Daily Archives: February 8, 2010

Cipatujah

laut cipatujah

laut cipatujah

Selasa-Rabu 2 februari adalah kali ketiga saya berkunjung ke Cipatujah dalam rangka survey Nature Research, totalnya sih 6 kali, di tahun 2000,2006 dan sekarang 2010. Tiga kali kesana, tiga kali juga berganti jagawana di konservasi penyu. Almarhum Pak Hobir, Pak Dedi dan sekarang Pak Fulan…(belum sempet tanya namanya)

Kalau kita rutin datang ke suatu tempat dengan durasi tertentu maka ketauanlah betapa terstrukturnya kerusakan biota pantai kita, atas nama pembangunan dan ekonomi. Pantai Cipatujah (tepatnya sindangkerta) dulu masih memiliki biota yang bagus, masih sempat lihat anemon laut di pantai yang terendam air, jangan ditanya biota yang lain..masih lengkap..rumput lautnya masih terhampar hijau menutupi karang.

Tapi sekarang? biota tersisa cuma bintang ular (yang merupakan tanda bahwa karang sudah rusak) bahkan bagian istimewa tempat ini yakni penangkaran penyu sekarang jadi terbengkalai. Baik tempat penangkarannya atau perhatian terhadap penyunya…memprihatinkan..

Waktu musim bertelur..telur-telur hewan langka ini malah dijadikan bancakan jagawana dan warga dengan alasan ‘jatah predator’ (ya kita predatornya). Apa tindakan kita untuk membangkitkan kembali konservasi pantai laut selatan? Jangan sampai anak cucu kita tidak pernah tahu wajah dan bentuk tukik dan penyu hijau

tukik tersisa

nasib mengenaskan sang hewan purba

“Hadirin, mari kita pikirkan masa depan alam ini, jangan sekali-kali merusak tumbuhan atau hewan tanpa keperluan” karena itu ada hubungannya dengan masa depan wawasan anak-anak kita. mari jaga bumi!

<cipatujah, 2 Feb wisma pemda>

Advertisements

Kali Code

Saya perkirakan cukup banyak orang yang mengenal istilah kalicode, ya benar dia adalah cerita tentang sebuah kampung kumuh (hanya satu RW) yang akan digusur karena akan diubah menjadi hutan kota. Pemerintah kota melihat inilah cara untuk menciptakan ruang terbuka hijau di perkotaan sekalian menggusur wajah kemiskinan yang ‘mengganggu’ wajah pariwisata Yogyakarta.

Singkat cerita, penggusuran dibatalkan karena pihak desa atas prakarsa Romo mangun bergotong royong menyulap desa di bantasan kali code menjadi sebuah kampung sederhana yang tertata rapi dan nyeni…

Selain indah, ternyata keindahan juga ditunjukkan oleh karakter warga yang membaik, menjadi lebih disiplin, bersih dan suasana keakraban yang menggugah. Kesederhanaan tersebut malah menjadi objek wisata dan referensi arsitektural yang menarik.

Inspirasi ini barangkali juga dapat ditularkan di kota-kota kumuh atau desa-desa kumuh di desa-desa. Sentuhan kebudayaan dan seni (sebagai bagian didalamnya) akan membuat keadaan menjadi semakin baik. Kearifan lokal itu indah, perhatikan saja Kampung Naga daerah Salawu Tasikmalaya. Sederhana tapi indah…..

Bukankah wajah daerah kumuh di kota Bandung juga bisa di kalicode kan? Perlu terobosan dari pemerintah kota/kabupaten ketika mereka mau mengembangkan pembangunan. Penataan tidak harus berarti menggusur yang miskin bukan?

<bandung,8feb2010>