Monthly Archives: March 2010

Kwik Kian Gie

Kemarin, 21 Maret di acara Tatap Muka Farhan menyajikan perbincangan dengan seorang tokoh Ekonomi-Politik kwik Kian Gie, menarik, terutama tentang kritikan Kwik terhadap sistem pengelolaan negara yang tidak benar-benar merdeka, sangat campur tangan asing. “Ada kekuatan besar yang presiden pun sulit menepis tekanannya!” ujar Kwik. Siapa Kwik, berikut saya dapat dari Nusantaranews.wordpress.

Biografi Kwik Kian Gie – Ekonom Tionghoa yang Nasionalis

Januari 31, 2009

tags: biografi Kwik Kian Gie, Kwik Kian Gie, nasionalisme, pengamat ekonomi, riwayat hidup, Tokoh Nasional

by nusantaraku

Sejarah Singkat Kwik Kian Gie

Kwik Kian Gie (74 tahun) atau 郭建義  (mandarin: Guo Jianyi)  merupakan pria keturunan Tionghoa yang lahir di Pati –

Kwik Kian Gie

Jawa Tengah, 11 Januari 1935. Ia seorang ahli ekonomi sekaligus politikus yang sangat disegani oleh kawan maupun lawan. Keteguhan pada nilai-nilai kebenaran dan nasionalisme serta selalu mengkritik hal yang salah, membuat Kwik Kian Gie tidak disukai mereka-mereka yang ’salah langkah’.

Setelah menamatkan pendidikan SMA-nya, Kwik melanjutkan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia selama setahun untuk tingkat persiapan. Kemudian tahun 1956, Kwik melanjutkan studi Nederlandsche Economiche Hogeschool, Rotterdam Belanda(1956-1963). Jiwa pengabdiannya pada negeri ini telah diwujudkan sesaat setelah Kwik lulus dari kuliahnya. Tahun 1963-1964 Kwik bekerja sebagai asisten atase kebudayaan dan penerangan pada Kedutaan Besar RI di Den Haag. Setahun kemudian menjadi Direktur Nederlands Indonesische Geoderen Associatie (1964-1965). Lima tahun selanjutnya menjadi Direktur NV handelsonderneming “Ipilo Amsterdam”.

Tahun 1970, di usianya ke-35, Kwik kembali ke tanah air. Selama setahun ia sempat menganggur. Dan di tahun 1971, Kwik terjun ke dunia bisnis dan mendirikan PT Indonesian Financing & Investment Company. Kepiawaianya dalam ekonomi bisnis, mendapat kepercayaan berbagai perusahaan memintanya menjadi pimpinan perusahaan. Pada tahun 1978, tercatat ada minimal 3 perusahaan yang dipimpin Kwik yakni sebagai Direktur sekaligus Pemegang saham PT Altron Panorama Electronic,  Dirut PT Jasa Dharma Utama, dan  Komisaris PT Cengkih Zanzibar.

Mulai tahun 1985 (24 tahun silam), Kwik telah menulis ide kreatif mengenai ekonomi di Harian Kompas demi mengedukasi persfektif masyarakat. Setelah cukup mapan (sudah kaya), pada usia 42 tahun Kwik resmi terjun ke dunia pendidikan dan pengamat ekonomi. Secara bertahap Kwik mulia meninggalkan dunia bisnis. Di bidang pendidikan, tahun 1987 bersama Djoenaedi Joesoef dari Konimex dan Kaharudin Ongko dari Bank Umum Nasional, Kwik mendirikan Institut Bisnis Indonesia (IBiI). Kwik pun dipercayai menjabat sebagai Ketua Dewan Direktur sejak pendiriannya.

Petualangan sebagai pengamat ekonomi Indonesia yang melihat dan mengamati langsung sistem pemerintah yang begitu korup dan sarat KKN serta otoriter di era Soeharto ‘memaksa’ Kwik harus terjun ke dunia politik. Berbekal pengalaman dan tulisan-tulisan beliau yang sangat populer di Kompas, Kwik terjun ke dunia politik bukan karena uang, melainkan ingin merubah Indonesia yang lebih baik. Ia rela melepas dunia bisnisnya : “Saya sudah punya cukup uang untuk membiayai semua yang saya inginkan,” katanya suatu kali kepada Matra. Kondisi ini sangatlah ironis dengan maraknya para politisi baru saat ini yang menjadi caleg/pilkada hanya lebih untuk meraup uang  negara dan meningkatkan prestise. Kwik terjun ke dunia politik setelah dirinya mapan, dan ia konsisten memperjuangkan ilmunya (ekonomi dan pendidikan) untuk bangsa Indonesia…. Kembali sangat ironis…saat ini banyak yang menjadi caleg dengan hanya  berlatar belakang ‘popularitas tampang/wajah’.

