Daily Archives: February 19, 2010

Mengenang Kakekku (alm)

Teringat kepuluhan tahun yang lalu, kakek dari ibuku di Kuningan, nama beliau KH Shobaruddin, beliau meninggal tahun 1992 waktu itu saya masih kuliah. Kakekku adalah sosok yang teguh, lucu begitu berwibawa dihadapan cucu-cucunya, termasuk saya. Bisa dihitung jari, berapa kali saya secara khusus mengobrol.

Masa yang paling terkenang adalah ketika saya masih berumur 10 tahunan, kakekku menggendongku di punggungnya menuju sawah garapan beliau.

pesawahan

pesawahan

Asyik, inilah saat-saat kecintaanku terhadap tanah kelahiran ditanamkan. Betapa bangganya aku dengan kenyataan bahwa aku lehir dan sempat besar disana sebelum hijrah ke Bandung.

Kakekku asli lulusan pesantren, di kamar dan di ‘para’ banyak ditemukan kitab-kitab dari yang tipis sampai kitab besar-besar, nampaknya kakekku seorang yang doyan baca. Beliau berharap kalau anak cucunya ada yang meneruskan menjadi kyai, makanya beliau sungguh bangga dengan bapakku yang lulusan pesantren Gunung Puyuh itu, sebuah pesantren legendaris binaan KH Ahmad Sanusi PUI.

Alhamdulillah selalu saja ada anak keturunannnya yang berminat nyantri, sehingga keluarga besarnya dikenal sebagai keluarga santri.

saung

saung

Terkenang saat-saat menjelang zuhur mengantar nenekku menghantarkan makan siang untuk kakekku dan pekerja lain ke saung di tengah sawah. Saya ingat salah satunya yang punya pemandangan bagus yaitu daerah Cinangsi. Waah sungguh kenangan yang menyejukkan bersama kakek dan nenekku almarhum. Ya Allah…masukkan mereka dalam kebahagiannya surgamu..se hobbi mereka pada kebun-kebun yang rindang.

Advertisements

“NU harus bentuk pengurus di Masjid”

Jum’at, 19 Feb 2010

Harian Republika hari ini menurunkan tulisan tentang usul Mashdar F. Mash’udi (kandidat Ketua PBNU) bahwa “kalau membangun NU menjadi kuat, NU harus membangun kepengurusan , tidak hanya di wilayah dan cabang, tapi juga di masjid.” Pikiran ini sampai disini memang biasa-biasa saja, tetapi kelanjutannya dia mengatakan,”Jadi nanti ada masjid NU, masjid Muhamadiyah dan masjid Persis, umat Islam satu itu hanya fatamorgana….”

Alih-alih menyerukan agar terjadi persatuan umat dengan menghilangkan masjid label, mashdar malah mengusulkan labelisasi masjid menjadi lebih rigid. Ini merupakan pemikiran yang menghawatirkan dari ulama-ulama kita. Mereka tidak berusaha menjadi pengayom seluruh umat tetapi malah menjadi pengobar primordialisme. Pemikiran ini mungkin diawali oleh kekhawatiran semakin menyusutnya aktivis NU di masjid-masjid, anak-anak muda NU lebih suka nangkring di lembaga-lembaga pemikiran bebas dan kampus yang dianggap tidak mengkerangkeng pemikiran bahkan cenderung membebaskan dari kurungan akhlak dan etika. Sebagai tipikal NU mereka membatasi umat dengan pagar-pagar ASWAJA. Seakan orang-orang yang berbeda maka mereka adalah umat diluar pagar.

NU

NU

Harapan agar umat ini menjadi ummatan waahidah nampaknya akan jauh panggang dari api, kecuali apabila kekuatan-kekuatan bijak di tubuh NU akan lebih mengemuka. Agenda NU ke depan bukanlah membuat barrier-barrier agar umat terbebas dari pengaruh luar, tetapi agenda utamanya adalah bagaimana cara supaya umat NU menjadi semakin tercerahkan sehingga akan membawa dampak pada peningkatan kesejahteraan karena ilmu dan pendidikannya yang se3makin meningkat. Allohu A’lam.