Kemping di Sawah

kemping di sawah jaman baheula

kemping di sawah jaman baheula

Jaman baheula, sekitar taun 90-an kemping adalah salah satu hobi paling didemenin. Ga peduli waktu, biar bolos sekolah yang penting bisa kemping. Malah beberapa hari sebelum Ramadhan, semacam ritual tahuanan, saya and the gank biasa kemping menyambangi banyak tempat, pernah di pinggiran Waduk Jatiluhur, Kebun teh Pangalengan, Gunung Gombong Cianjur, Panjalu dan lain-lain. Yang ada di foto ini adalah pengalaman kita di jaman jebott, kemping di sawah dekat Cigede Kuningan. Ceritanya ini adalah acara saya ngajakin barudak junior mencoba beberapa tempat di kampung, keliling ke kuburan Gunung Ebun, Curug Bangkong dan kemping ini, tempatnya di sawah milik nenek sebelum daerah Nangkagede.

Mungkin buat orang desa pada saat itu nginep di saung bukanlah merupakan hal yang aneh, karena sambil jagain panenan atau kolam yang mau dipanen adalah hal biasa aja mereka melakukan ‘kemping’ ini. Tapi buat orang kota kayak kita, kayaknya jadi sensasi sendiri. Menyiapkan makan sendiri dari nasi liwet, mancing ikan untuk dibakar temen makan, naik pohon kelapa untuk menikmati nasi liwet spesial pake air kelapa dan lain sebagainya. Kemping di tengah sawah (yang ada kebunnya juga) bisa ditambah menu beuleum sampeu wuihh ekzotiz maan.

Dari dulu, saya suka menggunakan kesempatan berkumpul di malam hari sebagai sarana berbagi pengalaman dan pencerahan. Model inilah yang memudahkan mereka–anak-anak kemping ini– tersedot ke dunia perenungan dan tarbiyah. Sssttt jangan ribut ya. Adalah kesempatan yang luar biasa ketika kita mendapatkan diri kita menyelami pengalaman-pengalaman masa muda dengan berkelana, avonturir atau backpacker kalau anak sekarang mah.

Kemping, seingat saya memberikan banyak pelajaran dan memberikan kesan yang mendalam yang membuat kita lebih mencintai alam (dan tanah air di kemudian hari). Inilah yang membuat saya suka membagi kesenangan dengan mengajak temen-temen ke daerah-daerah bagus ini.

waduk darma jaman baheula

waduk darma jaman baheula

Kita bisa belajar teknik bivak (kalau ga ada tenda, dan biasanya memang begitu), atau ikut mensetting gubug sawah jadi tempat yang nyaman, cara membuat kompor alam atau api unggun, kompor pake kapur tulis dan lilin. Ah menyenangkan sekali, semoga setelah dipengaruhi faktor U ini semangat kemping tidak luntur. Jadi ingat Abah Iwan Abdurrahman. hehehe

Pengalaman hiking dan berangkat ke alam juga saya tularkan ke anak-anak, bahkan Salma si sulung sudah diajak-ajak ke alam sejak masih di gendongan.

salma masih segede uprit

salma masih segede uprit

Mudah-mudahan jadi kenangan terindah ya nak, dan kamu ketika sudah besar bisa manjat Kilimanjaro atau traveling ke daerah-daerah terjauh. Amiin.

Membangun Kuningan

Hari ini, bersama anak kedua saya, Azmi, saya menyengaja untuk ke Kuningan dengan gaya backpacker, lebih menelaahi perjalanannya daripada destinasinya. Saya coba ambil lewat Cirebon karena kendaraan AC yang masih bisa kita temui –jelas karena Cirebon termasuk kota yang berkembang di Jawa Barat. Lewat Cikijing sementara ini kurang menarik, karena moda yang alakadarnya. Hal ini menunjukkan pembangunan Kuningan dari arah Barat kurang tumbuh dengan baik. Dulu, waktu kecil lewat Cikijing kita bisa naik Bus Aman Sejahtera dan Bukit Mulya yang besar-besar, bahkan ada Patas, kini, karena hukum supply dan demand moda Aman Sejahtera mengkerut jadi bis tigaperempat, dan Bukit Mulya lenyap entah kemana.

