Daily Archives: May 27, 2010

STAGNASI KADERISASI

Sekarang kita sedang memasuki zaman baru yaitu

zaman Ngomong bener tumindak bener, orang plintat plintut

akan ketinggalan (Sunardi Rinangkit)

Tulisan Sukardi Rinangkit tentang terpilihnya Anas di Partai Demokrat cukup menarik, intinya Sukardi mengapresiasi  kemenangan Anas sebagai kemenangan orang-orang berpendirian terhadap kartel politik yang ‘plintat-plintut’. Disini dia menulis tentang perlawanan Susno sebagai whistle blower, perlawanan Sri Mulyani terhadap ‘kartel politik’ (untuk yang ini saya pake curiga soalnya apa tidak sebaliknya SRI M yang anggota kartel ekonomi politik yang lebih besar?). Catatan penting saya adalah pada bagian akhir tulisan yang menyebutkan bahwa ada 3 masalah yang sedang dihadapi partai lain selain PD didalamnya ada PDIP, Golkar, PPP, PKB, PAN, Hanura, Gerindra dan PKS. Masalah itu adalah Stagnasi Kaderisasi, Pembelahan di tubuh partai dan Keterbatasan untuk menggerakkan mesin partai.

Bagaimana analisis Rinangkit ini bila digunakan untuk menilai PKS?  Walaupun tidak berada dalam kondisi yang kronis, gejala-gejala tersebut mulai dapat dirasakan dan kita sebagai kader harus memikirkannya secara matang agar tidak jatuh kedalam masalah yang disebut Rinangkit sebagai masalah yang dihadapi partai-partai.

Stagnasi Kaderisasi

Sebagai partai kader, PKS harus menjadikan kaderisasi sebagai agenda utamanya, karena kader-kader yang berkualitas dan dalam jumlah yang lebih banyak akan mengantarkan da’wah kepada cita-citanya lebih baik, syukur-syukur dapat lebih cepat. Maka bila ada masalah dalam kaderisasi maka ini berarti mesin partai (baca: jama’ah) akan benar-benar berhenti. Untuk bagian ini kita mendapatkan jaminan dari Allah bahwa akan selalu ada orang-orang yang komitmen dengan dakwah ini. Yang jadi masalah adalah apakah orang-orang yang mengusahakan terbentuknya kader itu kita atau orang (jamaah) lain? Hampir di semua level kepengurusan, kita dapat merasakan adanya stagnasi kaderisasi di PKS, walaupun ketika ada kemandegan di satu wilayah maka di wilayah yang lainnya ada kemajuan yang cukup berarti. Tetapi pertumbuhan yang sangat lambat harus diwaspadai secara seksama.

Beberapa penyebab kemandegan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Sistem yang tidak berjalan. Sistem inti kita adalah halaqoh, maka yang harus menjadi perhatian kita adalah berjalannya halaqoh yang dibawah standar, kita sering memberikan diskon dalam halaqoh-halaqoh kita. Apakah madah tarbiyah yang tidak diikuti karena ketidaksiapan atau ketidaksiapan murobbi, meniadakan beberapa agenda halaqoh seperti mutaba’ah, tidak melibatkan binaan pada aktivitas dakwah atau berbagai permasalahan yang muncul atau dimunculkan oleh kita sebagai subyek sekaligus obyek da’wah. Berikutnya sarana-sarana tarbiyah yang tidak dijalankan karena kepadatan agenda (‘kepadatan agenda’ yang harus diberi tanda Tanya, karena lemahnya maknawiyah akan menyebabkan setiap orang akan memiliki prioritas da’wah yang berbeda-beda).
  2. Kemalasan merekrut dan membina. Inilah masalah kronis yang lahir karena masalah yang pertama. Rasa malas yang seharusnya jauh-jauh dari karakter da’i. Bukankah seharusnya minimal sehari dua kali kita berdo’a dalam ma’tsurat untuk memohon agar dijauhkan dari sifat lemah dan malas?

Pembelahan

Untuk masalah ini PKS tidak mengalami masalah (yang besar). Tapi tetap saja harus ada system yang menjaga agar hal ini tidak terjadi. Sejarah jamaah telah mencatat, bahwa ada saja orang atau sekelompok orang yang insilah dari jama’ah. Isu pembelahan antara kaum muda dan senior ikhwan di Mesir sehingga terjadi pengunduran diri syaikh Mehdi Akif cukup membuat khawatir kalau hal ini adalah bibit-bibit perpecahan tersebut.

