Category Archives: Pengalaman

Kemping di Sawah

kemping di sawah jaman baheula

kemping di sawah jaman baheula

Jaman baheula, sekitar taun 90-an kemping adalah salah satu hobi paling didemenin. Ga peduli waktu, biar bolos sekolah yang penting bisa kemping. Malah beberapa hari sebelum Ramadhan, semacam ritual tahuanan, saya and the gank biasa kemping menyambangi banyak tempat, pernah di pinggiran Waduk Jatiluhur, Kebun teh Pangalengan, Gunung Gombong Cianjur, Panjalu dan lain-lain. Yang ada di foto ini adalah pengalaman kita di jaman jebott, kemping di sawah dekat Cigede Kuningan. Ceritanya ini adalah acara saya ngajakin barudak junior mencoba beberapa tempat di kampung, keliling ke kuburan Gunung Ebun, Curug Bangkong dan kemping ini, tempatnya di sawah milik nenek sebelum daerah Nangkagede.

Mungkin buat orang desa pada saat itu nginep di saung bukanlah merupakan hal yang aneh, karena sambil jagain panenan atau kolam yang mau dipanen adalah hal biasa aja mereka melakukan ‘kemping’ ini. Tapi buat orang kota kayak kita, kayaknya jadi sensasi sendiri. Menyiapkan makan sendiri dari nasi liwet, mancing ikan untuk dibakar temen makan, naik pohon kelapa untuk menikmati nasi liwet spesial pake air kelapa dan lain sebagainya. Kemping di tengah sawah (yang ada kebunnya juga) bisa ditambah menu beuleum sampeu wuihh ekzotiz maan.

Dari dulu, saya suka menggunakan kesempatan berkumpul di malam hari sebagai sarana berbagi pengalaman dan pencerahan. Model inilah yang memudahkan mereka–anak-anak kemping ini– tersedot ke dunia perenungan dan tarbiyah. Sssttt jangan ribut ya. Adalah kesempatan yang luar biasa ketika kita mendapatkan diri kita menyelami pengalaman-pengalaman masa muda dengan berkelana, avonturir atau backpacker kalau anak sekarang mah.

Kemping, seingat saya memberikan banyak pelajaran dan memberikan kesan yang mendalam yang membuat kita lebih mencintai alam (dan tanah air di kemudian hari). Inilah yang membuat saya suka membagi kesenangan dengan mengajak temen-temen ke daerah-daerah bagus ini.

waduk darma jaman baheula

waduk darma jaman baheula

Kita bisa belajar teknik bivak (kalau ga ada tenda, dan biasanya memang begitu), atau ikut mensetting gubug sawah jadi tempat yang nyaman, cara membuat kompor alam atau api unggun, kompor pake kapur tulis dan lilin. Ah menyenangkan sekali, semoga setelah dipengaruhi faktor U ini semangat kemping tidak luntur. Jadi ingat Abah Iwan Abdurrahman. hehehe

Pengalaman hiking dan berangkat ke alam juga saya tularkan ke anak-anak, bahkan Salma si sulung sudah diajak-ajak ke alam sejak masih di gendongan.

salma masih segede uprit

salma masih segede uprit

Mudah-mudahan jadi kenangan terindah ya nak, dan kamu ketika sudah besar bisa manjat Kilimanjaro atau traveling ke daerah-daerah terjauh. Amiin.

Pesantren Sains di Cisalak Subang

Tanggal 9-13 Agustus 2011, SMAIT Miftahul Khoir Bandung melaksanakan agenda rutinnya, Pesantren Sains di Desa Cisalak Subang. Subang, tempat yang subur dengan sumber air yang mengalir di segala tempat. Daerah subur ini menjadi tempat pilihan karena potensi ekonominya yang banyak. Ada kegiatan agrobisnis seperti pertanian, peternakan dan perikanan. Primadona perikanan di Cisalak adalah budidaya lele sangkuriang, ikan nila dan ikan mas. Ada pula kerajinan ukiran sisingaan yang kemungkinan memiliki peluang menjadi ikon Cisalak jika dikembangkan dengan baik.

pa imam jomblo

pa imam jomblo

Seetulnya, yang istimewa dari Sansai kali ini dibanding dengan sansai-sansai sebelumnya adalah persiapan luar  biasa yang dibuat oleh pemerintahan desa. Sang kepala desa, Drs Udin Syamsudin menyambut pesantren sains ini dengan membuka pendaftaran buat warga (terutama anak sd-sma) untuk ikut bersama-sama mengikuti Pesantren Sains. Alhasil acara sore hingga malam menjadi arena yang asyik dan semarak karena kami merasa disambut dengan baik oleh warga setempat. Bahkan Mang Amin, OB sekolah kita didaulat menjadi imam tarawih (yang ngebut itu) hehehe.