backpacker azmi

di cirebon

Melihat Cirebon setidaknya menjadi bahan benchmarking untuk melihat harapan seperti apa bentuk Kuningan di masa yang akan datang. Perumahan tumbuh dengan masiv dan sepertinya akan tumbuh menjadi metropolitan bersama/bersambung dengan Kabupaten Cirebon, kontur yang datar mengunyungkan pertumbuhan kota-kota ini. Dari Terminal Hardjamukti, kami naik elf jurusan Kuningan yang jumlahnya satu dua, dengan perjalanan ersendat-sendat karena menunggu penumpang mencapai BEP melewati Gronggong lewat Graha Darusalamnya Pak Fuad :) lewat Beber dan trereeeeng mulai deh suasana Kuningan terasa, nuansa desa, bukan nuansa kemajuan, karena ada juga nuansa desa yang sedang menginjak kemajuan. Untuk bisa menyusuri kotanya saya harus turun di dekat terminal Cirendang lanjut dengan menyicil angkot yang jalurnya pendek-pendek.

Pusat kemajuan ada di alun-alunnya dan secuplik jalan Siliwangi dan sekitar, disini berkumpul Masjid Agung, Taman, Bank , Pasar dll, kemajuan tersedot ke tengahnya. Menjadikan Kuningan sebagai Kota Pariwisata dan supplier pertaian nampaknya akan menjadi pilihan yang tepat, tetapi sarana moda, penerangan, dan prasarana belum terlihat mengarah ke arah sana. Inilah problem Kuningan. Jika tidak dipimpin oleh Bupati yang Visioner akan menjadi begitu-begitu saja. Kuningan ini memiliki modal Kemolekan, masyarakatnya cukup terbuka, otak bisnisnya cukup baik (terlihat pada yang mengembara ke Jogja atau ke Jakarta) — motekar, tinggal bagaimana mengembangkan kemajuan di daerah.

alun-alun

alun-alun

masjid syiarul Islam- masjid Agung Kuningan pusat kota

masjid syiarul Islam- masjid Agung Kuningan pusat kota

pasar Kepuh Kuningan cukup bersih

Membangun Kuningan berarti kita harus memotret kondisi riilnya, mulai dari kondisi geografis, demografis, sosial danlain sebagainya selain juga tetap harus menelusuri bagaimana jejak sejarahnya yang pernah menjadi pusat sebuah kerajaan dan lain-lain untuk meneguhkan karakter budaya daerahnya. Karena jika tidak ditegaskan bagaimana runutan sejarah termasuk bagaimana suasana Islami sebagai pengaruh dari Sunan Gunung Jati di Cirebon maka Kuningan akan menjadi tempat yang terlalu terbuka bagi tamu misalnya bagaimana mungkin Kuningan bisa menerima Paseban Madrais atau Bukit/Goa Maria di Cigugur, darimana sejarahnya? Cenderung mengada-ada.

Latar sejarah ini penting untuk memetakan bagaimana pembangunan berangkat dengan pemahaman yang utuh tentang masyarakat dan budayanya. Darisinilah penetapan Visi dan misi mendapatkan latarnya. Nati dilanjut ya ..

salah satu gang dari pasar Kepuh

salah satu gang dari pasar Kepuh

di Kertawirama

di Kertawirama

Prabu Niskala Wastu Kancana

Nama yang keren untuk ukuran masa lalu dan masa kini. Bagi orang Bandung Wastu Kencana dikenali sebagai jalan raya yang dekat dengan pusat kekuasaan Kantor Pemkot dan Gedung DPRD. Saya yakin –seperti biasa walau tanpa survey — hanya sedikit saja urang Bandung terutama anak-anaknya yang mengerti siapa Wastu Kencana itu. Mereka mungkin akan lebih kenal Hayam Wuruk atau Gajah Mada sebagai raja-raja leluhur.

Pendidikan kita (terutama di Jawa Barat) kurang memperhatikan pengenalan sejarah masa lalunya. Padahal, pemahaman terhadap masa lau akan memperjelas karakter dan konsep diri masyarakat Sunda Khususnya. Warga Jawa Barat harus paham bagaimana perjalanan sejarah sampai mereka menjadi bagian dari NKRI, tidak tiba-tiba merasa bagian dari negara Indonesia. Orang Jawa, menurut saya lebih beruntung, mereka lebih dapat memahami keterikatan dengan masa lalunya, yang kemudian mereka lebih jelas konsep budaya dan kebahasaannya. Bukankah lebih banyak kita temukan anak muda jawa yang berbahasa Jawa dibanding anak Sunda berbahasa Sunda?

