Monthly Archives: December 2010

Belanja di Palasari

Belanja di Palasari sekarang nggak menyenangkan lagi. Kalau dulu, sekitar 10-an tahun yang lalu kalau ke Palasari selain nyari buku juga bisa dipakai acara jalan-jalan refreshing, sekarang nyari buku di Palasari bisa bikin kepala pusing.

Dulu, Pasar Palasari berbentuk bangunan kayu lantai dua. Di lantai dua itu tempat penjualan buku, tiap kios menempati luas yang hampir sama, dengan bawaan lantai kayu yang dingin nyari buku disini memang adem, angin bisa menelusup ke lorong-lorong selasar antar kios. Lagipula kita bisa liat-liat buku tanpa harus direcoki “nyari buku apa de?” “nyari buku apa mas?”

Yang jelas, Palasari tempo dulu menunjukkan pasar persaingan sempurna deh. Harga buku Palasari kerasa sangat murah di banding buku ditempat lain lagi pula sampul buku pada waktu itu gratis adanya.

Kemudian malapetaka itu terjadi, pasar Palasari kebakaran, atau sengaja di bakar Pemerintah Kotamadya Bandung? Dugaan kesengajaan memang kuat, masalahnya pembangunan Pasar pengganti tidak ditempat asal Pasar, malah sekarang pasar tradisional yang menduduki lantai satu dulu sekarang ga ada lagi.

Sekarang, kondisinya berbeda. Ada dua kelas toko di Palasari. Kios-kios kecil yang menjual buku dikit banget dan seragam, rasanya susah nyari buku di sini, soalnya sedikit-sedikit ga ada, dikit-dikit ga ada. Kalo ga ada gitu, maka penjual buku akan ngobyek dengan mencari buku di kios lain, lalu ngambil marjin. Rugi dong kita. Jenis kedua adalah toko besar yang koleksinya banyak banget, saking banyaknya, buku -buku ditumpuk rapat dengan penyimpanan bertumpuk ke atas, dijamin, nyari buku disini susah banget. Untuk nyari satu judul aja bisa ngabisin waktu yang lama, buang waktu. Apalagi kalo butuh buku banyak dengan jenis yang berbeda-beda..puih bagusan ke Gramedia aja deh.

Sekarang, ke Palasari ga bisa sambil jalan-jalan dengan anak. Dengan kondisi seperti ini bisa jadi industri pemasaran buku disana akan redup. Paling-paling dikuasai oleh BBC yang udah buka cabang dimana-mana. Yang jelas kagak rameee. Kembalikan Palasari kami! mau rakyat pinter ga nih Pemerintah?

Advertisements

Kebiasaan Membaca dan Menulis

“Awali setiap subuhmu dengan menulis/mencatat karena dengan begitu membuatmu menjadi penulis.” ::Gerald Brenan

Luar biasa, ketika menelusuri blog-blog yang berisi resensi buku, untuk blogspot saja ada bukuygkubaca, akubuku, resensor dan lain-lain. Syukurlah ternyata para pembaca itu masih ada. Berarti kemajuan yang akan didapatkan negeri ini bukan mimpi.

Mejadi penulis (otomatis menjadi pembaca) adalah sebuah aktivitas yang akan membangkitkan kemajuan, semuanya dimulai dari pikiran. Para penggerak peradaban menyerukan semangat juang melalui tulisan. Rasyid Ridha atau Jamaludin al Afghani juga menebarkan fikiran lewat tulisan. Hasan al Bana membuat rosa’il untuk menyusun agenda perjuangan. Begitu juga dengan Muhamad Iqbal, Gandhi dan lainnya pejuang.

Mengawali hari dengan aktivitas menulis merupakan tantangan yang menggoda. Membiasakan diri mengemukakan pikiran menyebabkan kita harus mampu memformulasikan pikiran sebelum dinarasikan dalam tulisan. Otomatis kita harus memiliki pengalaman membaca. Membaca yang mencerna. Tapi bagaimana caranya kita memiliki tulisan yang menggerakkan? Itu adalah proses selanjutnya setelah kita terbiasa menulis, menulis yang menggerakkan adalah apabila kita mendalami dan mengerjakan tulisan dari dunia gerak. Atau kita memang sedang menuliskan gerakan kita yang pasti kita telah menjiwainya.