Sumbangsih Politik Kwik

Perjuangan politik Kwik dimulai dengan bergabung dengan PDI pro Megawati [hanya ada Golkar yang berkuasa, PPP dan PDI]. Meskipun terjun ke dunia politik, namun Kwik konsisten dengan ilmu, sikap dan pengalamannya.  Di PDI, Kwik menjabat sebagai salah satu Ketua DPP sekaligus tim Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) PDI. Meskipun kemudian Mega disingkirkan oleh pemerintah dari PDI pada Juni 1996, ia tetap konsisten membela dan mendukung Mega. Menurut Kwik, kemanusiaan Mega sangat tinggi. “Kemanusiaannya besar sekali, sehingga Mega tidak bisa melihat darah mengalir, kerusuhan atau kematian. Dia terus menerus berpesan agar anggota PDI menjaga diri dan menghindari kerusuhan,” katanya suatu kali.

Ia menambahkan, bahwa Mega itu manusia yang mirip Bung Karno, “dan logisnya luar biasa“. Ia hidup untuk melayani orang lain. Itu tak lain karena Mega dilahirkan dalam keadaan untuk melayani orang lain. “Jadi kalau dia peduli terhadap kehidupan bangsa ini, itu bukan dibuat-buat, bukan agar dia menjadi orang berpangkat atau orang penting,” tambah Kwik. Rasa sikap hormat Kwik pada Mega ketika itu memang wajar, karena dia berhubungan dan bertukar pikiran langsung dengan Megawati. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak mengatakan bahwa Megawati mempunyai segala kwalitas sebagai Presiden R.I., tetapi jelas mempunyai banyak kwalitas yang krusial sebagai panutan. [estetic quotient]

Apa itu? Moral yang tinggi, integritas yang tinggi, tidak munafik, berani membela kebenaran, keadilan dan demokrasi tanpa memikirkan sedikitpun apa resiko untuk dirinya. [petualangan Kwik bersama PDI hingga kasus 27 Juli 96 ]. Mengapa saya mengatakan bahwa sifat-sifat dan karakter seperti ini adalah krusial untuk dijadikan panutan? Karena semua malapetaka yang sedang kita hadapi kalau ditelusuri sampai pada akar-akarnya, penyebabnya adalah moralitas yang rendah, tiadanya integritas, berkecamuknya KKN, kepalsuan, kemunafikan dan kepura-puraan.

Keteguhan Kwik pada Mega yang tersingkirkan oleh pemerintah, akhirnya berbuah manis. Setelah era orba jatuh dan dibarengin lahirnya reformasi, Megawati bersama PDI Perjuangan memenangi Pemilu 1999. Selama setahun kwik menjadi Anggota MPR/DPR-RI sekaligus menjadi Wakil Ketua MPR-RI. Gus Dur pun lihai melihat talenta dan semangat Kwik, maka iapun diangkat menjadi Menko Ekuin (1999-2000). Meskipun suara ‘kata reformasi’ berkumandang keras di negeri ini, namun masih banyak anggota Kabinet dan oknum pemerintah pada saat itu yang masih bermental kompeni, bermental asing, bermental korporasi, bermental korupsi,dan tentu saja Kwik sangat menentang itu. Apa daya mau dikata, hasrat Kwik untuk membersihkan kabinet kotor akhirnya diserang oleh orang-orang yang merasa kepentingannya terganggu. Maka berbagai isu miring dilontarkan pada pribadi Kwik. Dan berbagai desakan politik  busuk saat itu dan diiringi tudingan miring, akhirnya Gus Dur terpaksa memberhentikan Kwik sebagai Menko Ekuin. Dengan dilematis, Kwik mengundurkan diri dari Menko Ekuin pada tahun 2000.

Ketika terjadi pergolakan politik antara MPR (Amien Rais) dan Presiden (Gusdur) yang berakhirnya berhentinya Gus Dur dari kursi Presiden dan diangkatnya Megawati sebagai Presiden ke-5 RI, Kwik kembali diangkat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Men. PPN) merangkap Ketua Bappenas pada Kabinet Gotong-Royong (2001-2004).

Pergulatan Politik

Meskipun Kwik Kian Gie sudah ‘nyaman’ dalam posisi eksekuitf tinggi di negeri ini sebagai Menko Ekuin,  Men. PPN serta Kepala Bappenas, Kwik tidak berhenti mengambil keputusan saja sebagai menteri. Ia masih bersikap sebagai pengamat yakni sering melontar pendapat yang berbeda dari kebijaksanaan yang diputuskan kabinet atau pemerintah. Ketika suaranya tidak didengar di Kabinet atau tidak diundang pada sidang Kabinet yang penting, Kwik tidak segan-segan menegur dan mengkritisi menteri seposisinya bahkan seorang atasannya, Presiden Megawati. Tidaklah heran jika sekelompok menteri, segrup pengusaha, segerombolan negara kapitalis benci sama pendirian Kwik.