Prasasti_Kawali

Prasasti_Kawali

Sedikit dari yang saya ketahui, Kerajaan Sunda pernah dipindahkan ke Kawali sebagai ibukotanya. Raja yang paling terkenalnya adalah Prabu Niskala Wastu Kencana, beliau anaknya Prabu Wangi yang gugur di Bubat. Karena usianya masih 9 tahun ketika ayahandanya wafat, maka tampuk kepemimpinan dipegang oleh Pamanda Bunisora yang memiliki kelebihan dalam hal keluhuran nilai keagamaannya. Bunisora adalah leluhur para agamawan Sunda. Anaknya Bratalegawa merupakan Haji Pertama di Sunda sehingga dikenal dengan Haji Purwa Galuh. Anak keturunannya dikenal sebagai pemegang amanah dakwah dan mendalami agama sebagai penerang masyarakat. Dalam bimbingan Bunisora, Wastu Kancana tumbuh menjadi raja yang bijaksana karena memiliki kebijaksanaan ilmu dan nilai. Ilmu agama menjadi hal penting dan (seharusnya) menjadi ciri khas urang Sunda kan? Sebagian ahli menganggap bahwa Prabu Wastu Kancana inilai yang dikenal dan dikenang sebagai Prabu Silih Wangi– yaitu prabu pengganti Prabu Wangi– yang pantasnya ya digantikan oleh Raja yang setimpal.

Prabu Wastu Kancana menjadi simpul kesejarahan masyarakat Sunda, karenanya harus mendapatkan porsi yang cukup dalam khazanah keilmuan di tingkat dasar sampai menengah. Tidak memfokuskan pada sejarah waktu dan tanggal, tetapi lebih ke nilai-nilai yang dapat menjadi dasar karakter masyarakat Sunda. Sejarah menyebarnya agama Islam yang diawali dari salah satu Raja Sunda bernama Prabu Kian Santang juga harus menjadi bagian dari kesatuannya. Ketika Sang Raja telah memilih Islam maka layak pula kita sebagai keturunan atau penerus rakyatnya memahami latar keIslamannya. Jangan sampai muslim Sunda kehilangan jejak. Merasa telah menjadi sunda kalau mengikuti ajaran Sunda Wiwitan, padahal sejak dahulu, pemahaman ini telah berkesesuaian dengan Islam.

daerah Kawali, Ciamis, Kerajaan Sunda

daerah Kawali, Ciamis, Kerajaan Sunda

Kesalahan utama (atau salah satu dari sekian banyak kesalahan) Pendidikan kita adalah terlalu menggeneralisir termasuk dalam urusan Sejarah. Yang diperkenalkan adalah sejarah Nasional, padahal sejarah nasional mungkin hanya perlu sejak zaman proklamasi saja, sebelum-sebelumnya masing-masing daerah memiliki sejarah kebesarannya sendiri-sendiri. Seperti mirip dengan pemahaman federalisasi, tapi bukankah begitu sejarah bangsa kita yang besar ini? Jangan lupakan bahwa Indonesia bukan hanya Majapahit, tapi tiap daerah memiliki masa lalunya sendiri-sendiri, sehingga kebesarannya akan lebih utuh ketika karakter diambil dari sejarahnya yang hakiki.

Meminjam naskah dari teman-teman blogger yang telah menulis tentang Prabu Wastu Kancana, inilah salah satu cuplikannya:

Wastu Kencana dikenal raja yang adil dan minandita. Didalam Carita Parahyangan Ia sangat dipuji-puji melebihi dari raja manapun, dan ia putra dari Prabu Wangi yang gugur didalam peristiwa bubat. Didalam Naskah Parahyangan di uraikan sebagai berikut :Aya deui putra Prebu, kasohor ngaranna, nya eta Prebu Niskalawastu kancana, nu tilem di Nusalarang gunung Wanakusuma. Lawasna jadi ratu saratus opat taun, lantaran hade ngajalankeun agama, nagara gemah ripah. Sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna  seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata,nurut ka nu ngasuh, Hiang Bunisora,nu hilang di Gegeromas. Batara Guru di Jampang.
Ketika terjadi peristiwa Bubat yang menewaskan Prabu Linggabuana (1357 M) Wastu Kencana baru berusia 9 tahun dan untuk mengisi kekosongan pemerintah Pajajaran di isi oleh pamannya, yakni Sang Bunisora yang bergelar Prabu Batara Guru Pangdiparamarta Jayadewabrata atau sering juga disebut Batara Guru di Jampang atau Kuda Lalean.