Yang patut diancungi jempol adalah antusiasme anak-anak mifkho dalam melakukan penelitian, walaupun anak kelas X belum mendapatkan bekal materi apapun karena tahun pelajaran baru saja dimulai, tapi mereka dengan gigih mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk melengkapi laporan penelitian mereka. Tema Sansai kali ini adalah “Ikhlas dan Mandiri”, sebagaimana sansai sebelumnya pelaksanaan pesantren ini kami harapkan bisa memberikan makna lebih. Pada kajian malam, kita penuhi dengan materi keagamaan (tentu saja dengan berbagai metode) untuk meningkat ruhiyah dan kualitas emosi siswa, sedangkan siang hari penuh diisi dengan aktivitas penelitian per kelompok yang dibagi berdasar materi kajian terdiri dari Kerajinan Ukiran (ada kerajinan ukiran miniatur di sini yang jika dikembangkan dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat yang signifikan) –kerajinan ukiran berbentuk binatang-binatang dan buah-buahan mini ini sangat mengundang minat anak-anak; Kerajinan Dompet, Budidaya Ikan Lele, Nila, Ikan Mas, dan Makanan Ringan. Yang terutama dan spesial, pada Sansai kali ini Mifkho akan mempersembahkan blog tentang Cisalak di http://www.cisalak.okipriyadi.com. Pak Oki guru TIK Mifkho jadi narsis karena nampang namanya di nama blog.

Pasar Tradisional (akankah punah?)

umi belanja

korban hukum supply demand

Puluhan tahun, Pasar Tradisional sudah menjadi ikon interaksi sosial masyarakat, Pasar bukan saja menjadi tempat memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi ia telah menjadi wahana komunikasi sosial, transformasi pemikiran dan perasaan yang dipendam oleh warga masyarakat. Pasar dalam lenskep kota masa lalu (yang bertahan hingga kini di beberapa tempat) selalu ditempatkan berdekatan dengan kantor pemerintahan, lapangan kota dan masjid. Pasar telah menjadi ciri sebuah tempat berperadaban. Dimana ada pasar maka disitu terletak peradaban yang telah berkembang, karena para pedagang adalah sumber transformasi informasi yang sungguh ideal. Karena jenis pasar ini tumbuh kembang beriringan dengan tradisi masyarakat, maka kemudian kita menamakannya Pasar Tradisional.

Pasar adalah tempat mencari nafkah, begitu banyak masyarakat terlibat di dalamnya, sebuah Pasar Sempurna, siapapun boleh berniaga di dalamnya. Menyenangkan, itulah suasana yang diterbitkan oleh Pasar-Pasar Tradisional sebuah potret yang dapat ditangkap sebagai interaksi budaya, kehidupan sosial yang sangat komunal. Tidak ada yang individual disana.

Tetapi, nasib Pasar Tradisional kini telah mengalami pergeseran ke pinggir. Modernisasi a la kapitalisme telah melahirkan supermarket, hypermarket, sampai minimarket. Hampir tidak ada ruas jalan yang tersisa tanpa minimarket nagkring disana. Tempat yang bersih ber-AC menjadi daya tawar yang menyebabkan kunjungan ke market (yang artinya pasar juga) lebih banyak. Apalagi watak sebagian masyarakat perkotaan kita yang kormod (korban mode), rasanya lebih gaya ke mini market walau hanya untuk beli permen.

pasar kircon
pasar tradisional-butuh keberpihakan

Kalau anda turun ke Pasar dan bertanya kepada para pedagang tentang omzet, kebanyakan mereka terutama pedagang-pedagang jongko kecil akan bercerita bahwa banyak teman-teman mereka yang telah gulung tikar. Salah satu penyebabnya adalah kehadiran market-market itu.

