Daily Archives: March 9, 2010

Strategi Perlawanan HAMAS

Sekitar setahun yang lalu Harian Kompas pernah menurunkan tulisan dengan tajuk sebuah pertanyaan “Siapakah Hamas itu?” Hamas begitu gagah berani mereka menghadapi gempuran pasukan Israel dari darat dan udara. Padahal, mesin perang Israel jauh lebih canggih dan lengkap. Pertanyaan yang hampir serupa sudah mengemuka pada Januari 2006 ketika Hamas memenangi pemilu legislatif Palestina. Hamas mengalahkan Fatah—faksi terbesar dalam PLO—yang sudah demikian lama berkuasa? Apa kehebatan Hamas sehingga rakyat memberikan suara mereka? Hamas meraih 76 dari 132 kursi di parlemen yang diperebutkan dan Fatah 43 kursi. Sisanya direbut partai-partai kecil lainnya, seperti Partai Jalan Tengah, Palestina Independen, dan Badil masing-masing merebut dua kursi, sementara PFLP meraih tiga kursi, sedangkan empat kursi sisanya jatuh ke partai independen lainnya.

kata'ib Izzudin Al Qossam

kata'ib Izzudin al Qossam, ujung tombak sayap militer Hamas

Tiga Strategi

Siapakah mereka? Matthew Levitt dalam bukunya, Hamas: Politics, Charity, and Terrorism in the Service of Jihad, menulis, Hamas yang akronim dari Harakat al-Muqawama al-Islamiya atau Gerakan Perlawanan Islam didirikan pada 14 Desember 1987. Organisasi ini merupakan pengembangan dari Ikhwanul Muslimin—yang berpusat di Mesir—cabang Palestina. Salah satu pendiri Hamas adalah Sheikh Ahmed Yassin, yang dibunuh Israel pada tanggal 22 Maret 2004. Hamas didirikan sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap organisasi-organisasi perlawanan Palestina yang lebih dahulu dalam menghadapi Israel. Mereka dinilai lembek dan cenderung kompromistis. Fatah, misalnya, membuka dialog dengan Israel. Oleh karena itu, Hamas didirikan dengan tujuan utama menyingkirkan Israel dari peta bumi dan kemudian mendirikan negara Islam di seluruh wilayah yang dulu masuk dalam Mandat Inggris, yakni wilayah yang kini menjadi negara Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Walaupun dianggap paria dan diberi cap sebagai teroris oleh AS, Israel, dan sejumlah negara Barat–ingat! sebutan teroris oleh Barat berarti bahwa mereka bertentangan dengan kepentingan Barat–bagi kita tentu saja mereka adalah kelompok Mujahidin, Hamas sangat memesona rakyat Palestina karena strategi perjuangannya.

Hamas memiliki tiga strategi untuk mendukung tercapainya tujuan perjuangan. Pertama, aktivitas kesejahteraan sosial-ekonomi bagi rakyat untuk membangun dukungan dari rakyat. Kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan oleh divisi kewanitaan Hamas telah memikat hati mereka, begitu dekatnya hubungan mereka sehingga ketika Palestina diserang Israel, masyarakat palestina sangat yakin bahwa Hamas tidak akan meninggalkan mereka begitu juga sebaliknya, berbeda dengan pandangan masyarakat terhadap organisasi lain seperti Fatah. Kedua, aktivitas politik untuk menandingi PLO yang sekuler dan Otoritas Palestina. Ketiga, melakukan perlawanan bersenjata terhadap Israel, termasuk dengan bom syahid.

Dengan mengembangkan ketiga strategi itu—terutama yang pertama—mereka mampu meraih simpati dan dukungan rakyat Palestina dalam pemilu. Kekuatan Hamas Kemenangan Hamas dalam pemilu merupakan bukti bahwa mereka memiliki pijakan kuat di tengah masyarakat. Dominasi mereka di Jalur Gaza pun menegaskan hal itu. Karya sosial dan kemasyarakatan mereka di tengah masyarakat Palestina merupakan salah satu daya pemikat dukungan rakyat. Lewat jaringan organisasi yang luas—kalangan ulama, mahasiswa, intelektual, organisasi kemasyarakatan lainnya—mereka mendapatkan dukungan dan legitimasi rakyat. Dukungan dalam hal dana, misalnya, mengalir dari sejumlah negara. Mengutip Matthew Levitt, uang dalam jumlah jutaan dollar AS mengalir dari para donatur di Jordania, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Inggris, Jerman, AS, Uni Emirat Arab, Italia, dan Perancis. Sejumlah negara Arab pun mendukung Hamas, misalnya Arab Saudi, Iran, Suriah, Lebanon, Libya, Sudan, Yaman, dan Qatar. Dukungan yang mereka berikan bermacam-macam, ada yang berupa dukungan dana, latihan militer, atau menjadi tempat berlindung tokoh-tokoh Hamas yang dikejar-kejar Israel. Lalu, mampukah Israel mengalahkan Hamas? Barangkali Israel bisa menghancurkan infrastruktur yang digunakan sebagai alat perjuangannya. Namun, jaringan dan terutama ideologi perlawanan mereka tidak dapat dihancurkan meski mereka tercerai-berai.