Wastu Kencana dibawah asuhan pamannya tekun mendalami agama (Bunisora dikenal juga sebagai satmata, pemilik tingkat batin kelima dalam pendalaman agama). Iapun dididik ketatanegaraan. Kemudian naik tahta pada usia 23 tahun menggantikan Bunisora dengan gelar Mahaprabu Niskala Wastu Kencana atau Praburesi Buanatunggaldewata. Dalam naskah selanjutnya disebut juga Prabu Linggawastu putra Prabu Linggahiyang.

Menurut sumber sejarah Jawa Barat, Wastu Kencana memerintah selama 103 tahun lebih 6 bulan dan 15 hari. Dalam Carita Parahyangan disebutkan: Lawasna jadi ratu saratus opat taun, lantaran hade ngajalankeun agama, nagara gemah ripah.

Ketika jaman kekuasaanya Wastu Kencana menyaksikan dan mengalami beberapa peristiwa (1) menyaksikan Kerajaan Majapahit dilanda perang paregreg – perebutan tahta (1453 – 1456), selama peristiwa tersebut Majapahit tidak mempunyai raja, namun Wastu Kencana tak terpikat untuk membalas dendam peristiwa Bubat, karena ia lebih memilih pemerintahannya yang tentram dan damai. Ia pun rajin beribadat. (2) Kedatangan Laksamana Cheng H0 dan Ulama Islam yang kemudian mendirikan Pesantren di Karawang.

Tanda keberadaan Wastu Kencana terdapat pada dua buah prasasti batu di Astana Gede. Prasati yang kedua dikenal dengan sebuat Wangsit (wasiat) Prabu Raja Wastu kepada para penerusnya tentang Tuntutan untuk membiasakan diri berbuat kebajikan (pakena gawe rahayu) dan membiasakan diri berbuat kesejahteraan yang sejati (pakena kereta bener) yang merupakan sumber kejayaan dan kesentausaan negara.

Tulisan ini saya copas dari Sejarah jawa Barat – Cuplikan Wasiat Wastu Kencana dari naskah Sanghyang siksakanda (Koropak 630), sbb :

Teguhkeun, pageuhkeun sahinga ning tuhu, pepet byakta warta manah, mana kreta na bwana, mana hayu ikang jagat kena twah ning janma kapahayu.
Kitu keh, sang pandita pageuh kapanditaanna, kreta ;
sang wiku pageuh di kawikuanna, kreta ;
sang ameng pageuh di kaamenganna, kreta ;
sang wasi pageuh dikawalkaanna, kreta ;
sang wong tani pageuh di katanianna, kreta ;
sang euwah pageuh di kaeuwahanna, kreta ;
sang gusti pageuh di kagustianna, kreta ;
sang mantri pageuh di kamantrianna, kreta ;
sang masang pageuh di kamasanganna, kreta ;
sang tarahan pageuh di katarahanna, kreta ;
sang disi pageuh di kadisianna, kreta ;
sang rama pageuh di karamaanna, kreta ;
sang prebu pageuh di kaprebuanna, kreta.
Ngun sang pandita kalawan sang dewarata pageuh ngretakeun ing bwana, nya mana kreta lor kidul wetan sakasangga dening pretiwi sakakurung dening akasa, pahi manghurip ikang sarwo janma kabeh.

(Teguhan, kukuhkan batas-batas kebenaran, penuhi kenyataan niat baik dalam jiwa, maka akan sejahteralah dunia, maka akan sentosalah jagat ini sebab perbuatan manusia yang penuh kebajikan).

