Kwik Kian Gie

Kemarin, 21 Maret di acara Tatap Muka Farhan menyajikan perbincangan dengan seorang tokoh Ekonomi-Politik kwik Kian Gie, menarik, terutama tentang kritikan Kwik terhadap sistem pengelolaan negara yang tidak benar-benar merdeka, sangat campur tangan asing. “Ada kekuatan besar yang presiden pun sulit menepis tekanannya!” ujar Kwik. Siapa Kwik, berikut saya dapat dari Nusantaranews.wordpress.

Biografi Kwik Kian Gie – Ekonom Tionghoa yang Nasionalis

Januari 31, 2009

tags: biografi Kwik Kian Gie, Kwik Kian Gie, nasionalisme, pengamat ekonomi, riwayat hidup, Tokoh Nasional

by nusantaraku

Sejarah Singkat Kwik Kian Gie

Kwik Kian Gie (74 tahun) atau 郭建義  (mandarin: Guo Jianyi)  merupakan pria keturunan Tionghoa yang lahir di Pati –

Kwik Kian Gie

Jawa Tengah, 11 Januari 1935. Ia seorang ahli ekonomi sekaligus politikus yang sangat disegani oleh kawan maupun lawan. Keteguhan pada nilai-nilai kebenaran dan nasionalisme serta selalu mengkritik hal yang salah, membuat Kwik Kian Gie tidak disukai mereka-mereka yang ’salah langkah’.

Setelah menamatkan pendidikan SMA-nya, Kwik melanjutkan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia selama setahun untuk tingkat persiapan. Kemudian tahun 1956, Kwik melanjutkan studi Nederlandsche Economiche Hogeschool, Rotterdam Belanda(1956-1963). Jiwa pengabdiannya pada negeri ini telah diwujudkan sesaat setelah Kwik lulus dari kuliahnya. Tahun 1963-1964 Kwik bekerja sebagai asisten atase kebudayaan dan penerangan pada Kedutaan Besar RI di Den Haag. Setahun kemudian menjadi Direktur Nederlands Indonesische Geoderen Associatie (1964-1965). Lima tahun selanjutnya menjadi Direktur NV handelsonderneming “Ipilo Amsterdam”.

Tahun 1970, di usianya ke-35, Kwik kembali ke tanah air. Selama setahun ia sempat menganggur. Dan di tahun 1971, Kwik terjun ke dunia bisnis dan mendirikan PT Indonesian Financing & Investment Company. Kepiawaianya dalam ekonomi bisnis, mendapat kepercayaan berbagai perusahaan memintanya menjadi pimpinan perusahaan. Pada tahun 1978, tercatat ada minimal 3 perusahaan yang dipimpin Kwik yakni sebagai Direktur sekaligus Pemegang saham PT Altron Panorama Electronic,  Dirut PT Jasa Dharma Utama, dan  Komisaris PT Cengkih Zanzibar.

Mulai tahun 1985 (24 tahun silam), Kwik telah menulis ide kreatif mengenai ekonomi di Harian Kompas demi mengedukasi persfektif masyarakat. Setelah cukup mapan (sudah kaya), pada usia 42 tahun Kwik resmi terjun ke dunia pendidikan dan pengamat ekonomi. Secara bertahap Kwik mulia meninggalkan dunia bisnis. Di bidang pendidikan, tahun 1987 bersama Djoenaedi Joesoef dari Konimex dan Kaharudin Ongko dari Bank Umum Nasional, Kwik mendirikan Institut Bisnis Indonesia (IBiI). Kwik pun dipercayai menjabat sebagai Ketua Dewan Direktur sejak pendiriannya.

