Dari Tarbiyah ke Jamaah Salamullah

Kemarin siang, selepas rapat pekanan perusahaan, Pak Syahrizal cerita tentang temannya Aar yang mengantarkannya ke pintu tarbiyah. Aar termasuk generasi awal, dan mungkin yang termasuk bersemangat di tarbiyah. Singkat cerita Pak Syahrizal mengatakan “tapi, tahu nggak sekarang dia dimana?” tentu saja kami geleng kepala wong kami beda zaman, sambungnya “dia sekarang jadi sekjen Lia Aminudin!” tentu saja saya terperanjat.

Keunikan Kesesatan

Di Indonesia, diketahui banyak sekali jamaah sesat, ada yang skala nasional, skala propinsi atau bahkan ada yang anggotanya 10 atau 20 orang saja. Ada yang ‘cukup’ rasional sampai yang sama sekali tidak masuk akal seperti ngaku jadi Tuhan, jadi Nabi atau ngaku jadi Iblis (?).

Awalnya mungkin karena ada perasaan unik dan istimewa pada diri pimpinan aliran, tapi sesungguhnya yang paling mengherankan adalah bagaimana mungkin mereka punya pengikut, termasuk pengikut dari kelompok terpelajar. Kesimpulan transenden, memang ada tazyin syaithan disitu, tapi alasan psikologisnya apa? apakah pikiran menjadi begitu tumpul untuk membedakan mana gerakan atau aliran yang benar dan yang salah? padahal kan bedanya jelas dan jauh banget. Contohnya kasus di atas, konon pak Aar ini merasa nyaman (atau pura-pura nyaman?)–dahsyatnya dia memutuskan keluar dari jamaah da’wah yang sangat keras memberikan batasan-batasan termasuk dalam pergaulan ke sebuah kelompok yang akhirnya bahkan menyerukan dan mendeklarasikan agama baru (hmm sungguh teer laaaluu-bang rhoma mode on).

Sebagian menyimpulkan, ini adalah gambaran ego seseorang yang tidak mau menjadi orang biasa-biasa aja. Menjadi pimpinan jadi impiannya walau dalam kelompok kecil. Masalah Jibril dan lain-lain ‘wahyu’ bisa direkayasa dan ngga ada bedanya dengan orang yang bekerjasama dengan jin yang selama ini kita kenal. Mungkin jin yang ini memang jin yang cukup sakti sehingga proyek penyesatannya juga dahsyat dan berjangka panjang.

Solusi

Ditengah kehampaan masyarakat yang katanya religius ini, harus ditumbuhkan budaya kritis, ini bisa dikembangkan dalam pengajian-pengajian. Jangan ada lagi dakwah monolog dari kyai yang tak boleh didiskusikan, membuat ajaran agama sesuatu yang untouchable. Pendidikan kepada masyarakat harus menyeluruh, tidak dipandang dari satu sudut sahaja. Sehingga kalau ditemukan ketidakpuasan menyebabkan lepasnya tali keimanan.

Allohu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s