Demikianlah hendaknya. Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejahtera. Bila wiku teguh dalam tugasnya sebagai wiku, akan sejahtera. Bila manguyu teguh dalam tugasnya sebagai ahli gamelan, akan sejahtera. Bila paliken teguh dalam tugasnya sebagai ahli seni rupa, akan sejahtera. Bila ameng teguh dalam tugasnya sebagai pelayan biara, akan sejahtera. Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejahtera. Bila wasi teguh dalam tugasnya sebagai santi, akan sejahtera. Bila ebon teguh dalam tugasnya sebagai biarawati, akan sejahtera. Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejakhtera. Demikian pula bila walka teguh dalam tugasnya sebagai pertapa yang berpakaian kulit kayu, akan sejahtera. Bila petani teguh dalam tugasnya sebagai petani, akan sejahtera. Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejahtera. Bila euwah teguh dalam tugasnya sebagai penunggu ladang, akan sejahtera. Bila gusti teguh dalam tugasnya sebagai pemilik tanah, akan sejahtera. Bila menteri teguh dalam tugasnya sebagai menteri, akan sejahtera. Bila masang teguh dalam tugasnya sebagai pemasang jerat, akan sejaktera. Bila bujangga teguh dalam tugasnya sebagai ahli pustaka, akan sejahtera. Bila tarahan teguh dalam tugasnya sebagai penambang penyebrangan, akan sejahtera. Bila disi teguh dalam tugasnya sebagai ahli obat dan tukang peramal, akan sejahtera. Bila rama teguh dalam tugasnya sebagai pengasuh rakyat, akan sejahtera. Bila raja (prabu) teguh dalam tugasnya sebagai raja, akan sejahtera.

Demikian seharusnya pendeta dan raja harus teguh membina kesejahteraan didunia, maka akan sejahteralah di utara barat dan timur, diseluruh hamparan bumi dan seluruh naungan langit, sempurnalah kehidupan seluruh umat manusia).

Wasiat ini mengandung pula konsep tentang bagaimana manusia harus focus dan professional dibidang keahliannya. Lebih maju dari praktek kenegaraan sekarang. Saat ini banyak bukan negarawan mengurusi masalah Negara. Para ahli agama banyak yang terjun jadi politikus, banyak politikus jadi pedagang, banyak kaum pedagang jadi penentu kebijakan Negara. Semuanya menyebabkan kerancuan dan menjauhkan bangsa dari kesentosaan. Walaupun nuansa nasihat diatas bernuansa Hindu-Budha –karena begitulah agama yang dianut pada saat itu, tapi jika kita berlanjut pada fase selanjutnya maka kita akan melihat nilai-nilai pokok keSunda-an banyak yang menjadi latar kesejarahan kita sebagai manusia.

Mungkin kita perlu renungkan kembali tentang nilai-nilai luhur, melalui Wasiat dari Galunggung, leluhur raja-raja Galuh :

Hana nguni hana mangke –
Tan hana nguni tan hana mangke -
Aya ma baheula hanteu teu ayeuna -
Henteu ma baheula henteu teu ayeuna -
Hana tunggak hana watang -
Hana ma tunggulna aya tu catangna.

(ada dahulu ada sekarang, karena ada masa silam maka ada masa kini. Bila tidak ada masa silam maka tiada masa kini. Ada tonggak tentu ada batang. Bila tak ada tonggak tentu tidak ada batang. Bila ada tunggulnya tentu ada catangnya).

Saya pikir pesan itu sangat jelas, bahwa masa kini merupakan akumulasi dari masa lalu, tidak akan ada masa kini kalau tidak ada masa lalu. Dengan demikian jika dikatikan dengan masalah perkumbuhan bangsa dapat ditarik benang merahnya, bahwa sejarah suatu bangsa tidak akan selalu sama dengan bangsa lainnya. Dan dari kesejarahannya masing-masing dapat ditarik dan dijadikan cermin tentang nilai-nilai mana yang cocok dan sangat tepat.

Marilah kita bertindak profesional dan menyerahkan suatu persoalan kepada ahlinya masing-masing. Masalah agama bertanyalah kepada ahli agama – masalah perniagaan bertanyalah kepada ahli niaga – masalah kenegaraan bertanyaan kepada negarawan. Jangan ahli agama turut campur memaksakan kehendaknya untuk mengurus Negara – tukang dagang ikut-ikutan ngurusin Negara, karena semua itu bukan bidangnya.