Mengembalikan kekuatan pasar tradisional berarti juga mengembalikan keberpihakan kepada masyarakat pedagang kecil. Butuh political will agar pasar bisa dikembalikan pada posisi idealnya. Butuh keberpihakan pemerintah untuk melindungi para pedagang kecil itu.

 
(bersambung)
 

Menyiapkan Anak Generasi

“Didiklah anakmu, karena ia bukan hidup untuk generasimu tapi mereka adalah anak generasi masa depan”

azmi

tantangan azmi

bungee trampolin

bungee trampolin

swim at walini

swim at walini

Sekolah di Negeri Kita

Dalam sebuah perbincangan di Jum’at kemarin, dengan Pak Runjai yang mantan Kepala Sekolah Mifkho (sekarang jadi Kepsek MA Salman di Cirebon) dan Pak Eko, juragan kelinci yang lulusan ITB. Inti perbincangan tersebut adalah “Sekolahan kita yang dikelola pemerintah ini ga ada isinya” kata Pak Eko dengan lugas. Ketika saya koreksi ‘mungkin kurang berbobot pak?’, “Bukan, tapi ngga ada isinya” tukas Pak Eko tegas. Anak-anak sekolahan kita masih butuh bimbel untuk masuk perguruan tinggi, berarti sekolah kita ga ada apa-apanya. Mau dikuatin di akademik ga kuat, di agama juga ga kuat, di keterampilan ga kemana-mana.

Ketika novel “Laskar Pelangi’ mencetak box office, bukannya jadi bahan introspeksi terhadap kondisi pendidikan, malah melahirkan kesimpulan, tuh kaaan dalam segala keterbatasan, pendidikan kita bisa menghasilkan orang-orang hebat. Pfuiiih…

Sebagai salah satu pelaku di dunia pendidikan, saya pun merasakan carut marutnya pendidikan kita. (walaupun ga ada uangnya) dengan gagah kami tetap berusaha mempertahankan sekolah kecil kami, untuk menantang segala carut marut tersebut. Kami berpikir, sungguh hal kecil yang kami lakukan dengan menyelenggarakan SMAIT Mifkho cukup memberi arti bahwa ada titik cerah dalam kusamnya nasib pendidikan kita. Kenapa? karena kami masih bisa menyelenggarakan pendidikan yang mendewasakan, memperkaya jiwa dan pikiran anak, walaupun mungkin orang tua siswa yang menitipkan anaknya di sekolah kami adalah orang-orang tua anomali yang berani menantang arus. Betapa tidak? Dengan sarana yang sangat terbatas bahkan mereka tetap mempercayai kami, bahkan al Irsyad percaya untuk minta dibuatkan sistem sekolahnya yang di Karawang kepada kami, bahkan Bu Ledia Hanifa yang anggota dewan itu, mengarahkan teman-teman Malaysia-nya untuk study banding ke sekolah kami.

the inspiring school-mifkho

the inspiring school-mifkho

Keunikan Sekolah Kami

Mungkin tidak bisa dikatakan unik kalau anda pemikir pendidikan yang memanusiakan, tapi ditengah ngga jelasnya kurikulum sekolah-sekolah kita, banyak hal unik yang dikandungnya (setidaknya menurut para penjabat diknas). Kami memadukan kurikulum dengan cara didik yang efisien. Beberapa materi pelajaran yang tidak relevan buah apakah dipertahankan? kami coret itu semua, kami buat kurikulum keterpaduan, yang memadukan nilai-nilai agama (moral dan etika) dengan nilai sains dan kepemimpinan. Tidak lupa kami masukkan pelajaran kewirausahaan yang diam-diam jadi kredo di sekolah kami.

Kegiatan Nature Research membuat siswa gape membuat penelitian sains di alam sekalian dengan membuat laporan dan presentasinya. Pesantren Sains telah mengasah jiwa wirausaha sekalian menempa ruhani mereka, Studi Lapangan dan Sarasehan menyebabkan mereka dapat belajar langsung dari ahlinya, mereka melihat bahwa guru dapat menjadi fasilitator yang baik buat mereka. Menanamkan nasionalisme dan jiwa heroik mereka dapatkan di The Journey to Freedom di hari kemerdekaan Indonesia. Dan dalam kesehariannya, para guru dapat dijadikan partner dalam mendalami ilmu, karena mereka masih cukup banyak memiliki waktu untuk anak-anak.

belajar di sungai Bali Gede

belajar di sungai Bali Gede Cianjur

“Kami menyiapkan sekolah untuk anak-anak, bukan menyiapkan anak-anak untuk sekolah”, sekolahlah yang harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan perkembangan akal, jiwa dan aktivitas anak. Sehingga mereka diberi kesempatan untuk tumbuh matang sesuai dengan bakat, muyul kecenderungan, dan kemampuan mereka.

