STAGNASI KADERISASI

Sekarang kita sedang memasuki zaman baru yaitu

zaman Ngomong bener tumindak bener, orang plintat plintut

akan ketinggalan (Sunardi Rinangkit)

Tulisan Sukardi Rinangkit tentang terpilihnya Anas di Partai Demokrat cukup menarik, intinya Sukardi mengapresiasi  kemenangan Anas sebagai kemenangan orang-orang berpendirian terhadap kartel politik yang ‘plintat-plintut’. Disini dia menulis tentang perlawanan Susno sebagai whistle blower, perlawanan Sri Mulyani terhadap ‘kartel politik’ (untuk yang ini saya pake curiga soalnya apa tidak sebaliknya SRI M yang anggota kartel ekonomi politik yang lebih besar?). Catatan penting saya adalah pada bagian akhir tulisan yang menyebutkan bahwa ada 3 masalah yang sedang dihadapi partai lain selain PD didalamnya ada PDIP, Golkar, PPP, PKB, PAN, Hanura, Gerindra dan PKS. Masalah itu adalah Stagnasi Kaderisasi, Pembelahan di tubuh partai dan Keterbatasan untuk menggerakkan mesin partai.

Bagaimana analisis Rinangkit ini bila digunakan untuk menilai PKS?  Walaupun tidak berada dalam kondisi yang kronis, gejala-gejala tersebut mulai dapat dirasakan dan kita sebagai kader harus memikirkannya secara matang agar tidak jatuh kedalam masalah yang disebut Rinangkit sebagai masalah yang dihadapi partai-partai.

Stagnasi Kaderisasi

Sebagai partai kader, PKS harus menjadikan kaderisasi sebagai agenda utamanya, karena kader-kader yang berkualitas dan dalam jumlah yang lebih banyak akan mengantarkan da’wah kepada cita-citanya lebih baik, syukur-syukur dapat lebih cepat. Maka bila ada masalah dalam kaderisasi maka ini berarti mesin partai (baca: jama’ah) akan benar-benar berhenti. Untuk bagian ini kita mendapatkan jaminan dari Allah bahwa akan selalu ada orang-orang yang komitmen dengan dakwah ini. Yang jadi masalah adalah apakah orang-orang yang mengusahakan terbentuknya kader itu kita atau orang (jamaah) lain? Hampir di semua level kepengurusan, kita dapat merasakan adanya stagnasi kaderisasi di PKS, walaupun ketika ada kemandegan di satu wilayah maka di wilayah yang lainnya ada kemajuan yang cukup berarti. Tetapi pertumbuhan yang sangat lambat harus diwaspadai secara seksama.

Beberapa penyebab kemandegan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Sistem yang tidak berjalan. Sistem inti kita adalah halaqoh, maka yang harus menjadi perhatian kita adalah berjalannya halaqoh yang dibawah standar, kita sering memberikan diskon dalam halaqoh-halaqoh kita. Apakah madah tarbiyah yang tidak diikuti karena ketidaksiapan atau ketidaksiapan murobbi, meniadakan beberapa agenda halaqoh seperti mutaba’ah, tidak melibatkan binaan pada aktivitas dakwah atau berbagai permasalahan yang muncul atau dimunculkan oleh kita sebagai subyek sekaligus obyek da’wah. Berikutnya sarana-sarana tarbiyah yang tidak dijalankan karena kepadatan agenda (‘kepadatan agenda’ yang harus diberi tanda Tanya, karena lemahnya maknawiyah akan menyebabkan setiap orang akan memiliki prioritas da’wah yang berbeda-beda).
  2. Kemalasan merekrut dan membina. Inilah masalah kronis yang lahir karena masalah yang pertama. Rasa malas yang seharusnya jauh-jauh dari karakter da’i. Bukankah seharusnya minimal sehari dua kali kita berdo’a dalam ma’tsurat untuk memohon agar dijauhkan dari sifat lemah dan malas?

Pembelahan

Untuk masalah ini PKS tidak mengalami masalah (yang besar). Tapi tetap saja harus ada system yang menjaga agar hal ini tidak terjadi. Sejarah jamaah telah mencatat, bahwa ada saja orang atau sekelompok orang yang insilah dari jama’ah. Isu pembelahan antara kaum muda dan senior ikhwan di Mesir sehingga terjadi pengunduran diri syaikh Mehdi Akif cukup membuat khawatir kalau hal ini adalah bibit-bibit perpecahan tersebut.

Untuk kasus Indonesia, fenomena FKP (walau istilah FKP sebetulnya kurang tepat) telah menjadi duri dalam daging dalam perjalanan da’wah partai. Tindakan sempalan ini yang mencela-cela di situs Eramuslim dan lainnya bisa menjadi virus yang terus menerus menyebar.

Kekurangan Dana untuk menjalankan mesin partai

Sebagian kader menyayangkan apabila kita tergusur kedalam pusaran kapitalisme, yang menganggap dana sebagai satu-satunya sumber kekuatan partai, jargon “shunduquna juyubuna’ menjadi tidak cukup lagi, karena juyub kader rata-rata recehan, tidak cukup untuk membiayai dakwah nasional yang butuh ongkos besar. Mungkin inilah resiko penikmatan kita terhadap system demokrasi yang sebetulnya tidak kita sukai. Disinilah titik dimana dibutuhkan kesabaran yang tinggi dari kader dalam ‘berikhtilat’ dengan demokrasi, sambil menjaga nurani agar tidak tergerus lindasan kapitalisme, demokrasi dan system yang mendukungnya.

Menjelang Munas PKS, mudah-mudaham dilahirkan rekomendasi strategis untuk mengarahkan kapal besar ini kearah yang lebih baik, amiiin.[bandung,25mei2010]

One response to “STAGNASI KADERISASI

  1. stagnasi kaderisasi, mudah2n tak pernah terjadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s