Mosab: Kisah anak yang berkhianat

Ada berita menggegerkan dari Hamas Palestina: “satu orang anak pendiri Hammas yaitu Mosab Hassan Yousef telah menjadi agen shin bet, disinyalir menjadi penyebab kematian pimpinan Hamas Mahmud Al Mabhuh, murtad dari agama islam, dan yang lebih parah menyebut teroris terbesar adalah tuhan. Luar biasa! Ayahnya seorang aktivis, anaknya jadi bandit pengkhianat. Memang, hal ini bukan hal yang baru, karena bahkan seorang Nabi Nuh pun anaknya jadi pengkhianat dan durhaka.

mosab: sang pengkhianat

mosab: sang pengkhianat

Mosab begitu menggegerkan ketika dalam bukunya, “Son of Hamas: A Gripping Account on Terror, Betrayal, Political Intrigue and Unthinkable Choices.” begitu mencerca perjuangan Hamas yang notabene merupakan organisasi perlawanan yang ikut  didirikan ayahnya. Seorang anak kader, selama satu dekade lebih bergabung dengan Dinas Intelligen Israel, Shin Bet sebelum memutuskan berhenti pada 2007. Mosab melancarkan kritikan yang tajam pada Khalid Meshaal, pemimpin Hamas, dan memiliki proyek pribadi mendongkel Khalid. Mosad bahkan butuh menjadi murtad dan kafir atas tindakannya itu. Sebagai ayah, kita pasti dapat meraba bagaimana perihnya perasaan Sheikh Hassan Yousef tentang anaknya ini.

Ada bahan yang harus menjadi renungan kita, bahwa keimanan memang tidak dapat diwariskan, tetapi sesungguhnya orang tua paling bertanggung jawab mengawal agar anaknya tetap berada dalam lingkungan keshalihan. Di palestina tentu kondisinya sangat lain, israel dan jaringannya tentu saja akan mencari-cari celah untuk menyelusupkan cakarnya pada jantung kaum muslimin.

Disini kita harus waspada bahwa kesibukan seorang ayah dalam mengemban dakwah tidak boleh menyebab kita terlupa akan pentingnya mengawal pendidikan anak, terus menjaga agar tidak terinfiltrasi pengaruh-pengaruh keburukan yang pasti akan menerjang lebih dahsyat terhadap keluarga dakwah sebagai bentuk ujian.

Mari kita berintrospeksi, bahwa sesungguhnya dakwah itu harus dimulai dari Ishlahul fardi terus membina keluarga menjadi keluarga sebaik-baiknya. Dari sinilah kita berangkat menjadi keluarga Haroki, yang secara bersama-sama berdakwah bahu membahu. Ayah menasihati anak istri, anak menjadi penyeimbang keluarga dan seterusnya. Semoga Allah melindungi.

hassan yousef: sang ayah

hassan yousef: sang ayah

Sebuah bahan renungan bagi kita yang mengazzamkan diri menjadi da’i, bahwa ternyata keberhasilan dakwah kita juga diukur dengan bagaimanakah cara kita mengestafetkan tongkah dakwah ini kepada anak keturunan kita, bukan hanya pada mutarobi dan mad’u kita. Karena anak-anak adalah mutarobbi kita yang pertama kali.

Selain itu jamaah dakwah harus senantiasa memperhatikan a’dhonya secara menyeluruh, memutaba’ah (mengevaluasi) perkembangan kadernya bukan hanya pada sisi pelaksanaan tugas-tugas dan kualitas ibadahnya tetapi juga pada kondisi keluarganya, karena kita sedang membangun sebuah peradaban yang besar, yang membutuhkan bantuan seluruh tenaga yang tersedia. Allahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s