Yup, kita harus melakukan perubahan itu. Harus melakukan antitesa terhadap kondisi mapan pendidikan Indonesia yang lebih banyak melahirkan kritik daripada acungan jempol. Sekolah kami telah melahirkan Dani yang sekarang bisnis ekspor kopi luwak, atau Soma yang jadi seniman berbisnis travel, atau Zaki yang membuka apotek (dan bersumpah untuk tidak kembali ke Mifkho sebelum sukses), atau Ana sang arsitek arab yang telah punya dua anak dan lain-lain dengan segala keunikannya. Atau Mutho yang ber-backpacker untuk kuliah di turki tanpa bekal? kami cukup bangga dengan mereka.

tampak muka mifkho

tampak muka mifkho

Dari Tarbiyah ke Jamaah Salamullah

Kemarin siang, selepas rapat pekanan perusahaan, Pak Syahrizal cerita tentang temannya Aar yang mengantarkannya ke pintu tarbiyah. Aar termasuk generasi awal, dan mungkin yang termasuk bersemangat di tarbiyah. Singkat cerita Pak Syahrizal mengatakan “tapi, tahu nggak sekarang dia dimana?” tentu saja kami geleng kepala wong kami beda zaman, sambungnya “dia sekarang jadi sekjen Lia Aminudin!” tentu saja saya terperanjat.

Keunikan Kesesatan

Di Indonesia, diketahui banyak sekali jamaah sesat, ada yang skala nasional, skala propinsi atau bahkan ada yang anggotanya 10 atau 20 orang saja. Ada yang ‘cukup’ rasional sampai yang sama sekali tidak masuk akal seperti ngaku jadi Tuhan, jadi Nabi atau ngaku jadi Iblis (?).

Awalnya mungkin karena ada perasaan unik dan istimewa pada diri pimpinan aliran, tapi sesungguhnya yang paling mengherankan adalah bagaimana mungkin mereka punya pengikut, termasuk pengikut dari kelompok terpelajar. Kesimpulan transenden, memang ada tazyin syaithan disitu, tapi alasan psikologisnya apa? apakah pikiran menjadi begitu tumpul untuk membedakan mana gerakan atau aliran yang benar dan yang salah? padahal kan bedanya jelas dan jauh banget. Contohnya kasus di atas, konon pak Aar ini merasa nyaman (atau pura-pura nyaman?)–dahsyatnya dia memutuskan keluar dari jamaah da’wah yang sangat keras memberikan batasan-batasan termasuk dalam pergaulan ke sebuah kelompok yang akhirnya bahkan menyerukan dan mendeklarasikan agama baru (hmm sungguh teer laaaluu-bang rhoma mode on).

Sebagian menyimpulkan, ini adalah gambaran ego seseorang yang tidak mau menjadi orang biasa-biasa aja. Menjadi pimpinan jadi impiannya walau dalam kelompok kecil. Masalah Jibril dan lain-lain ‘wahyu’ bisa direkayasa dan ngga ada bedanya dengan orang yang bekerjasama dengan jin yang selama ini kita kenal. Mungkin jin yang ini memang jin yang cukup sakti sehingga proyek penyesatannya juga dahsyat dan berjangka panjang.

Solusi

Ditengah kehampaan masyarakat yang katanya religius ini, harus ditumbuhkan budaya kritis, ini bisa dikembangkan dalam pengajian-pengajian. Jangan ada lagi dakwah monolog dari kyai yang tak boleh didiskusikan, membuat ajaran agama sesuatu yang untouchable. Pendidikan kepada masyarakat harus menyeluruh, tidak dipandang dari satu sudut sahaja. Sehingga kalau ditemukan ketidakpuasan menyebabkan lepasnya tali keimanan.

Allohu a’lam

Belanja di Palasari

Belanja di Palasari sekarang nggak menyenangkan lagi. Kalau dulu, sekitar 10-an tahun yang lalu kalau ke Palasari selain nyari buku juga bisa dipakai acara jalan-jalan refreshing, sekarang nyari buku di Palasari bisa bikin kepala pusing.

