Zona “Nyaman”

Saya punya beberapa teman, kita ambil saja dua contoh si A dan si B. Si A adalah teman masa lalu zaman SMA, sejak SMA fokusnya adalah karir, dia rencanakan hidupnya dengan baik, bagaimana mencapai karir tertinggi sehingga memiliki kehidupan yang mapan dalam usia muda. Wal hasil dia berhasil mencapai harapannya, kabarnya sudah menikah pula. Ideologi teman ini adalah karir, jika karir berhasil maka masalah-masalah lain akan terselesaikan dengan baik. Si A merasa berada pada zona nyaman dengan hasil kerjanya tersebut, dia tidak berpikir untuk memperjuangkan sebuah nilai A atau B atau Z, yang penting adalah bisa mencapai hidup senang dengan baik, sekali-sekali menyumbang buat anak yatim boleh lah.

Si B beda lagi, setelah hidup berumah tangga, B pergi dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, alasannya pekerjaan A terlalu cape, pekerjaan B ga enak jadi marketing 3 bulan ga dapet-dapet order, akhirnya 3 bulan ini nganggur. lama-kelamaan B dicurigai merasa nyaman ternak teri (anter anak anter istri) tanpa kerjaan tetap.

Sesungguhnya dua zona nyaman ini walaupun kutubnya berbeda, bukanlah keadaan yang ideal. Karena sesungguhnya hidup itu butuh keseimbangan. kenikmatan sesungguhnya bukanlah zona nyaman, zona nyaman seharusnya adalah sesuatu hal yang bisa dinikmati sekali-sekali. sesuatu itu menjadi nikmat karena jarang-jarang. Kita harus merasa nyaman jika dalam kondisi berjuang, bukan dalam kondisi individualis atau menganggur. Wallohu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s