Petualangan sebagai pengamat ekonomi Indonesia yang melihat dan mengamati langsung sistem pemerintah yang begitu korup dan sarat KKN serta otoriter di era Soeharto ‘memaksa’ Kwik harus terjun ke dunia politik. Berbekal pengalaman dan tulisan-tulisan beliau yang sangat populer di Kompas, Kwik terjun ke dunia politik bukan karena uang, melainkan ingin merubah Indonesia yang lebih baik. Ia rela melepas dunia bisnisnya : “Saya sudah punya cukup uang untuk membiayai semua yang saya inginkan,” katanya suatu kali kepada Matra. Kondisi ini sangatlah ironis dengan maraknya para politisi baru saat ini yang menjadi caleg/pilkada hanya lebih untuk meraup uang  negara dan meningkatkan prestise. Kwik terjun ke dunia politik setelah dirinya mapan, dan ia konsisten memperjuangkan ilmunya (ekonomi dan pendidikan) untuk bangsa Indonesia…. Kembali sangat ironis…saat ini banyak yang menjadi caleg dengan hanya  berlatar belakang ‘popularitas tampang/wajah’.

Sumbangsih Politik Kwik

Perjuangan politik Kwik dimulai dengan bergabung dengan PDI pro Megawati [hanya ada Golkar yang berkuasa, PPP dan PDI]. Meskipun terjun ke dunia politik, namun Kwik konsisten dengan ilmu, sikap dan pengalamannya.  Di PDI, Kwik menjabat sebagai salah satu Ketua DPP sekaligus tim Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) PDI. Meskipun kemudian Mega disingkirkan oleh pemerintah dari PDI pada Juni 1996, ia tetap konsisten membela dan mendukung Mega. Menurut Kwik, kemanusiaan Mega sangat tinggi. “Kemanusiaannya besar sekali, sehingga Mega tidak bisa melihat darah mengalir, kerusuhan atau kematian. Dia terus menerus berpesan agar anggota PDI menjaga diri dan menghindari kerusuhan,” katanya suatu kali.

Ia menambahkan, bahwa Mega itu manusia yang mirip Bung Karno, “dan logisnya luar biasa“. Ia hidup untuk melayani orang lain. Itu tak lain karena Mega dilahirkan dalam keadaan untuk melayani orang lain. “Jadi kalau dia peduli terhadap kehidupan bangsa ini, itu bukan dibuat-buat, bukan agar dia menjadi orang berpangkat atau orang penting,” tambah Kwik. Rasa sikap hormat Kwik pada Mega ketika itu memang wajar, karena dia berhubungan dan bertukar pikiran langsung dengan Megawati. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak mengatakan bahwa Megawati mempunyai segala kwalitas sebagai Presiden R.I., tetapi jelas mempunyai banyak kwalitas yang krusial sebagai panutan. [estetic quotient]

Apa itu? Moral yang tinggi, integritas yang tinggi, tidak munafik, berani membela kebenaran, keadilan dan demokrasi tanpa memikirkan sedikitpun apa resiko untuk dirinya. [petualangan Kwik bersama PDI hingga kasus 27 Juli 96 ]. Mengapa saya mengatakan bahwa sifat-sifat dan karakter seperti ini adalah krusial untuk dijadikan panutan? Karena semua malapetaka yang sedang kita hadapi kalau ditelusuri sampai pada akar-akarnya, penyebabnya adalah moralitas yang rendah, tiadanya integritas, berkecamuknya KKN, kepalsuan, kemunafikan dan kepura-puraan.

Keteguhan Kwik pada Mega yang tersingkirkan oleh pemerintah, akhirnya berbuah manis. Setelah era orba jatuh dan dibarengin lahirnya reformasi, Megawati bersama PDI Perjuangan memenangi Pemilu 1999. Selama setahun kwik menjadi Anggota MPR/DPR-RI sekaligus menjadi Wakil Ketua MPR-RI. Gus Dur pun lihai melihat talenta dan semangat Kwik, maka iapun diangkat menjadi Menko Ekuin (1999-2000). Meskipun suara ‘kata reformasi’ berkumandang keras di negeri ini, namun masih banyak anggota Kabinet dan oknum pemerintah pada saat itu yang masih bermental kompeni, bermental asing, bermental korporasi, bermental korupsi,dan tentu saja Kwik sangat menentang itu. Apa daya mau dikata, hasrat Kwik untuk membersihkan kabinet kotor akhirnya diserang oleh orang-orang yang merasa kepentingannya terganggu. Maka berbagai isu miring dilontarkan pada pribadi Kwik. Dan berbagai desakan politik  busuk saat itu dan diiringi tudingan miring, akhirnya Gus Dur terpaksa memberhentikan Kwik sebagai Menko Ekuin. Dengan dilematis, Kwik mengundurkan diri dari Menko Ekuin pada tahun 2000.