Demikian seharusnya ahli agama dan raja harus teguh membina kesejahteraan didunia, maka akan sejahteralah di utara barat dan timur, diseluruh hamparan bumi dan seluruh naungan langit, sempurnalah kehidupan seluruh umat manusia.

Desa Bersahaja

Gapura Keluar dari Desa Kertawirama

Gapura Keluar dari Desa Kertawirama

Desa yang bersahaja, itulah kesan yang selalu melekat tentang desa tempat kelahiranku ini, “asa wararaas”  ketika melakukan googling dan mata kepentok dengan foto tempat yang telah menjadi jalan terlahirnya saya ke dunia. Ya, setelah puluhan tahun meninggalkan desa kelahiran dan hanya sekali-kali saja kembali untuk bersilaturahim yang saya perhatikan hanyalah suasana yang tetap bertahan begitu lama. Masyarakatnya, memang ada yang bermobil sekarang, tapi saya yakin itu tidak didapatkan dari tanahnya, tapi mungkin karena hasil usaha di perantauan atau berdagang di lain daerah.  Desa bersahaja ini, kendati subur makmur belum memberikan hasil tani yang bisa meningkatkan perekonomian, mungkin belum dikelola secara baik.

Saya menemukan penduduknya lebih memilih menjadi PNS Guru, mengembara ke Jakarta (atau ke Jawa) entah dikemanakan lahan tanahnya sehingga angka buruh tani kini semakin meningkat. Tanah subur ini tidak memberikan kemakmuran. Tengok saja salah satu potensi pariwisatanya, Curug Bangkong, belum pernah dipromosikan secara baik. Hingga kini, hampir tidak ada wisatawan yang sengaja menjadikannya tujuan selain karena kebetulan. Saya yang lahir disana saja, perasaan baru 2 atau 3 kali kesana, walaupun sejuk, tapi terlalu sepi untuk bisa bertahan lebih dari 1 jam, atau karena tidak ada sarana penunjang disini.

curug bangkong

curug bangkong

Curug Bangkong terlalu sepi untuk dijadikan objek, sebaliknya juga terlalu riskan buka warung di objek yang sekali dua saja dikunjungi orang. Posisinya memang tersembunyi, wong Waduk Darma yang terbuka saja tetap sepi pengunjung.  Bagaimanapun, Desaku memang bersahaja, perlu sentuhan tangan-tangan kreatif untuk menjadikannya menarik. Sayalah itu? Pernah terpikir untuk secara rutin mengunjunginya dan memberikan “sentuhan aktivis” kepadanya. Tapi kesibukan perkotaan belum memungkinkanku melaksanakannya sekarang.

Syukur, kebersahajaan desa itu juga berarti masyarakatnya yang masih murni, tanpa prasangka, dan siap menerima sentuhan dari siapa saja, sentuhan perubahan. Gunung Ebun yang dingin (saya hanya mengenalnya sebagai pekuburan yang ditandai kalong yang bergelantungan) hampir tak tersentuh perubahan. Padahal potensi air dan tanahnya luar biasa hebat untuk bercocok tanam, dan beternak. Yang dibutuhkan adalah jalan-jalan atau gang yang menghubungkan titik-titik tersebut. Tidak mudah, karena itu berarti pekerjaan cut and fill jalan-jalan setapak yang berkelok-kelok dan naik turun. Tapi itu pilihan yang harus diambil. PNPM sudahkah masuk ke desaku?

Blog ini adalah langkah awalku untuk membuat perubahan. Ada pola berpikir yang harus diubah, ada sarana prasarana yang harus disiapkan, ada masyarakat yang harus ditingkatkan penghasilannya, harus ditingkatkan daya juangnya. Ada tokoh-tokoh yang harus dipacu jiwa revolusionernya, jiwa kerja keras.

Desaku yang amat kucintai, harus diselamatkan setiap jengkal tanahnya agar menjadi lahan-lahan produktif. Ditanami dengan pelbagai bibit, pohon jati, rasamala, alba atau bahkan buah-buahan. Dibuat kandang-kandang untuk ternak yang produktif, kolam-kolam ikan yang menyuplai kebutuhan pangan Cirebon atau Bandung. Bismillah, ide ini harus diwujudkan.

SEA Games penuh kecurangan?