Advertisements

Pendidikan Murah: Quo Vadis

Pendidikan dan kesehatan gratis adalah isu yang paling menarik pada setiap Pilkada, bahkan telah menjadi pra syarat untuk siapa saja yang ingin mendapatkan simpati yang positif. Maka, sebagai jawaban atas janji-janji pendidikan gratis dan murah untuk masyarakat mulai dari APBD Kota, Provinsi sampai tingkat Pusat diarahkan pada anggaran pendidikan. Maka bertaburanlah sekolah yang memasang spanduk “Sekolah ini menyelenggarakan pendidikan gratis”. Selesai? Tidak. Kalau anda termasuk praktisi pendidikan atau pengamat secara intensif atau orang tua yang meniyipkan anaknya di sekolah gratis maka anda akan menemukan bahwa seiring dengan diluncurkannya sekolah gratis maka meluncurlah juga kualitas pendidikan di sekolah tersebut. Anggaran yang dikucurkan pemerintah tidak cukup untuk membiayai pengembangan sekolah, mungkin cukup untuk operasional standar, tapi ternyata penyelenggaraan pendidikan tidak melulu urusan biaya operasional. Tapi juga berurusan dengan bagaimana meningkatkan kualitas guru, sarana dan pra sarana dan peningkatan kualitas kurikulumnya. Ini yang sering terlewatkan.

Sebagai antitesa maka dalam waktu bersamaan bermunculan sekolah-sekolah mahal dengan imbalan janji-janji bahwa mereka dapat memberikan pendidikan yang lebih baik. Percayalah, kebanyakan mereka memang ,memberikan kualitas pendidikan yang lebih baik karena anggaran yang digunakan juga lebih banyak. Cuma masalahnya hal ini tidak menjawab kebutuhan yang sesungguhnya dari masyarakat. Yang mereka butuhkan adalah pendidikan berkualitas yang murah, bukan pendidikan bagus tapi mahal atau pendidikan murah tapi buruk. Kondisi masyarakat yang miskin bukan berarti mereka akan puas dengan pendidikan gratis sekalipun kualitasnya jelek.

Kebijakan pensyaratan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) telah menyakiti masyarakat dengan penghasilan tanggung. Mereka tidak akan masuk dalam kelompok layak untuk menerima SKTM tapi mereka sungguh tidak cukup memiliki penghasilan yang cukup untuk membeli kalitas pendidikan yang bagus. kalau mau memberikan layanan gratis kenapa tidak diberlakukan untuk semua aja? Seperti membuat jalan yang mulus, yang tidak mensyaratkan ada surat keterangan khusus untuk bisa menikmatinya.

Quo Vadis pendidikan murah? Pemerintah harus mulai berempati pada kebutuhan masyarakat yang mendasar ini agar ada harapan bahwa generasi Indonesia ke depan adalah generasi yang benar-benar bisa diharapkan. Lalu bagaimana menciptakan sekolah berkualitas tapi murah?

Sebagai pelaku pendidikan, yang ikut mengelola dan mendirikan sekolah..saya punya kesimpulan bahwa sekolah swasta memang butuh biaya besar untuk memberikan layanan pendidikan yang baik sehingga berimbas pada biaya uang pangkal dan biaya SPP.Sekolah negeri yang telah memiliki modal memadai juga harus meningkatkan kualitas pelayanan berupa inovasi pendidikan yang terus mengikuti zaman sebagaimana sekolah-sekolah swasta telah lakukan, sehingga kualitas sekolah negeri tidak jeblok. Disini peran pemerintah sangat diharapkan. Menghimpun dana masyarakat untuk secara terkontrol disalurkan kepada sekolah untuk dikonversi pada outcome: Sekolah murah, kualitas hebat. Pasti bisa! Untuk menjadi contoh saja… Rumah Zakat Indonesia (RZI) telah membuat sekolah yang bernama Sekolah Juara..gratis, tapi karena telah dikucuri dana yang cukup kualitasnya tetap baik.

Bukankah Pemerintah yang seharusnya mengerjakan pekerjaan ini? karena mereka memiliki sarana dan potensi dana yang sangat besar. Jadi, bekerjalah dengan sungguh-sungguh wahai pemegang amanah kepemimpinan!