Ketika terjadi pergolakan politik antara MPR (Amien Rais) dan Presiden (Gusdur) yang berakhirnya berhentinya Gus Dur dari kursi Presiden dan diangkatnya Megawati sebagai Presiden ke-5 RI, Kwik kembali diangkat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Men. PPN) merangkap Ketua Bappenas pada Kabinet Gotong-Royong (2001-2004).

Pergulatan Politik

Meskipun Kwik Kian Gie sudah ‘nyaman’ dalam posisi eksekuitf tinggi di negeri ini sebagai Menko Ekuin,  Men. PPN serta Kepala Bappenas, Kwik tidak berhenti mengambil keputusan saja sebagai menteri. Ia masih bersikap sebagai pengamat yakni sering melontar pendapat yang berbeda dari kebijaksanaan yang diputuskan kabinet atau pemerintah. Ketika suaranya tidak didengar di Kabinet atau tidak diundang pada sidang Kabinet yang penting, Kwik tidak segan-segan menegur dan mengkritisi menteri seposisinya bahkan seorang atasannya, Presiden Megawati. Tidaklah heran jika sekelompok menteri, segrup pengusaha, segerombolan negara kapitalis benci sama pendirian Kwik.

Akibatnya, tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong yang pada mulanya disebut The Dream Team itu menjadi terkesan amburadul. Tidak ada kordinasi. Ada yang berpendapat bahwa Menko Ekuin Dorodjatun Kuntjoro Jakti tidak mampu memimpin timnya. Tapi sebagian lagi menyatakan bahwa Kwik lebih baik mengundurkan diri dan kembali kehabitatnya sebagai pengamat. Kegaduhan tim ekonomi ini dimanfaatkan pula oleh kalangan politisi dan aktivis politik sebagai pintu masuk menyoroti lemahnya kepemimpinan Presiden Megawati. Ada juga yang memanfatkannya dengan menyarankan dilakukannya reshuffle kabinet sesegera mungkin.

Tapi Megawati tampaknya telah belajar dari ringan tangannya Gus Dur mengganti menterinya. Sehingga selamatlah Kwik dan tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong lainnya dari pemberhentian. Kwik sendiri sudah mengalami pergantian dengan ‘dipaksa’ mundurnya dia dari jabatan Menko Ekuin oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Ia ‘dipaksa’ mundur setelah ia dibuat frustrasi seperti ditulis Suara Pembaruan edisi Jumat (11/8 ) mengutip sumbernya, “Pak Kwik sering tidak tahan menghadapi ulah para menteri, utamanya yang dekat dengan Presiden, karena mereka tidak pernah mau datang ke rapat-rapat koordinasi.” Mereka juga menilai bahwa Kwik lebih pas sebagai pengamat ketimbang jadi eksekutif, pengambil keputusan. Hal yang sama hampir saja terjadi jika Kwik bukan kader PDIP dan jika Presiden Megawati menuruti keinginan para politisi dan pengamat. Hari ini mungkin Kwik tidak lagi sebagai eksekutif tapi sudah berkonsentrasi sebagai pengamat, dunia yang sangat dijiwainya.

Kwik Kian Gie yang Tidak Lupa Diri

Meskipun Kwik menjabat Menteri di Kabinet Megawati, hal ini tidak membuat Kwik hanya menikmati jabatannya. Pada tanggal 7-8 November 2001, Pak Kwik menyampaikan pidato yang sangat menusuk bagi CGI maupun pejabat-pejabat saat ini maupun tempo dulu. Sebagai Men. PPN dan kepala Bappenas, pidato Kwik mempunyai makna yang besar bagi bagi penyelenggaraan negara dan perekonomian kita, terutama bagi kehidupan moral bangsa kita, dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dewasa ini.

