Muhammad Yunus: Inspirasi membela kaum miskin

Jum’at,12 Feb 2010

Hari-hari terakhir ini saya sedang semangat menelaah sebuah buku tentang pemberdayaan kaum miskin. Suatu kaum marjinal yang sering menjadi sasaran dari proyek pengayaan bagi beberapa LSM (maksudnya meng’kaya’kan pengurus LSMnya). Sementara itu, pemberdayaan yang terjadi belum tentu menyentuh hal yang dibutuhkan si papa. Buku yang sedang saya baca berjudul “Bank Kaum Miskin: Kisah Yunus dan Grameen Bank memerangi kemiskinan”.

kaum perempuan yang diberdayakan

muhamad yunus

Menelaah perjalanan Yunus menyelamatkan masyarakat miskin dengan konsep bank-nya mengingatkan saya pada kondisi yang telah terjadi di Indonesia, berbagai program telah digulirkan tetapi tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Apa masalah yang terjadi? Tentu saya ditengah kekacauan ini–terutama program-program dari pemerintah–ada juga program yang cukup berhasil digulirkan oleh pihak swasta, lembaga-lembaga ini berhasil menghidupkan kembali napas kaum miskin di kota atau desa. Besarnya kaum miskin di Indonesia (bahkan kondisi ekonomi menyebabkan angkanya semakin besar) menyebabkan program pemberdayaan ini harus didorong dengan masif. Nampaknya duplikasi terhadap cara yang dilakukan oleh Yunus dapat dilakukan dengan sedikit modifikasi karena kita memiliki budaya yang agak berbeda. Di buku tersebut Yunus menunjukkan bahwa sedikit uang dollar dapat menjadi seperti ‘sayap’ untuk kaum marjinal agar bisa terbang.

Yunus adalah seorang ahli ekonomi, tapi ketika memulai Grameen, beliau tidak tahu menahu cara menjalankan bank untuk kaum miskin. Yunus belajar dari bank-bank konvensional dan koperasi kredit bahwa menyisihkan sejumlah besar uang tunai saat pinjaman jatuh tempo seringkali dirasa sulit secara psikologis oleh peminjam. Sebisa mungkin mereka mencoba menunda pembayaran, yang makin lama makin membengkak. Yunus mencoba cara berlawanan, mekanisme pembayaran di grameen bank adalah sebagai berikut:

  • masa pinjaman satu tahun
  • cicilan dibayar setiap minggu
  • pembayaran cicilan dimulai satu minggu setelah pinjaman dikucurkan
  • tingkat suku bunga 20%
  • besarnya cicilan sebesar 2% dari total pinjaman perminggu selama 50 minggu
  • pembayaran bunga sebesar 2 taka per minggu untuk pinjaman sebesar 1000 taka

cara penyicilan yang sederhana ini membuat nasabah mampu berkomitmen terhadap pembayarannya. Nasabah Yunus kebanyakan adalah kaum perempuan yang merupakan kaum termarjinalkan, terutama di negara berkembang atau miskin yang sekaligus juga merupakan korban domestikasi rumah tangga. Mereka adalah pekerja keras yang sangat kecil aksesnya terhadap ekonomi. Membuka kran perekonomian melalui Bank kaum Miskin akan sangat membantu perekonomian secara umum.

bank kaum miskin: buku sederhana yang menggugah

cover bukunya

Masyarakat miskin tidak perlu dana besar, cukup dengan uang Rp 200 ribu mereka dapat memulai sebuah usaha rumah tangga yang dalam jangka waktu tertentu mampu mengangkat perekonomian rumah tangga. Buku ini sungguh menginspirasi saya untuk melakukan langkah serupa Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s