Untuk kasus Indonesia, fenomena FKP (walau istilah FKP sebetulnya kurang tepat) telah menjadi duri dalam daging dalam perjalanan da’wah partai. Tindakan sempalan ini yang mencela-cela di situs Eramuslim dan lainnya bisa menjadi virus yang terus menerus menyebar.

Kekurangan Dana untuk menjalankan mesin partai

Sebagian kader menyayangkan apabila kita tergusur kedalam pusaran kapitalisme, yang menganggap dana sebagai satu-satunya sumber kekuatan partai, jargon “shunduquna juyubuna’ menjadi tidak cukup lagi, karena juyub kader rata-rata recehan, tidak cukup untuk membiayai dakwah nasional yang butuh ongkos besar. Mungkin inilah resiko penikmatan kita terhadap system demokrasi yang sebetulnya tidak kita sukai. Disinilah titik dimana dibutuhkan kesabaran yang tinggi dari kader dalam ‘berikhtilat’ dengan demokrasi, sambil menjaga nurani agar tidak tergerus lindasan kapitalisme, demokrasi dan system yang mendukungnya.

Menjelang Munas PKS, mudah-mudaham dilahirkan rekomendasi strategis untuk mengarahkan kapal besar ini kearah yang lebih baik, amiiin.[bandung,25mei2010]

Advertisements

WASIT **BLOG

Mohon maaf apabila judul diatas kurang halus, tapi kalau kamu termasuk pemerhati sepakbola dalam negeri wabil khusus Persib Bandung, maka pasti tahu lah bahwa kata-kata diatas adalah jargon utamanya. Kata-kata tersebut akan kamu temukan di stiker atau merchandise bobotoh yang lainnya. Itu juga kata-kata yang diucapkan di stadion Siliwangi atau Jalak Harupat sebagai umpatan terhadap pengadil di lapangan tersebut. Kalau kita pikirkan lebih dalam, apa penyebab umpatan tersebut menjadi jargon utama? Mungkin ada dua hal:

  1. Kebiasaan masyarakat kita (secara umum) yang suka menyalahkan orang lain untuk sebuah kejadian yang tidak menyenangkan.
  2. Kualitas profesi wasit (sebagaimana kualitas-kualitas profesi yang lain) yang begitu dongo sehingga harus dilampirkan gelar kurang indah tersebut dibelakang nama profesinya.

Kebiasaan Menyalahkan

Ada sebuah penggalan puisi yang cukup terkenal tentang pendidikan anak:

Jika anak diajarkan menyalahkan

Maka mereka akan suka menyalahkan

Ini adalah proses pendidikan yang turun temurun. Masyarakat kita adalah masyarakat yang suka menyalahkan, mereka tidak mau dengan gentle mengakui bahwa ini kesalahan saya, ini kekurangan saya. Mengapa? Mungkin karena kalau kita mengaku salah atau kurang di negeri ini kita tidak akan mendapat penghormatan karena kejujuran kita tapi malah akan mendapatkan celaan dan stempel yang tidak habis-habis. Ini menyebabkan semacam trauma di pikiran kita, dari pada di’jejeleh’ disudutkan lebih baik mencari kambing hitam. Ada ketenangan psikologis ketika kesalahan sudah ditimpakan ke wajah orang lain. Bangsa kita bukan bangsa yang terbiasa untuk mengevaluasi diri. Padahal negeri yang suka mengevaluasi diri akan menjadi negeri yang hebat. Contohnya Jepang, karena konsep mengevaluasi diri yang tiada henti maka mereka bisa melahirkan budaya Kaizen. Bahkan evaluasi tiada henti terhadap penghamburan waktu dalam industry melahirkan konsep Just In Time. Walaupun kadang orang jepang agak lebayy, kalo pejabatnya gagal atau ternyata terpidana salah karena korupsi mereka melakukan seppuku atau hara-kiri.

Dibandingkan dengan menyalahkan orang lain untuk sebuah kegagalan, sebaiknya kita belajar melakjukan perbaikan terus menerus terhadap diri dan tim kita sehingga apapun yang dilakukan pihak eksternal ketika kulitas internal kita bagus maka kita tetap akan berprestasi. Jadi, nampaknya kita harus belajar mengevaluasi diri agar kita menjadi bangsa yang lebih baik. Kemauan mengevaluasi diri adalah kemauan untuk menjadi lebih baik, maka kita juga harus belajar memiliki visi ke depan yang lebih baik. Budaya menyalahkan harus diposisikan seproporsional mungkin, tidak boleh menyalahkan tanpa bukti. Memandang orang lain bersalah tanpa mengevalusi kesalahan diri sendiri adalah sebuah kenistaan. Thomas Jefferson mengatakan berusahalah untuk selalu membuat perbaikan diri sampai kamu tidak punya waktu lagi untuk melihat kesalahan orang lain.