Dalam pembukaan pidatonya yang berjudul “Effective use of foreign aid” itu, ia menyatakan rasa malunya bahwa sebagai pejabat pemerintahnya ia terpaksa menjalankan tugas, yang pada intinya adalah untuk mengemis tentang persoalan utang, atas nama bangsa. Pernyataan Kwik sekaligus menyentil lembaga keuangan dunia yang selama ini ‘menjerumuskan’ Indonesia dengan utang. Persoalannya sederhana, lembaga keuangan dunia  tahu pasti bahwa sebagian utanngya, tidak kurang 30% dikorupsi, yang seharusnya bertentangan dengan syarat dari sebuah lembaga keuangan untuk memberikan pinjamannya. [skenario tingkat tinggi].

Yang juga amat menarik (dan amat penting) yalah ketika ia mengungkapkan bahwa ia sudah sering mengatakan hal-hal itu semua, dan bahwa ia telah ditegur oleh para ekonomis senior, yang di masa lalu telah, dan sekarang, masih memainkan peran penting dalam pengurusan ekonomi negeri kita, yang menganjurkan supaya ia tidak lagi memandang ke belakang saja dan supaya mulai melihat ke hari depan. Tetapi, katanya, ia tidak mau mendengarkan nasehat semacam itu, apalagi yang berasal dari para ekonomis yang telah mempunyai peran besar dalam menjadikan Indonesia menjadi bangsa pengemis.

Ekspresi yang digunakan Menteri Kwik Kian Gie adalah keras, atau tidak tanggung-tanggung!. Apalagi ketika ia mengatakan bahwa para ekonomis yang itu-itu jugalah yang telah melakukan mis-management dalam soal utang luarnegeri kita dan menggiring negeri kita ke dalam kesulitan-kesulitan kita dewasa ini. Oleh karena itu, ia berpendirian bahwa perlu sekali sering memandang ke belakang untuk mengetahui apa-apa saja yang menjadi sumber-sumber kesulitan atau sebab-sebab kesalahan itu. Adalah tidak fair dan tidak adil, katanya, bahwa mereka yang telah membikin kesalahan-kesalahan itu sekarang bisa memegang kekuasaan dan berusaha untuk menguburkan masa lalu. Mereka inilah yang menghalang-halangi orang-orang yang jujur dan memiliki kemauan baik untuk mengobati sebab dan akibat korupsi dan mis-management masa lalu, tegasnya.

Mengenai utang dalam negeri, yang sekarang sudah mencapai Rp650 trilyun, ia mengatakan bahwa ia dikritik karena telah terlalu banyak bicara tentang akibat-akibatnya. Menurutnya, kritik-kritik itu diucapkan oleh orang-orang yang ingin menutup-nutupi dan mengubur begitu saja ketidakadilan yang terjadi di masa lalu. Kritik-kritik ini datang dari para birokrat yang itu-itu juga yang telah membolehkan para pemilik bank untuk berulangkali melanggar batas-batas legal peminjaman uang, menyalurkan jumlah-jumlah besar uang para penyimpan uang ke dalam perusahaan mereka sendiri dengan cara peminjaman yang di mark-up. Kenyataan ini terlalu menyolok.

Tentang utang pemerintah, ungkapan Kwik Kian Gie di depan sidang internasional ini juga sangat pedas dan dengan bahasa yang polos pula ketika ia mengatakan : “Apakah utang-utang itu juga dikorupsi, sehingga kita tidak bisa membayarnya kembali, walaupun kita terus mengeduk satu lobang untuk menutupi lainnya? Bagi saya, jawabannya adalah jelas sekali. Profesor Sumitro Djoyohadikusumo, pendiri fakultas ekonomi dari Universitas Indonesia yang memiliki prestise tinggi, dan karenanya adalah guru yang amat terhormat bagi birokrat-birokrat yang berkuasa, pernah menyatakan bahwa paling sedikitnya 30% dari pinjaman yang diberikan kepada pemerintah Indonesia telah dicuri. Ini berarti bahwa paling tidak 30% pinjaman dari Anda sekalian telah dicuri”, katanya kepada para wakil negara donor dan badan-badan internasional yang hadir dalam sidang CGI itu.