Akibatnya, tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong yang pada mulanya disebut The Dream Team itu menjadi terkesan amburadul. Tidak ada kordinasi. Ada yang berpendapat bahwa Menko Ekuin Dorodjatun Kuntjoro Jakti tidak mampu memimpin timnya. Tapi sebagian lagi menyatakan bahwa Kwik lebih baik mengundurkan diri dan kembali kehabitatnya sebagai pengamat. Kegaduhan tim ekonomi ini dimanfaatkan pula oleh kalangan politisi dan aktivis politik sebagai pintu masuk menyoroti lemahnya kepemimpinan Presiden Megawati. Ada juga yang memanfatkannya dengan menyarankan dilakukannya reshuffle kabinet sesegera mungkin.

Tapi Megawati tampaknya telah belajar dari ringan tangannya Gus Dur mengganti menterinya. Sehingga selamatlah Kwik dan tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong lainnya dari pemberhentian. Kwik sendiri sudah mengalami pergantian dengan ‘dipaksa’ mundurnya dia dari jabatan Menko Ekuin oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Ia ‘dipaksa’ mundur setelah ia dibuat frustrasi seperti ditulis Suara Pembaruan edisi Jumat (11/8 ) mengutip sumbernya, “Pak Kwik sering tidak tahan menghadapi ulah para menteri, utamanya yang dekat dengan Presiden, karena mereka tidak pernah mau datang ke rapat-rapat koordinasi.” Mereka juga menilai bahwa Kwik lebih pas sebagai pengamat ketimbang jadi eksekutif, pengambil keputusan. Hal yang sama hampir saja terjadi jika Kwik bukan kader PDIP dan jika Presiden Megawati menuruti keinginan para politisi dan pengamat. Hari ini mungkin Kwik tidak lagi sebagai eksekutif tapi sudah berkonsentrasi sebagai pengamat, dunia yang sangat dijiwainya.

Kwik Kian Gie yang Tidak Lupa Diri

Meskipun Kwik menjabat Menteri di Kabinet Megawati, hal ini tidak membuat Kwik hanya menikmati jabatannya. Pada tanggal 7-8 November 2001, Pak Kwik menyampaikan pidato yang sangat menusuk bagi CGI maupun pejabat-pejabat saat ini maupun tempo dulu. Sebagai Men. PPN dan kepala Bappenas, pidato Kwik mempunyai makna yang besar bagi bagi penyelenggaraan negara dan perekonomian kita, terutama bagi kehidupan moral bangsa kita, dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dewasa ini.

Dalam pembukaan pidatonya yang berjudul “Effective use of foreign aid” itu, ia menyatakan rasa malunya bahwa sebagai pejabat pemerintahnya ia terpaksa menjalankan tugas, yang pada intinya adalah untuk mengemis tentang persoalan utang, atas nama bangsa. Pernyataan Kwik sekaligus menyentil lembaga keuangan dunia yang selama ini ‘menjerumuskan’ Indonesia dengan utang. Persoalannya sederhana, lembaga keuangan dunia  tahu pasti bahwa sebagian utanngya, tidak kurang 30% dikorupsi, yang seharusnya bertentangan dengan syarat dari sebuah lembaga keuangan untuk memberikan pinjamannya. [skenario tingkat tinggi].

Yang juga amat menarik (dan amat penting) yalah ketika ia mengungkapkan bahwa ia sudah sering mengatakan hal-hal itu semua, dan bahwa ia telah ditegur oleh para ekonomis senior, yang di masa lalu telah, dan sekarang, masih memainkan peran penting dalam pengurusan ekonomi negeri kita, yang menganjurkan supaya ia tidak lagi memandang ke belakang saja dan supaya mulai melihat ke hari depan. Tetapi, katanya, ia tidak mau mendengarkan nasehat semacam itu, apalagi yang berasal dari para ekonomis yang telah mempunyai peran besar dalam menjadikan Indonesia menjadi bangsa pengemis.

Ekspresi yang digunakan Menteri Kwik Kian Gie adalah keras, atau tidak tanggung-tanggung!. Apalagi ketika ia mengatakan bahwa para ekonomis yang itu-itu jugalah yang telah melakukan mis-management dalam soal utang luarnegeri kita dan menggiring negeri kita ke dalam kesulitan-kesulitan kita dewasa ini. Oleh karena itu, ia berpendirian bahwa perlu sekali sering memandang ke belakang untuk mengetahui apa-apa saja yang menjadi sumber-sumber kesulitan atau sebab-sebab kesalahan itu. Adalah tidak fair dan tidak adil, katanya, bahwa mereka yang telah membikin kesalahan-kesalahan itu sekarang bisa memegang kekuasaan dan berusaha untuk menguburkan masa lalu. Mereka inilah yang menghalang-halangi orang-orang yang jujur dan memiliki kemauan baik untuk mengobati sebab dan akibat korupsi dan mis-management masa lalu, tegasnya.

