Menuliskan Mimpi

Hari ini jam 22.00 menjelang pergantian tahun 2010,…

Tahun 2010 adalah tahun yang seharusnya khusus karena pada tahun ini aku mendeklarasikan sebagai tahun tinggal landas pada visi yang telah ditetapkan. Suatu hari di wisma ‘semar’ di lembang, ketika itu ngasih pelatihan untuk guru-guru Cipasung (heh..kepedean..dianggap hebat oleh guru-guru daerah)..

Waktu itu saya menyampaikan visi 2010 saya, bahwa ditahun 2010 I will be something! Semua melihat…apakah saya berhasil?

Ya dalam penanggalan miladiyah, kurang lebih dua jam lagi kita memasuki tahun 2010, seharusnya dalam catatan visi saya sudah mencapai target. Tunggu dulu..target apa? Target apa yang sudah ditetapkan untuk dicapai di tahun 2010? Ups ternyata disinilah kesalahannya, saya menetapkan visi 2010 tetapi tidak menentukan hal-hal apa saja yang harus dicapai, mungkin ada satu dua yang ditetapkan, tapi itu sekilas-sekilas dan belum pernah dituliskan. Ya..menuliskan visi atau impian kita adalah sesuatu yang mutlak perlunya.

Jika rencana adalah apa yang akan dicapai dan kemampuan kita memungkinkan hal tersebut tercapai, maka mimpi adalah kenyataan yang ingin kita wujudkan dan kemampuan kita belum memadai untuk menggapai mimpi tersebut. Sehingga, mimpi-mimpi itu harus diurai dengan rencana-rencana jangka pendek dan penyesuaian dengan kemampuan yang selalu ditambah. Kemampuan harus selalu ditingkatkan agar kita cukup sepadan dengan mimpi-mimpi yang dicanangkan.

pernyataan misi

pernyataan misi, dulu...

Inilah kesalahan yang telah dibuat dalam visi 2010 saya, tidak diurai dalam sebuah catatan-catatan jangka pendek. Saya pikir, saya lebih baik  daripada kondisi ketika mencanangkan visi, tapi apakah saya telah sebaik yang seharusnya? Atau hanya menjadi rata-rata saja?

Maka tak pernah terlambat, kita dapat tetap memperbaharui mimpi, tidak menurunkannya tetapi mencatatkan dan mengurai dalam rencana-rencana tercatat yang lebih terperinci. Semacam program kerja. Nah, setelah ada semacam raker yang menetapkan langkah-langkah kerja tersebut maka kita layak untuk menyatakan kita telah punya mimpi dan sekarang sedang berjuang untuk menggapainya.

Saya belajar bahwa menyadari ada pada kondisi apa kita hari ini menjadi modal untuk memutuskan langkah apa yang kita ambil nanti. Kita tidak usah berpura-pura tidak tahu atau tidak menyadari kondisi diri..be your self—lantas jalankan rencananya.

Sudah 25 menit berlalu—saya harus belajar mempercepat kemampuan mengetik—lebih dekat dengan penggantian tahun. Istriku sedang menyetrika sekarang, sementara di jalanan terdengar sayup-sayup suara terompet. Entah apa yang mereka rayakan. Selain saya yakin bahwa itu adalah budaya jahiliyah…meniup-niup terompet untuk menyambut kedatangan saat pergantian tahun..maaf…ini tindakan yang cukup bodoh.

Barangkali ada diantara mereka yang memang tinggal menikmati hidup tahun ini dan bisa ‘ongkang-ongkang’ di tahun depan.  Tapi kebanyakannya? Hanya terbawa arus zaman.

Kalau anda membaca ini mungkin terkesan judgement yang terlalu menyederhanakan. Tapi bukankah bahwa setiap waktu yang berlalu harus memiliki suatu arti?

Dalam tafakur, kita dapat dengan pasti menyatakan bahwa kita memiliki misi yang maha penting yakni mencapai akhir hidup yang sukses. Jangan sampai masuk neraka, faman zuhziha anin naar wayudkhilil jannata faqod faaza (maka siapa yang dibebaskan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka dialah orang yang sungguh beruntung).  Kemarin hari rabu jam 18.45 Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) seorang ulama –yang cukup controversial—yang memiliki banyak pengikut wafat di RSCM karena komplikasi penyakit. Ribuan orang bersedih dengan kepergiannya; santri-santri tebu ireng, warga NU, para bhiksu, penganut kong hu cu, bahkan mang Maman (pamannya istri) ikut mengibarkan bendera setengah tiang—hal yang tidak dilakukannya ketika sang istri meninggal.

Ribuan orang merasa bersedih, paling tidak sebagai tanda bahwa hidupnya berharga. Lalu bagaimana dengan kondisi kita ketika sang maut menjemput?

Ini sebuah pertanda penting bahwa dalam mimpi-mimpi atau visi yang kita canangkan, urusan penyelamatan akhirat harus menjadi bagian yang inheren dalam tulisan-tulisan visi kita. Ada beberapa catatan penting:

  1. Bahagia-menderita di negeri akhirat (setelah kita meninggal) adalah bahagia-menderita yang terakhir dan tak berujung. Tidak bisa direvisi sebagaimana mimpi-mimpi kita di dunia. Maka mutlak pertimbangan akhirat harus menjadi bagian dari rencana-rencana kita. Menjadi pribadi yang beriman dan beramal sholeh menjadi keniscayaan bukan? Kecuali anda tidak percaya hari Kiamat.
  2. Setelah itu, kita harus merumuskan apa kebahagian itu sesungguhnya. Inilah yang sebenarnya yang semua orang cari, kesenangan atau kebahagiaan dengan berbagai defisi oleh setiap orang. Sayangnya kebahagiaan yang hakiki hanya sedikit orang yang memahaminya. Orang-orang memberikan pengertiannya masing-masing. Hedonisme lahir karena orang-orang memahami kebahagiaan dengan mengikuti keinginan nafsu. Benar, nafsu kita menikmatinya tapi apakah kebahagiaan yang kita dapatkan abadi? Banyak yang menyesal di akhirnya. Hampir semua orang memimpikan menjadi kayak arena inilah hal yang dianggap membahagiakan. Disinilah kita perlu mendiskusikan secara tuntas tentang bahagia agar kita tidak salah ambil langkah, mengejar hal yang sesungguhnya bukan tujuan kita. (sayangnya kita tidak akan membahas hal tersebut disini). Seharusnya kebahagian yang dimaksud adalah kebahagiaan paling akhir.
  3. Setelah semuanya jelas, maka susunlah rencana-rencananya. Dan jangan lupa untuk senantiasa mengembangkan diri agar kita sepadan dengan target yang kita kejar
  4. Tuliskan, sejelas-jelasnya, sevisual-visualnya.

Hidup memang lebih berarti jika kita memiliki agenda-agenda yang jelas. Bergerak dengan jelas. Agenda memberikan suasana keterarahan (demikian saya dengar pertama kali dari ceramah ustadz Anis Matta). Suasana terarah dan bervisi itu nikmat. Fa aina tadzhabuun?

Iwan Hermawan

31 Desember 2009

23.05

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s