Penutup

Begitulah kisah singkat perjuangan Kwik. Saya mulai mengagumi beliau sejak akhir 2007 ketika saya membaca buku John Perkins dan melihat kesamaan pemikiran dan pergerakan yang pak Kwik tawarkan,  seorang Tionghoa namun sangat nasionais dan cinta pada negeri ini. Di masa tuanya (74 tahun) ia tetap berusaha menuangkan ide-ide demi mengedukasi masyarakat agar mata saudara-saudara di negeri terbuka lebar.  Hentikan pembodohan oleh aparat pemerintah. Hentikan kebijakan yang membuat masyarakat menjadi kelas nomor ke-5 setelah kepentingan pengusaha, asing, politik dan kepentingan penguasaha. Ciptakan budaya berdirikari, dan tingkatkan moralitas bangsa.

Beberapa tulisan beliau membuat saya meneteskan air mata, karena masih ada orang tua seperti beliau yang mau berbagi ilmu pengetahuan dengan gratis. Dan saya yakin bahwa walaupun suara dan tulisan Pak Kwik tidak didengar oleh pemerintah saat ini, namun secara tidak langsung, pak Kwik telah memberikan harta karun terbesar buat saya dan buat sebagian rakyat yang merasakan ‘embun-embun’ pencerahan untuk berbakti pada negara dan rakyatnya.

Dan satu hal yang menarik ketika Kwik tampil di The Candidate, ketika Fifi Alayda Yahya menanyakan ‘apakah Bapak akan maju sebagai Capres 2009″. Kwik dengan tegas mengatakan “Tidak“. Lalu, Fifi menanyakan kembali, ‘Apakah dalam pikiran pak Kwik terlintas ingin menjadi Presiden?”. Sekali lagi pak Kwik menjawab, “Tidak sama sekali“. Beliau hanya berharap dapat menjadi penasehat presiden (wantimpres) dalam bidang ekonomi. Bukan kekuasaan yang ia incar, namun kontribusi yang tepat sasaran. Toh….beliau memang lebih tepat menjadi penasehat ekonomi asalkan Presiden 2009 adalah presiden yang ‘benar’. Benar artinya bukan bermental kompeni, liberal-kapitalis, pengemis utang luar negeri dan dalam negeri, dan hanya menjadi bangsa penonton (Blok Cepu, UU Migas, mendewakan kedatangan Bush dengan meng-jump sinyal HP di Bogor, obral BUMN : Indosat, Telkom + 38 daftar BUMN yang akan diobral 2008-2009 ).

Saya berharap, semoga harapan Pak Kwik ini terealisasi dan pemimpin 2009 ini adalah pemimpin yang didambakan oleh Kwik. [FYI : Kwik sendiri tidak merekomendasi Mega sebagai Capres. Kwik juga sangat mengkritisi pembingungan yang dilakukan pemerintah incumbent]. Disamping ituk, saya pun mulai menulis  dan mencoba mengikuti jejak langkah beliau. Walaupun saya tidak bertemu beliau secara langsung, tetapi saya merasakan getaran nasionalis dan ketulusan beliau untuk mewujudkan Indonesia baru sesuai dengan cita-cita para founding father bangsa Indonesia yang tertuang dalam UUD 1945 (sebelum amandemen). Meskipun suara dan pemikiran Anda tidak ditanggapi penguasa saat ini, namun saya yakin ’suara dan pemikiran’ Bapak kini sedang bersemai di ladang pemikiran kami. Kelak benih-benih yang Pak Kwik taburkan dapat tumbuh, berkembang dan menular kepada generasi kami. Semoga Kwik-Kwik baru muncul bertebaran di negeri ini, dan penguasa akhirnya mendengar konsepsi-mu.
Terima kasih pak Kwik…………Lanjutkan perjuanganmu..

echnusa, 31 Jan 2009

mudah-mudahan kita lebih banyak buka mata, buka telinga untuk mengerti mana sebenarnya yang harus diperjuangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s