Mengenai utang dalam negeri, yang sekarang sudah mencapai Rp650 trilyun, ia mengatakan bahwa ia dikritik karena telah terlalu banyak bicara tentang akibat-akibatnya. Menurutnya, kritik-kritik itu diucapkan oleh orang-orang yang ingin menutup-nutupi dan mengubur begitu saja ketidakadilan yang terjadi di masa lalu. Kritik-kritik ini datang dari para birokrat yang itu-itu juga yang telah membolehkan para pemilik bank untuk berulangkali melanggar batas-batas legal peminjaman uang, menyalurkan jumlah-jumlah besar uang para penyimpan uang ke dalam perusahaan mereka sendiri dengan cara peminjaman yang di mark-up. Kenyataan ini terlalu menyolok.

Tentang utang pemerintah, ungkapan Kwik Kian Gie di depan sidang internasional ini juga sangat pedas dan dengan bahasa yang polos pula ketika ia mengatakan : “Apakah utang-utang itu juga dikorupsi, sehingga kita tidak bisa membayarnya kembali, walaupun kita terus mengeduk satu lobang untuk menutupi lainnya? Bagi saya, jawabannya adalah jelas sekali. Profesor Sumitro Djoyohadikusumo, pendiri fakultas ekonomi dari Universitas Indonesia yang memiliki prestise tinggi, dan karenanya adalah guru yang amat terhormat bagi birokrat-birokrat yang berkuasa, pernah menyatakan bahwa paling sedikitnya 30% dari pinjaman yang diberikan kepada pemerintah Indonesia telah dicuri. Ini berarti bahwa paling tidak 30% pinjaman dari Anda sekalian telah dicuri”, katanya kepada para wakil negara donor dan badan-badan internasional yang hadir dalam sidang CGI itu.

Penutup

Begitulah kisah singkat perjuangan Kwik. Saya mulai mengagumi beliau sejak akhir 2007 ketika saya membaca buku John Perkins dan melihat kesamaan pemikiran dan pergerakan yang pak Kwik tawarkan,  seorang Tionghoa namun sangat nasionais dan cinta pada negeri ini. Di masa tuanya (74 tahun) ia tetap berusaha menuangkan ide-ide demi mengedukasi masyarakat agar mata saudara-saudara di negeri terbuka lebar.  Hentikan pembodohan oleh aparat pemerintah. Hentikan kebijakan yang membuat masyarakat menjadi kelas nomor ke-5 setelah kepentingan pengusaha, asing, politik dan kepentingan penguasaha. Ciptakan budaya berdirikari, dan tingkatkan moralitas bangsa.

Beberapa tulisan beliau membuat saya meneteskan air mata, karena masih ada orang tua seperti beliau yang mau berbagi ilmu pengetahuan dengan gratis. Dan saya yakin bahwa walaupun suara dan tulisan Pak Kwik tidak didengar oleh pemerintah saat ini, namun secara tidak langsung, pak Kwik telah memberikan harta karun terbesar buat saya dan buat sebagian rakyat yang merasakan ‘embun-embun’ pencerahan untuk berbakti pada negara dan rakyatnya.

Dan satu hal yang menarik ketika Kwik tampil di The Candidate, ketika Fifi Alayda Yahya menanyakan ‘apakah Bapak akan maju sebagai Capres 2009″. Kwik dengan tegas mengatakan “Tidak“. Lalu, Fifi menanyakan kembali, ‘Apakah dalam pikiran pak Kwik terlintas ingin menjadi Presiden?”. Sekali lagi pak Kwik menjawab, “Tidak sama sekali“. Beliau hanya berharap dapat menjadi penasehat presiden (wantimpres) dalam bidang ekonomi. Bukan kekuasaan yang ia incar, namun kontribusi yang tepat sasaran. Toh….beliau memang lebih tepat menjadi penasehat ekonomi asalkan Presiden 2009 adalah presiden yang ‘benar’. Benar artinya bukan bermental kompeni, liberal-kapitalis, pengemis utang luar negeri dan dalam negeri, dan hanya menjadi bangsa penonton (Blok Cepu, UU Migas, mendewakan kedatangan Bush dengan meng-jump sinyal HP di Bogor, obral BUMN : Indosat, Telkom + 38 daftar BUMN yang akan diobral 2008-2009 ).

Saya berharap, semoga harapan Pak Kwik ini terealisasi dan pemimpin 2009 ini adalah pemimpin yang didambakan oleh Kwik. [FYI : Kwik sendiri tidak merekomendasi Mega sebagai Capres. Kwik juga sangat mengkritisi pembingungan yang dilakukan pemerintah incumbent]. Disamping ituk, saya pun mulai menulis  dan mencoba mengikuti jejak langkah beliau. Walaupun saya tidak bertemu beliau secara langsung, tetapi saya merasakan getaran nasionalis dan ketulusan beliau untuk mewujudkan Indonesia baru sesuai dengan cita-cita para founding father bangsa Indonesia yang tertuang dalam UUD 1945 (sebelum amandemen). Meskipun suara dan pemikiran Anda tidak ditanggapi penguasa saat ini, namun saya yakin ’suara dan pemikiran’ Bapak kini sedang bersemai di ladang pemikiran kami. Kelak benih-benih yang Pak Kwik taburkan dapat tumbuh, berkembang dan menular kepada generasi kami. Semoga Kwik-Kwik baru muncul bertebaran di negeri ini, dan penguasa akhirnya mendengar konsepsi-mu.
Terima kasih pak Kwik…………Lanjutkan perjuanganmu..

echnusa, 31 Jan 2009

mudah-mudahan kita lebih banyak buka mata, buka telinga untuk mengerti mana sebenarnya yang harus diperjuangkan.

