bahwa itu adalah peninggalan sejarah nenek moyangnya. Sekarang lokasi istana itu disebut Kebun Raya Bogor.
    Pada tahun 1372 Masehi, Kiansantang menyebarkan agama Islam di Galuh Pakuan dan dia sendiri yang mengkhitan laki-laki yang masuk agama Islam. Tahun 1400 Masehi, Kiansantang diangkat menjadi Raja Pajajaran, menggantikan Prabu Munding Kawati atau Prabu Anapakem I. Namun Kiansantang tidak lama menjadi raja, karena mendapat ilham harus uzlah, pindah dari tempat yang ramai ketempat yang sepi. Dalam uzlah itu, ia diminta agar bertafakur untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dalam rangka mencapai kema’ripatan. Kepada beliau dimintakan untuk memilih tempat tafakur dari ke 3 tempat, yaitu Gunung Ceremai, Gunung Tasikmalaya, atau Gunung Suci Garut.
    Waktu uzlah harus dibawa peti yang berisikan tanah pusaka. Peti itu untuk dijadikan tanda atau petunjuk tempat bertafakur nanti, apabila tiba disatu tempat peti itu godeg/ berubah, maka disanalah tempat dia tafakur, dan kemudian nama Kiansantang harus diganti dengan Sunan Rohmat. Sebelum uzlah, Kiansantang menyerahkan tahta kerajaan kepada Prabu Panatayuda, putra tunggal Prabu Munding Kawati.
    Setelah selesai serah-terima tahta kerajaan dengan Prabu Panatayuda, maka berangkatlah Prabu Kiansantang meninggalkan Pajajaran. Tempat yang dituju pertama kali adalah Gunung Ceremai. Setibanya disana, peti diletakan di atas tanah, tetapi peti itu tidak godeg alias berubah. Kiansantang kemudian berangkat lagi ke gunung Tasikmalaya, disana juga peti tidak berubah. Akhirnya Kiansantang memutuskan untuk berangkat ke gunung Suci Garut. Setibanya di gunung Suci Garut, peti itu disimpan diatas tanah, secara tiba-tiba berubahlah peti itu. Dengan godegnya peti tersebut, berarti petunjuk kepada Kiansantang bahwa ditempat itulah beliau harus tafakur untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tempat itu kini diberi nama Makam Godog.
    Prabu Kiansantang bertafakur selama 19 tahun. Sempat mendirikan Mesjid yang disebut Masjid Pusaka Karamat Godog yang berjarak dari makam godog sekitar kurang lebih 1 Km. Prabu Kiansantang namanya diganti menjadi Syeh Sunan Rohmat Suci dan tempatnya menjadi Godog Karamat. Beliau wafat pada tahun 1419 M atau tahun 849 Hijriah. Syeh Sunan Rohmat Suci wafat di tempat itu yang sampai sekarang dinamakan Makam Sunan Rohmat Suci atau Makam Karamat Godog.***

    itu juga kalo ngga salah !! MAAF kalo ada kata² dari saya yang tidak wajar di ucapkan !! …

  16. ini cerita sama persis yang di ceritakan kake dan bapak saya, asli garut soalnya

  17. kian santang menurut cerita sahabat adalah orang tua prabu siliwangi dan anak prabu siliwangi, jd bs disimpulkan kiansantang adalah dua tokoh, yg satu sebagai asal usul prabu siliwangi dan tokoh yg satunya merupakan tokoh anak prabu siliwangi, dan siliwangipun ada 2, siliwangi yg kita kenal adalah siliwangi kedua, siliwangi pertama merupakan uyut dari siliwangi kedua

  18. Kang mau nanya anak” kian santang punya brapa dan siapa nama”nya

  19. poetra ragil ningrat

    smoga bermanfa’at bg kita smua dan jd suri tauladan orang-orang yg mau ber tafakur….

  20. poetra ragil ningrat

    jg bertawatsul atas R.Rochmat Suci Raden Prabu Kian Santang brsm klrg yg sdh masuk islam…

  21. Bismillahirahmaanirrahimm¿,,
    Raden kian santang adalah sahabat saya sewaktu kecil, dia sangat ramah,baik,sopan,&taat beribadah,, sya raden sandi dwiantare brsukur mempunyai sahabat sperti kian santang,, namun sya gagal menjadi raja,&sya tidak masuk tv, saya merasa sedih sekali,,
    http://www.gokil coy.com

  22. Aslm.
    Sejarah Rd. Kian Santang memang msiteri. tapi dari sekian cerita terdapat kisah yag perlu dicermati. daintaranya bahwa belaui pernah berguru kpd Sayidina Ali. Perlu diketahui bahwa Sayidina Ali hidup pd abad & M. sementara Rd Sangara (yg sll disebut Rd Kian Santang

  23. Aslm.
    Sejarah Rd. Kian Santang memang penuh msiteri dan banyak versi, tapi dari sekian cerita terdapat kisah yag perlu dicermati. daintaranya bahwa belaui pernah berguru kpd Sayidina Ali. Perlu diketahui bahwa Sayidina Ali hidup pd abad 8 M. sementara Rd Sangara (yg sll disebut Rd Kian Santang) hidup pada abad 15. Bgmn mungkin beliau berdua bisa ketemu padahal hidup pada zaman yg berbeda (terpaut 800 tahun) ?

    Mnrt catatan dari orang2 tua Kian Santang yg asli hidup pada zaman Taruma Nagara (abad 7). Dia adalah pangeran yang bisa menundukan serbuan Dinasty Tang dari Cina. Kian santang artinya Ksatria Penakluk Dinasty Tang. Dia terkenal kuat (sakti) dan hanya dapat dikalahkan oleh Sayidina Ali.

    Dahulu kisah Kian Santang ditulis dalam buku dan tersimpan di perpustakaan kerajaan Padjadjaran.

    Alkisah Pangeran Walangsungsang yg merupakan putera Prabu Silihwangi merupakan seorang ulama yg menyebarkan Islam di Tanah Pasundan (dimulai dari Cirebon). Dalam dakwahnya beliau selalu menceriterakan kisah Kian Santang yag dia baca di Perpustakaan Kerajaan padjajaran. Namun kisah tersebut sedikiit dirubah disesuaikan dengan kepentingan dakwahnya. Masyarakat yg mendengar ceriteranya beranggapan bahwa kian Santang itu rd. Walangsungsang.

    Alkisah sebelum Prabu Silihwangi menikah dengan Ny. Subang Larang beliu telah masuk Islam. Jd cerita bahwa terjadi perang antara Kian santang dg Silihwangi garagara berbeda agama peerlu dicermati dg bijak. Sudah bukan rahasia lg bahwa sejarah kita banyak direkayasa oleh pihak luar dg tujuan mengadu domba (devide et impera).

    Demikian. wallau A’lam Bisawab

    Wass. wrwb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s