Dulu, Pasar Palasari berbentuk bangunan kayu lantai dua. Di lantai dua itu tempat penjualan buku, tiap kios menempati luas yang hampir sama, dengan bawaan lantai kayu yang dingin nyari buku disini memang adem, angin bisa menelusup ke lorong-lorong selasar antar kios. Lagipula kita bisa liat-liat buku tanpa harus direcoki “nyari buku apa de?” “nyari buku apa mas?”

Yang jelas, Palasari tempo dulu menunjukkan pasar persaingan sempurna deh. Harga buku Palasari kerasa sangat murah di banding buku ditempat lain lagi pula sampul buku pada waktu itu gratis adanya.

Kemudian malapetaka itu terjadi, pasar Palasari kebakaran, atau sengaja di bakar Pemerintah Kotamadya Bandung? Dugaan kesengajaan memang kuat, masalahnya pembangunan Pasar pengganti tidak ditempat asal Pasar, malah sekarang pasar tradisional yang menduduki lantai satu dulu sekarang ga ada lagi.

Sekarang, kondisinya berbeda. Ada dua kelas toko di Palasari. Kios-kios kecil yang menjual buku dikit banget dan seragam, rasanya susah nyari buku di sini, soalnya sedikit-sedikit ga ada, dikit-dikit ga ada. Kalo ga ada gitu, maka penjual buku akan ngobyek dengan mencari buku di kios lain, lalu ngambil marjin. Rugi dong kita. Jenis kedua adalah toko besar yang koleksinya banyak banget, saking banyaknya, buku -buku ditumpuk rapat dengan penyimpanan bertumpuk ke atas, dijamin, nyari buku disini susah banget. Untuk nyari satu judul aja bisa ngabisin waktu yang lama, buang waktu. Apalagi kalo butuh buku banyak dengan jenis yang berbeda-beda..puih bagusan ke Gramedia aja deh.

Sekarang, ke Palasari ga bisa sambil jalan-jalan dengan anak. Dengan kondisi seperti ini bisa jadi industri pemasaran buku disana akan redup. Paling-paling dikuasai oleh BBC yang udah buka cabang dimana-mana. Yang jelas kagak rameee. Kembalikan Palasari kami! mau rakyat pinter ga nih Pemerintah?

Gairah Ber-travelling

kalo ada novel yang begitu menyemangati dan menulari, maka itu adalah kumpulan tulisan Gola Gong “Balada Si Roy”..hmm dulu waktu ceritanya tayang di Majalah Hai ga sempet baca secara runut karena dapet Hai nya juga jarang-jarang. Tapi sekarang..waktu nemu ceritanya bisa didownload di 4shared, wah ingat lagi deh ke jaman-jaman dulu.

bsr

bsr

Setelah dibaca lagi buku ini tetap asyik..walau baru nyadar akhir-akhir ini kalo kebiasaan Roy banyak yang buruknya (konon Gong sampai terpaksa mengakhiri kisah Balada Si Roy karena khawatir dengan pengaruh buruknya), tapi untungnya yang membekas buat saya adalah hobi travellingnya (atau avonturir untuk istilah yang lebih nekatnya)

Sebetulnya gairah berkunjung-kunjung muncul karena dulu waktu kecil, bapak saya kerjanya pindah-pindah dari satu proyek ke proyek yang lain, sehingga kalo kita berkunjung maka terjadilah petualangan yang tidak disengaja. Hingga kini hobi ga rubah-rubah, ya pergi-pergian itu. Sekarang sih agak terbatas karena harus lebih banyak perhatian sama keluarga dan juga karena ga ada dana khusus untuk itu. Tapi paling tidak, saya masih tetap ikut berpetualang lewat cerita-cerita petualangan dari buku para backpacker ini..utamanya Balada Si Roy.