Advertisements

Strategi Perlawanan HAMAS

Sekitar setahun yang lalu Harian Kompas pernah menurunkan tulisan dengan tajuk sebuah pertanyaan “Siapakah Hamas itu?” Hamas begitu gagah berani mereka menghadapi gempuran pasukan Israel dari darat dan udara. Padahal, mesin perang Israel jauh lebih canggih dan lengkap. Pertanyaan yang hampir serupa sudah mengemuka pada Januari 2006 ketika Hamas memenangi pemilu legislatif Palestina. Hamas mengalahkan Fatah—faksi terbesar dalam PLO—yang sudah demikian lama berkuasa? Apa kehebatan Hamas sehingga rakyat memberikan suara mereka? Hamas meraih 76 dari 132 kursi di parlemen yang diperebutkan dan Fatah 43 kursi. Sisanya direbut partai-partai kecil lainnya, seperti Partai Jalan Tengah, Palestina Independen, dan Badil masing-masing merebut dua kursi, sementara PFLP meraih tiga kursi, sedangkan empat kursi sisanya jatuh ke partai independen lainnya.

kata'ib Izzudin Al Qossam

kata'ib Izzudin al Qossam, ujung tombak sayap militer Hamas

Tiga Strategi

Siapakah mereka? Matthew Levitt dalam bukunya, Hamas: Politics, Charity, and Terrorism in the Service of Jihad, menulis, Hamas yang akronim dari Harakat al-Muqawama al-Islamiya atau Gerakan Perlawanan Islam didirikan pada 14 Desember 1987. Organisasi ini merupakan pengembangan dari Ikhwanul Muslimin—yang berpusat di Mesir—cabang Palestina. Salah satu pendiri Hamas adalah Sheikh Ahmed Yassin, yang dibunuh Israel pada tanggal 22 Maret 2004. Hamas didirikan sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap organisasi-organisasi perlawanan Palestina yang lebih dahulu dalam menghadapi Israel. Mereka dinilai lembek dan cenderung kompromistis. Fatah, misalnya, membuka dialog dengan Israel. Oleh karena itu, Hamas didirikan dengan tujuan utama menyingkirkan Israel dari peta bumi dan kemudian mendirikan negara Islam di seluruh wilayah yang dulu masuk dalam Mandat Inggris, yakni wilayah yang kini menjadi negara Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Walaupun dianggap paria dan diberi cap sebagai teroris oleh AS, Israel, dan sejumlah negara Barat–ingat! sebutan teroris oleh Barat berarti bahwa mereka bertentangan dengan kepentingan Barat–bagi kita tentu saja mereka adalah kelompok Mujahidin, Hamas sangat memesona rakyat Palestina karena strategi perjuangannya.

Hamas memiliki tiga strategi untuk mendukung tercapainya tujuan perjuangan. Pertama, aktivitas kesejahteraan sosial-ekonomi bagi rakyat untuk membangun dukungan dari rakyat. Kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan oleh divisi kewanitaan Hamas telah memikat hati mereka, begitu dekatnya hubungan mereka sehingga ketika Palestina diserang Israel, masyarakat palestina sangat yakin bahwa Hamas tidak akan meninggalkan mereka begitu juga sebaliknya, berbeda dengan pandangan masyarakat terhadap organisasi lain seperti Fatah. Kedua, aktivitas politik untuk menandingi PLO yang sekuler dan Otoritas Palestina. Ketiga, melakukan perlawanan bersenjata terhadap Israel, termasuk dengan bom syahid.

Dengan mengembangkan ketiga strategi itu—terutama yang pertama—mereka mampu meraih simpati dan dukungan rakyat Palestina dalam pemilu. Kekuatan Hamas Kemenangan Hamas dalam pemilu merupakan bukti bahwa mereka memiliki pijakan kuat di tengah masyarakat. Dominasi mereka di Jalur Gaza pun menegaskan hal itu. Karya sosial dan kemasyarakatan mereka di tengah masyarakat Palestina merupakan salah satu daya pemikat dukungan rakyat. Lewat jaringan organisasi yang luas—kalangan ulama, mahasiswa, intelektual, organisasi kemasyarakatan lainnya—mereka mendapatkan dukungan dan legitimasi rakyat. Dukungan dalam hal dana, misalnya, mengalir dari sejumlah negara. Mengutip Matthew Levitt, uang dalam jumlah jutaan dollar AS mengalir dari para donatur di Jordania, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Inggris, Jerman, AS, Uni Emirat Arab, Italia, dan Perancis. Sejumlah negara Arab pun mendukung Hamas, misalnya Arab Saudi, Iran, Suriah, Lebanon, Libya, Sudan, Yaman, dan Qatar. Dukungan yang mereka berikan bermacam-macam, ada yang berupa dukungan dana, latihan militer, atau menjadi tempat berlindung tokoh-tokoh Hamas yang dikejar-kejar Israel. Lalu, mampukah Israel mengalahkan Hamas? Barangkali Israel bisa menghancurkan infrastruktur yang digunakan sebagai alat perjuangannya. Namun, jaringan dan terutama ideologi perlawanan mereka tidak dapat dihancurkan meski mereka tercerai-berai.