SEA Games baru saja berlalu, Indonesia menjadi juara umum, semua mafhum itu karena kita jadi tuan rumah. Bukan menyepelekan, tapi menjadi tuan rumah memang memberi banyak peluang. Dari yang positif sampai yang negatif. Jadi tuan rumah menyebabkan kita memiliki keunggulan karena sangat mengenal venue dan lapangan. Tidak ada kendalan apa-apa. Tapi, karena venue untuk Sea Games selesai beberapa hari sebelum sukan digelar, maka kelebihan itu tidak kesampaian. Yang ada, adalah pertanyaan .. adakah kemungkinan yang lain?

Oke mungkin karena atlet kita memang berbakat, tapi menjadi juara dengan jarak perolehan emas segitu banyak? Oke di Thailand aja ketika dia jadi tuan rumah sekaligus jadi juara juga ada keberuntungan dibuat-buat untuk tuan rumah. Tapi? apa kita harus ngikutin?

Kenapa saya curiga ada kecurangan? sebagai warga negara, saya hafal watak sebagian warga kita terutama pemimpinnya. Demi kebanggan, seorang menteri dan model pejabat lain sanggup berbuat nista agar dimuka kelihatan bagus. Ini tidak bisa ditutupi, mental sebagian kita memang begitu, maen dukun biar menang. Nyogok wasit, mempersulit lawan dan lain-lain adalah wajah keseharian kita. Bahkan kalau anda liat You tube tentang naifnya pesilat kita yang lari-lari ketakutan ketika di laga .. maka yang kita dapat simpulkan adalah .. sungguh memalukan.

Tidaklah penting kebanggan yang dibangun dari kepalsuan. Kita harus membangun budaya sportivitas — yang seharusnya dibangun dari kegiatan olah raga. Janganlah olah raga dicelupi kepentingan-keentingan politik sesaat. Demi kebanggan saat kampanye, maka amankan juara umum apapun caranya. Yang penting citra!! pas banget dengan presidennya yang suka bersolek. Yang penting citra. whew!!

 

Komodo masuk seven wonders?

7 wonders

7 wonders

Sekarang lagi rame mempromosikan Komodo masuk World’s Seven Wonders tidak tanggung-tanggung mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi duta mengerahkan dukungan Komodo menjadi salah satu keajaiban dunia. Seberapa penting sih Komodo dimasukkan daftar tersebut? tentu saja ada manfaatnya setidaknya sebagai ikon promosi pariwisata, keunikan ini menyebabkan orang penasaran berwisata ke Pulau Komodo kan? Yaa ga ada salahnya sih menjadikan salah satu keunikan sebagai peningkat nilai jual. Tapi kenapa saya terdengar sinis ya?

Ditengah Pemerintah yang dikritik habis-habisan yang tidak punya strategi dalam menjaga dan mempertahankan pulau-pulau miliknya, terutama pulau terluar maka kampanye Komodo jelas menimbulkan kesinisan. Betapa terjadi pilih kasih, rupanya Pemerintah kita baru ngeh dan bereaksi kalo sesuatu sudah jadi masalah atau mendapatkan manfaat dari isu tersebut. Menerima dulu baru memberi, manajemen negara yang tidak punya konsep.

Memang penting menjadikan salah satu kekhasan menjadi sesuatu yang dikenang dan dikenal, jangan lupa juga menyiapkan sarana dan prasarana agar promo ini tidak menjadi sia-sia. Menjadikan Pulau Komodo menjadi barang mahal semacam  Bali membuat ironi, yang berkunjung banyak-banyak kesana kan turis asing selain wisatawan lokal. Konon ketika puncak musim liburan, lebih banyak terdengan suara-suara bahasa Australian daripada bahasa yang lainnya.

Harus diperhatikan dan ditunjukkan juga perhatian kita dalam menjaga habitat Komodo, jangan hanya dipromosikan tetapi kita sendiri tidak menjaga aset-aset tersebut. Kan sayang, kalau Komodo menjadi simbol yang diperjuangkan sekarang sementara hal tersebut tidak berlangsung lama. Seperti biasa kita suka lalai. Hhhh .. positif ..positif .. saya berusaha positif untuk hal ini, harus ada semacam LSM Swasta yang melaksanakan aktivitas konservasi Komodo. mempertahankannya sehingga anak cucu kita masih bisa melihat dan menikmatinya, ada sebuah keajaiban purba di salah satu pulau negaranya.