Kebun Binatang Bandung

Hari Rabu pagi, selesai rapat, saya bawa si bungsu Raisya jalan-jalan ke Kebon Binatang Bandung, agenda hari ini tidak terlalu padat, makanya saya gunakanlah untuk membawabya mengenal keanekaragaman hayati disini, sebagian hewan disini udah langka, jadi acara perkenalan ini hampir ‘wajib’ karena khawatir nanti kalo Raisya udah gede binatang-binatangnya udah punah semua. hehe

Buat yang belum tau, Kebon Binatang Bandung ada di jalan Taman Sari, samping ITB.

bonbin

bonbin

Perjalanan kali ini dimulai dengan masuk ke pintu III, pintu yang tidak biasa, ini memang gerbang baru yang didepannya ada galeri seni, mungkin salah satu usaha pemkot untuk menyediakan buat para seniman tempat mangkal–setelah digusur dari Babakan Siliwangi. Enak, suasananya sepi, jadi sempet jelasin ini itu. Gerbang ini kalau kita jalan ke sebelah kiri maka akan kita lihat berbagai mamalia macam rusa, zebra dan kuda (tidak aneh buat raisya–memang hewan-hewan tersebut masih banyak). habis itu daerah Aves. Lucu melihat ekspresi Raisya ketika ada burung kaka tua yang menyapanya “kaka..kaka”. Wah bi burung itu manggil kakak. hehe

Suasana bonbin lumayan enak buat refresing, hijau dan sejuk untuk Bandung yang mulai panas. Apalagi kalau kita berkunjung pas bukan hari libur, jadi tempat ini cocok buat yang udah pasif income–yang hari kerjanya tidak terlalu ketat, atau buat orang yang berani bolos (kayak saya hehee..ups..ini demi kepentingan masa depan generasi penerus). Walau Bonbin ini terasa semakin sempit, karena ada saja bangunan yang dibangun di tempat ini (padahal apa perlunya hewan-hewan itu dg bangunan) yang mereka perlukan cuma pohon.

sejuuk

sejuuk

O iya..Tiket masuknya Rp 11.000 per orang mulai dari usia 3 tahun, jadi cukup murah kan (asal ngga seminggu sekali aja jalan-jalan kesini, kecuali kalau anda karyawan disini..yaa harus tiap hari atuh. Kesimpulannya tempat ini adalah tempat langka yang harus anda kunjungi, soal nasib binatangnya yang semakin memprihatinkan, maka silakan anda berkontribusi, misalnya dengan membayar tiket masuk dua kali lipat (halah), jadi..selamat berkunjung. Yuu mariii

Perkebunan Dewata on Memory

Waktu diputar mundur ke April 2002, Murid SMAIT Miftahul Khoir kelas I dan II yang baru saja terpisah dari SMA Salman Al Farisi (SMA ini terpaksa dibubarkan karena ada ‘sengketa’ Yayasan) berangkat mengikuti Nature Research ke Perkebunan Dewata sekitar Gunung Maud dan Cagar Alam Patuha. Jumlahnya hanya 15 orang saja dengan sekitar 7 orang guru. NR yang berkesan, karena inilah NR pertama sebagai Mifkho, nuansa pemberontakan sedang tumbuh pada waktu itu.

kemah lingkungan

kemah lingkungan-dewata 2002

Penelitian yang menarik karena penelitian meliputi area yang sangat luas, penelitian debit air di sungai dengan ‘asruk-asrukan’ di belantara. Ada vegetasi hutan, penelitian tanaman air dan lain sebagainya. Penelitian ini bekerjasama dengan Konus (Konservasi Alam Nusantara) dalam bentuk Kemah Alam dalam rangka hari Bumi–ternyata ada juga Hari Bumi ya..

Kami dikenalkan dengan suatu model penelitian yang mengasyikkan dengan cara moving camp, ketemu ular segede gambreng, katak yang buesar buangaet dan lain-lain. Pokoknya asyik..terutama karena sepanjang NR saya lagi sakit gigi, sempat ga konsen juga.

Dan hari ini..pemukiman di Dewata telah tergusur longsor..habis..tragedi yang memilukan, karena tempat yang terpencil ini dikenal Indonesia justru karena ada bencana yang memilukan. Tempat yang sangat terpencil dengan kualitas jalan yang buruk. Butuh waktu 4-5 jam dari jalan ciwidey ke Dewata. Mungkin orang-orang yang kami wawancara atau yang melayani makan kami waktu itu mungkin telah terkubur..masya Allah.

Tempat hijau seperti ini saja bisa longsor apalagi tempat gersang di tempat lainnya? Semoga yang menjadi korban diterima amal sholehnya amiin, insya Allah kami kembali kesana untuk melakukan penelitian yang bermanfaat. Insya Allah.