Pendidikan Murah: Quo Vadis

Pendidikan dan kesehatan gratis adalah isu yang paling menarik pada setiap Pilkada, bahkan telah menjadi pra syarat untuk siapa saja yang ingin mendapatkan simpati yang positif. Maka, sebagai jawaban atas janji-janji pendidikan gratis dan murah untuk masyarakat mulai dari APBD Kota, Provinsi sampai tingkat Pusat diarahkan pada anggaran pendidikan. Maka bertaburanlah sekolah yang memasang spanduk “Sekolah ini menyelenggarakan pendidikan gratis”. Selesai? Tidak. Kalau anda termasuk praktisi pendidikan atau pengamat secara intensif atau orang tua yang meniyipkan anaknya di sekolah gratis maka anda akan menemukan bahwa seiring dengan diluncurkannya sekolah gratis maka meluncurlah juga kualitas pendidikan di sekolah tersebut. Anggaran yang dikucurkan pemerintah tidak cukup untuk membiayai pengembangan sekolah, mungkin cukup untuk operasional standar, tapi ternyata penyelenggaraan pendidikan tidak melulu urusan biaya operasional. Tapi juga berurusan dengan bagaimana meningkatkan kualitas guru, sarana dan pra sarana dan peningkatan kualitas kurikulumnya. Ini yang sering terlewatkan.

Sebagai antitesa maka dalam waktu bersamaan bermunculan sekolah-sekolah mahal dengan imbalan janji-janji bahwa mereka dapat memberikan pendidikan yang lebih baik. Percayalah, kebanyakan mereka memang ,memberikan kualitas pendidikan yang lebih baik karena anggaran yang digunakan juga lebih banyak. Cuma masalahnya hal ini tidak menjawab kebutuhan yang sesungguhnya dari masyarakat. Yang mereka butuhkan adalah pendidikan berkualitas yang murah, bukan pendidikan bagus tapi mahal atau pendidikan murah tapi buruk. Kondisi masyarakat yang miskin bukan berarti mereka akan puas dengan pendidikan gratis sekalipun kualitasnya jelek.

Kebijakan pensyaratan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) telah menyakiti masyarakat dengan penghasilan tanggung. Mereka tidak akan masuk dalam kelompok layak untuk menerima SKTM tapi mereka sungguh tidak cukup memiliki penghasilan yang cukup untuk membeli kalitas pendidikan yang bagus. kalau mau memberikan layanan gratis kenapa tidak diberlakukan untuk semua aja? Seperti membuat jalan yang mulus, yang tidak mensyaratkan ada surat keterangan khusus untuk bisa menikmatinya.

Quo Vadis pendidikan murah? Pemerintah harus mulai berempati pada kebutuhan masyarakat yang mendasar ini agar ada harapan bahwa generasi Indonesia ke depan adalah generasi yang benar-benar bisa diharapkan. Lalu bagaimana menciptakan sekolah berkualitas tapi murah?

Sebagai pelaku pendidikan, yang ikut mengelola dan mendirikan sekolah..saya punya kesimpulan bahwa sekolah swasta memang butuh biaya besar untuk memberikan layanan pendidikan yang baik sehingga berimbas pada biaya uang pangkal dan biaya SPP.Sekolah negeri yang telah memiliki modal memadai juga harus meningkatkan kualitas pelayanan berupa inovasi pendidikan yang terus mengikuti zaman sebagaimana sekolah-sekolah swasta telah lakukan, sehingga kualitas sekolah negeri tidak jeblok. Disini peran pemerintah sangat diharapkan. Menghimpun dana masyarakat untuk secara terkontrol disalurkan kepada sekolah untuk dikonversi pada outcome: Sekolah murah, kualitas hebat. Pasti bisa! Untuk menjadi contoh saja… Rumah Zakat Indonesia (RZI) telah membuat sekolah yang bernama Sekolah Juara..gratis, tapi karena telah dikucuri dana yang cukup kualitasnya tetap baik.

Bukankah Pemerintah yang seharusnya mengerjakan pekerjaan ini? karena mereka memiliki sarana dan potensi dana yang sangat besar. Jadi, bekerjalah dengan sungguh-sungguh wahai pemegang amanah kepemimpinan!