Kualitas Profesi

Profesionalisme merupakan kata yang masih asing dalam dunia profesi kita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesi artinya bidang pekerjaan yang dilandasai pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan dsb) tertentu. Wasit jelas merupakan profesi yang butuh keahlian dan pendidikan. Bagaimanakah citra profesionalisme di Indonesia? Sayangnya  karena masalah mental, kebiasaan, atau uang (suapan) maka profesionalisme bisa dibeli. Prosedur bisa diatur. Istilah-istilah makelar kasus, damai.., pengadilan di tempat, dan lain-lain menggambarkan bagaimana profesionalisme kita bisa dibeli atau dipengaruhi.

Jadi, idiom bobotoh Persib tersebut bukan hal aneh, ini bagian dari kebudayaan kita.[]

Konservasi di Kuningan

Bandung, 24 Mei 2010

Setelah sekitar 10 tahun mendampingi kegiatan siswa Mifkho dalam acara Nature Research (NR) atau Pesantren Sains yang rutin diadakan keliling kota atau desa, kepedulian saya dengan konservasi cukup tinggi juga lho. Masih ingat tahun 2002 waktu bersama anak-anak Konus mendampingi  siswa melakukan vegetasi hutan di Gunung Tilu (yang sekarang terkena longsor dahsyat). Selain, tentu saja hobi camping yang dijalani sejak di remaja masjid dulu.

Kepedulian terhadap konservasi ini menumbuhkan rasa senang waktu denger Kuningan aka melaksanakan Pilot Project Konservasi. Menarik sekali pernyataan Bupati Kuningan, Aang Hamid yang mengatakan,”Saya berprinsip, jangan meninggalkan air mata (untuk generasi mendatang), tapi lebih baik meninggalkan mata  air”.  Ya, selain bermakna menjaga kelestarian alam sebagai sumber penghidupan kita, konservasi juga adalah gambaran kepedulian kita terhadap generasi yang akan dating. Rencananya di Kuningan juga akan dikembangkan kawasan Kebun Raya Kuningan (KRK) di Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan (dimana ya? Hehe perasaan belum pernah kesana ya..).

Yang saya tahu, Kuningan adalah daerah yang banyak memiliki mata air, otomatis menyebabkan kawasan hutan akan lebih mudah dikembangkan. Hubungan terbaliknya, hutan disana sangat perlu dipelihara agar mata air disana terpelihara. Pemerintah Kuningan harus mulai memperjelas rencana pembangunannya kearah agro yang menjadi keunggulan komparatif disbanding tempat lain. Tidak usahlah Kuningan membangun banyak mall dan took seperti kebijakan walikota Bandung. Jadi arahnya jelas, masyarakat Kuningan akan menjadi masyarakat yang agraris, tetapi agraris yang kaya. Tentu saja hal ini harus diimbangi dengan penguatan kelembagaan, selain kelembagaan pemerintah, memperkuat koperasi sebagai lembaga penghimpun hasil bumi juga harus diatur, agar pertanian tidak lagi jatuh ke masyarakat non pri yang kepedulian kepada masyarakatnya sungguh sangat kurang. Pemasaran sebenarnya bukan masalah buat Kuningan, karena letaknya yang dekkat dengan pelabuhan di Cirebon , atau jalan tol lintas utara yang menjadi urat nadi perekonomian sekarang. Jadi ..go go Kuningan! Be the best!

Sebagai kota yang belum terlalu ramai, Kuningan harus membuat rencana strategis pengembangan wilayahnya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, pengembangan sarana prasarana jalan yang menunjang pengedaran hasil produksi agro, pengembangan kawasan perumahan yang sesuai dengan kontur geografis Kuningan yang berbukit-bukit, dan pengawasan terhadap pengembangan produk pertanian dan pembukaan lahannya. Jika tidak diperhatikan secara seksama, pembangunan yang tidak teratur dan sporadic akan merugikan untuk jangka panjang, karena perkembangan kawasan yang tidak terencana akan menimbulkan masalah yang besar di kemudian hari. Keseimbangan pembangunan di daerah-daerah Kuningan harus merata agar tidak terjadi kesenjangan antara masyarakat yang akan mengancam pembangunan. Mudah-mudahan Kuningan telah melangkah ke arah yang benar.[]