WASIT **BLOG

Mohon maaf apabila judul diatas kurang halus, tapi kalau kamu termasuk pemerhati sepakbola dalam negeri wabil khusus Persib Bandung, maka pasti tahu lah bahwa kata-kata diatas adalah jargon utamanya. Kata-kata tersebut akan kamu temukan di stiker atau merchandise bobotoh yang lainnya. Itu juga kata-kata yang diucapkan di stadion Siliwangi atau Jalak Harupat sebagai umpatan terhadap pengadil di lapangan tersebut. Kalau kita pikirkan lebih dalam, apa penyebab umpatan tersebut menjadi jargon utama? Mungkin ada dua hal:

  1. Kebiasaan masyarakat kita (secara umum) yang suka menyalahkan orang lain untuk sebuah kejadian yang tidak menyenangkan.
  2. Kualitas profesi wasit (sebagaimana kualitas-kualitas profesi yang lain) yang begitu dongo sehingga harus dilampirkan gelar kurang indah tersebut dibelakang nama profesinya.

Kebiasaan Menyalahkan

Ada sebuah penggalan puisi yang cukup terkenal tentang pendidikan anak:

Jika anak diajarkan menyalahkan

Maka mereka akan suka menyalahkan

Ini adalah proses pendidikan yang turun temurun. Masyarakat kita adalah masyarakat yang suka menyalahkan, mereka tidak mau dengan gentle mengakui bahwa ini kesalahan saya, ini kekurangan saya. Mengapa? Mungkin karena kalau kita mengaku salah atau kurang di negeri ini kita tidak akan mendapat penghormatan karena kejujuran kita tapi malah akan mendapatkan celaan dan stempel yang tidak habis-habis. Ini menyebabkan semacam trauma di pikiran kita, dari pada di’jejeleh’ disudutkan lebih baik mencari kambing hitam. Ada ketenangan psikologis ketika kesalahan sudah ditimpakan ke wajah orang lain. Bangsa kita bukan bangsa yang terbiasa untuk mengevaluasi diri. Padahal negeri yang suka mengevaluasi diri akan menjadi negeri yang hebat. Contohnya Jepang, karena konsep mengevaluasi diri yang tiada henti maka mereka bisa melahirkan budaya Kaizen. Bahkan evaluasi tiada henti terhadap penghamburan waktu dalam industry melahirkan konsep Just In Time. Walaupun kadang orang jepang agak lebayy, kalo pejabatnya gagal atau ternyata terpidana salah karena korupsi mereka melakukan seppuku atau hara-kiri.

Dibandingkan dengan menyalahkan orang lain untuk sebuah kegagalan, sebaiknya kita belajar melakjukan perbaikan terus menerus terhadap diri dan tim kita sehingga apapun yang dilakukan pihak eksternal ketika kulitas internal kita bagus maka kita tetap akan berprestasi. Jadi, nampaknya kita harus belajar mengevaluasi diri agar kita menjadi bangsa yang lebih baik. Kemauan mengevaluasi diri adalah kemauan untuk menjadi lebih baik, maka kita juga harus belajar memiliki visi ke depan yang lebih baik. Budaya menyalahkan harus diposisikan seproporsional mungkin, tidak boleh menyalahkan tanpa bukti. Memandang orang lain bersalah tanpa mengevalusi kesalahan diri sendiri adalah sebuah kenistaan. Thomas Jefferson mengatakan berusahalah untuk selalu membuat perbaikan diri sampai kamu tidak punya waktu lagi untuk melihat kesalahan orang lain.

Kualitas Profesi

Profesionalisme merupakan kata yang masih asing dalam dunia profesi kita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesi artinya bidang pekerjaan yang dilandasai pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan dsb) tertentu. Wasit jelas merupakan profesi yang butuh keahlian dan pendidikan. Bagaimanakah citra profesionalisme di Indonesia? Sayangnya  karena masalah mental, kebiasaan, atau uang (suapan) maka profesionalisme bisa dibeli. Prosedur bisa diatur. Istilah-istilah makelar kasus, damai.., pengadilan di tempat, dan lain-lain menggambarkan bagaimana profesionalisme kita bisa dibeli atau dipengaruhi.

Jadi, idiom bobotoh Persib tersebut bukan hal aneh, ini bagian dari kebudayaan kita.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s