Adakah orang besar yang lahir dari Kertawirama?

Sore: 8 Maret 2010

Bandung adalah kota yang banyak melahirkan orang besar, seniman, negarawan atau ilmuwan banyak yang memulainya dari kota ini. Sebut saja Soekarno (pernah kuliah di ITB), M Natsir, Isa Anshary, atau seniman semacam Jehan dan tak terhitung artis-artis musik yang berangkat dari Bandung mengadu peruntungan. Sebuah daerah yang telah mencatatkan sejarah tentang kepahlawanan dan lahirnya orang-orang besar seakan mempermudah lahirnya orang besar selanjutnya, entah sebagai pe;anjut atau pencetak sejarah-sejarah baru. Apakah ada hubungannya antara sejarah lahirnya orang besar kepada peluang lahirnya orang -orang besar yang lain.

Adalah mudah untuk disepakati bahwa sebuah daerah dengan masyarakatnya menyimpan suasana lingkungan, kultur, dan pengaruh untuk tumbuh suburnya sejara atau catatan-catatan kemenangan, sejarah tentang jatuh bangunnya seorang anak negeri dan lain-lain. Pencapaian generasi tua seakan memberi modal semangat pada generasi selanjutnya untuk menjejaki jejak-jejak kepahlawanan itu.

Adakah orang besar yang lahir dari Kertawirama? akankah saya menjadi bagian dari sejarah tersebut, atau malah memilih lahir dengan jejak-jejak kemenagangan kota Bandung? Saya lebih melekat dengan sejarah Kuningan khususnya Kertawirama, mungkin langkah awal yang harus diambil adalah menggali dari sejarah tentang kisah-kisah kemenangan penduduk Kertawirama di masa-masa yang lalu. Dari sana akan terdapat catatan yang baik mengenai seberapa berhasilkah masyarakat Kuningan pada masa lalu, kemudian bagaimana hal tersebut memotivasi kita untuk menjadi sesuatu, menjadi besar dengan menyandingkan nama daerah dan tercatat pada lembaran sejarah daerah tersebut sehingga mampu menginspirasi generasi selanjutnya…yaa perjalanan dimulai..perjalanan mencari jejak-jejak kepahlawanan di desa asal ……. Kertawirama.

Gairah Ber-travelling

kalo ada novel yang begitu menyemangati dan menulari, maka itu adalah kumpulan tulisan Gola Gong “Balada Si Roy”..hmm dulu waktu ceritanya tayang di Majalah Hai ga sempet baca secara runut karena dapet Hai nya juga jarang-jarang. Tapi sekarang..waktu nemu ceritanya bisa didownload di 4shared, wah ingat lagi deh ke jaman-jaman dulu.

bsr

bsr

Setelah dibaca lagi buku ini tetap asyik..walau baru nyadar akhir-akhir ini kalo kebiasaan Roy banyak yang buruknya (konon Gong sampai terpaksa mengakhiri kisah Balada Si Roy karena khawatir dengan pengaruh buruknya), tapi untungnya yang membekas buat saya adalah hobi travellingnya (atau avonturir untuk istilah yang lebih nekatnya)

Sebetulnya gairah berkunjung-kunjung muncul karena dulu waktu kecil, bapak saya kerjanya pindah-pindah dari satu proyek ke proyek yang lain, sehingga kalo kita berkunjung maka terjadilah petualangan yang tidak disengaja. Hingga kini hobi ga rubah-rubah, ya pergi-pergian itu. Sekarang sih agak terbatas karena harus lebih banyak perhatian sama keluarga dan juga karena ga ada dana khusus untuk itu. Tapi paling tidak, saya masih tetap ikut berpetualang lewat cerita-cerita petualangan dari buku para backpacker ini..utamanya Balada Si Roy.

Berpuisilah

Bersajaklah engkau

Berpuisilah engkau

karena sajak dan puisimu menguatkan hati

Bersastralah engkau

karena sastramu memberanikan hati-hati kami

yang penakut

Teman-temanmu itu telah menjadi kering dari puisi, sajak dan sastra

mereka menjadi bengis tak terperi

gedung-gedung mereka pecahkan kacanya

orang lemah mereka timpuki hingga berdarah

mereka sudah terlalu gersang

maka bacakan sajak dan sastramu itu…kawan

[mifkho 2010]

Ekonomi Pro Rakyat

Menurut Burhanudin Abdullah, mantan gubernur BI, pendekatan konvensional system perbankanyang digunakan selama ini ternyata tidak mampu mengatasi problem kemiskinan di Indonesia. Ya, kita bisa merasakan bawa perbankan sangat enggan bersentuhan dengan masyarakat miskin –dalam bentuk pemberian kredit atau menampung tabungannya—karena dianggap uang recehan yang hanya merepotkan sementara uang yang berputar sangat sedikit, tidak cukup untuk membayari teller-teller yang cantik itu. Merujuk pada model yang telah dikembangkan oleh Muhamad Yunus dengan Grameen Banknya Nampak perlu sebuah pelembagaan lembaga micro finance dimana pra syarat yang harus dimiliki adalah sebagai berikut:

  1. Komitmen Keperpihakan terhadap rakyat miskin. Karenanya perbankan harus mengeliminir hambatan—yang selama ini menghalangi rakyat miskin mengakses perbankan—yaitu keharusan menyediakan agunan (rata-rata mereka tidak memiliki asset untuk diagunkan), hambatan kedua adalah birokrasi perbankan yang berbelit-belit sangat tidak akrab dengan rakyat miskin yang rata-rata juga rendah pendidikannya. Salah satu cara yang harus diambil adalah pendekatan yang digunakan dalam berhubungan dengan nasabahnya lebih mengedepankan pendekatan kekeluargaan ketimbang pendekatan bisnis formal.
BAS Purwokerto

BAS Purwokerto

  1. Harus memberikan kepercayaan yang tinggi terhadap nasabah, agar tidak berkesan serampangan maka perlu usaha untuk membangun komunitas yang didalamnya tumbuh rasa percaya, setelah tahap ini terbangun maka hubungan bisnis akan terbangun sikap saling percaya. Dalam sebuah hubungan yang sudah saling percaya maka agunan sudah tidak diperlukan lagi.
  2. Sikap melayani dengan mendatangi nasabah, melayani dengan penuh kesabaran dan proses yang cepat dalam penyaluran dananya.

Karakter-karakter diatas nampaknya sering kita dapatkan pada para ‘pelepas uang’ atau bank plecit istilah sederhana untuk rentenir, hanya saja bank plecit suka memberikan bunga yang sangat tinggi. Pendekatan yang lebih ‘ramah’ terhadap masyarakat miskin dalam hal perbankan ini akan meningkatkan peran perbankan dalam mengurangi angka kemiskinan di masyarakat.

Kebijakan Ekonomi Pro-Rakyat (sekarang ini pemerintahan SBY lebih cenderung dengan kebijakan pro-pasar) yang berlandaskan system ekonomi kerakyatan merupakan sebuah kebijakan alternative untuk mengatasi permasalahan kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan ekonomi. Kebijakan ini berlandaskan pada asas kekeluargaan, kedaulatan rakyat, kerjasama dan keberpihakan yang sungguh-sungguh pada rakyat yang lemah. Jika pelaku ekonomi lemah dibiarkan bersaing bebas dengan pelaku ekonomi yang sudah kuat sama saja dengan menjerumuskan pelaku ekonomi lemah pada jurang kekalahan dan kemiskinan.

Ciri utama system ekonomi kerakyatan adalah kebersamaan dalam menjalankan proses produksi untuk menghasilkan produk dan jasa yang dikerjakan oleh sebagian  besar rakyat, dipimpin oleh perwakilan rakyat dan dimiliki oleh seluruh rakyat secara merata. Kelembagaan yang identik dengan system ini adalah lembaga Koperasi. Maka proses penguatan terhadap koperasi akan menyebabkan penguatan kepada ekonomi rakyat. Berdasarkan pasal 33 UUD 1945 sebelum diamandemen, semestinya system ekonomi kerakyatan ini menjadi landasan dalam setiap perumusan strategi pembangunan dan penetapan kebijakan ekonomi di Indonesia. Penerapan system tersebut harus memberikan prioritas untuk memberdayakan ekonomi rakyat yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.

Koperasi adalah garda terdepan dalam meningkatkan perekonomian melalui Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) melihat pada mayoritas anggota yang terlibat dan jenis usaha yang dijalankan. Secara garis besar terdapat tiga kebijakan yang dibutuhkan dalam pemberdayaan UMKM.

  1. Menciptakan iklim usaha kondusif bagi UMKM sehingga mampu mendorong pengembangan UMKM secara mandiri dan berkelanjutan.
industri genteng

industri genteng

  1. Mendorong terbentuknya lembaga keuangan yang mampu memobilisasi dana masyarakat sekaligus menyalurkannya dalam bentuk pembiayaan kegiatan usaha ekonomi produktif yang dijalankan oleh UMKM.
  2. Menyediakan bantuan teknis dan pendampingan secara manajerial guna meningkatkan status usaha UMKM agar layak mendapatkan fasilitas kredit dalam jangka panjang.

Strategi lain adalah strategi pengembangan kawasan agar ketimpangan ekonomi dapat diminimalisir. Model pengembangan kawasan bisa dilakukan dengan berbasis anggota koperasi.

Kesimpulan:

Dalam pengembangan strategi penanggulangan kemiskinan ada tiga hal yang harus diperhatikan:

  1. Mengembangkan kelembagaan koperasi sebagai lembaga penyalur kredit untuk UMKM
  2. Advokasi terhadap UMKM agar lebih mandiri dan berdaya
  3. Merencanakan suatu strategi pengembangan kawasan berbasis anggota koperasi.

Sumber: Kebijakan Pro Rakyat, Fahmy Radhi