Desa Setara

Jumlah desa di seluruh Indonesia pastinya lebih banyak daripada kota. Karena secara demografis, kota adalah desa yang berkembang baik jumlah penduduknya, kerapatan penduduknya, sampai pendapatan per kapitanya (yang terakhir ini harus ditelaah apa memang betul seperti itu). Secara sadar ataupun tidak, kita sering mengidentikkan keculunan, ketertinggalan dengan desa. Dia orangnya Ndeso .. dengan tujuan mengatakan bahwa dia banyak ketinggalan, dusun. Padahal disisi lain Desa menyimpan keasrian dan keaslian yang kondisi ini merupakan kondisi yang dimiliki oleh kota-kota kecil di Barat sana. Di Eropa atau Amerika Serikat, kota-kota kecil hanya berpenduduk ribuan saja, tidak bising bahkan boleh jadi warga kota akan saling mengenal karena kecilnya. Hijau dan tidak bising.

Jika pembangunan diarahkan menuju westernisasi (diakui atau tidak) maka seharusnya pola yang baik-baik ini harus ikut diadopsi. Manajemen serapi kota, ada dewan kota sebagai lembaga legislasi, pembangunan terencana dan akses informasi yang tidak kedodoran, maka dia akan mewujud menjadi tempat tinggal yang menyenangkan.

desa cisalak subang

desa cisalak subang

Sebagai contoh kasus saya ambil profil sebuah desa yang pernah saya kunjungi, Desa Cisalak Kabupaten Subang. Sebuah desa bisa dikembangkan menjadi wilayah yang tidak ditinggalkan oleh SDMnya, terbengkalai tanpa arah dengan menyiapkan sebuah visi pembangunan yang jelas, pemimpin yang kuat (strong leadership), masyarakat yang kompak akan membawa pada sebuah desa yang maju. Kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa anak-anak desa tertarik pergei ke kota? karena mereka mengharapkan kemajuan dalam sisi pendidikan dan kesejahteraan. Maka logika nya jika kita siapkan sebuah peradaban di desa yang dapat menjangkau harapan-harapan warganya, proses Urbanisasi akan minim.

Secara infrastruktur desa harus dikembangkan sehingga memiliki:

  • Akses jalan yang baik — sehingga arus distribusi produksi desa akan menjadi lancar
  • Pasar — sebagai ikon pertumbuhan ekonomi, selayaknya memberikan pelayanan terhadap seluruh kebutuhan warga.
  • Sekolah — minimal sampai jenjang SMA — dengan kualitas yang baik– agar  layanan pendidikan sampai tingkat menengah atas cukup dipenuhi di desa saja
  • Akses Informasi — media massa harus sampai ke desa, terutama akses internet (yang sehat) agar tidak ada kesenjangan informasi antara masyarakat desa dengan masyarakat kota.

Persyaratan-persyaratan ini jika dipenuhi akan membawa desa menjadi partner setara kota, pembangunan akan berjalan secara berimbang. Ketimpangan antara kota dan desa, Jakarta dengan kota-kota lain, Jawa dengan pulau yang lain, daerah yang dekat dengan pusat kota atau daerah perbatasan akan berlomba menjadi mitra yang sejajar.

Cisalak, sebuah desa di Kabupaten Subang termasuk diantara desa yang memiliki modal menuju desa setara. Sebuah desa yang memiliki kondisi geografis mendukung untuk dikembangkan bisnis agro dengan pembaikan disana sini. Desa ini hanya 1,5 jam dijangkau dengan kendaraan dari kota Bandung. Jika kita naik kendaraan umum dari terminal Ledeng Bandung ke Subang kita akan dihantarkan sampai jalan Cagak yang merupakan persimpangan arah ke Subang kota dengan perkebunan teh. Cisalak cukup terkenal karena menjadi tempat produksi air Aqua — seharusnya bahkan CSR bisa didapatkan  desa Cisalak dari perusahaan besar ini.

Begitulah dengan rancangan diatas, sebuah desa akan tumbuh menjadi lebih baik, khusus tentang Desa Cisalaknya kita bahas lain kali ya.