Monthly Archives: April 2011

Ameung Ka Bandung

Bandung, ada lebih dari 1000 alasan anda untuk menjadikan Bandung sebagai salah satu tujuan avonturir. Bahkan orang-orang malaysia menjadikan kota ini referensi belanja, untuk menyebut beberapa tempat satu kasih contoh Dago, Pasar Baru, Gedung Asia Afrika, Saung Ujo, Lembang, Dago Pakar dan masih banyak lagi sesuai dengan apa tema kinjungan anda.
Tulisan mendatang, akan coba kita ulas setiap sudut kota kembang ini. Anda akan melihat sisi menarik cekungan ini, yesss

Advertisements

Car Free Day di Dago (an)

Kebudayaan dan peradaban bisa lahir dari kebiasaan dan event-event yang dibangun. Kebersamaan “rasa Sunda” bisa dirasakan di event car free day tiap ahad di daerah Dago kota Bandung. Sebagai orang sunda ngawangkong bari ngaso memang telah menjadi bagian dari kehidupan kesehariannya, ditunjukkan dengan konstruksi rumah mereka yg memberikan ruang ngawangkong di tepas imah dan di bale-bale. Keriangan juga dapat kita saksikan di acara ahadan ini.
Orang jalan-jalan, jualan pamer kabisa merupakan bagian yang mendominasi, tapi berkumpul disini memang bikin seger, ga percaya? Sok geura ikutan tiap ahad jam 6an.

Prabu Kian Santang

silsilah 1

asal usul kian santang

Prabu Kian Santang, namanya seakan-akan kabur antara nama dari dunia nyata dengan legenda, sebagaimana nama Prabu Siliwangi di wilayah Pajajaran. Nama sebenarnya adalah Raja Sangara atau Sunan Rohmat yang merupakan orang penting dalam penyebaran agama Islam di tanah Sunda. Menurut Ridwan Saidi, Prabu Kian Santang juga merupakan penyebar agama di tanah Betawi khususnya daerah Karawang, dulu, memang tidak ada pemisah antara tatar Sunda (yang diwakili oleh Kerajaan Pajajaran) dengan tanah Betawi. Posisinya sebagai menak atau turunan Raja menyebabkan da’wah Kian Santang cukup berpengaruh, latar belakang keilmuan dan keshalehannya adalah warisan dari ibunya Nyi Mas Subang Larang.

silsilah sunda

silsilah sunda

Kian Santang adalah anak dari Nyi Mas Subang Larang dengan Raden Pamanah Rasa (Pangeran kerajaan Pajajaran) yang awalnya diutus Prabu Anggalarang untuk menutup pesantren Syekh Quro, dimana Subang Larang menjadi murid disana. Sejarah Kian Santang tidak dapat diepaskan dari sejarah Syekh Quro seorang da’i asal Campa yang menyebarkan Islam di daerah Cirebon dan Karawang.

Riwayat Sang Ibu

Nyi Subang Larang adalah anak dari Ki Gedeng Tapa yang masih keturunan dari Prabu Wastu Kancana. Kedatangan Syekh Quro, da’i dari Campa yang masih keturunan Imam Husein bin Ali di Cirebon telah menarik minat Ki Gedeng Tapa untuk lebih mendalami tentang Islam.

Tetapi, Prabu Anggalarang yang tidak berkenan, memerintahkan Syekh Quro menghentikan dakwahnya, karena semangat memahami agama Islam yang tidak ingin terputus, Ki Gedeng Tapa menitipkan anaknya Nyi Mas Subang untuk ikut Syekh Quro ke Campa. Beberapa tahun kemudian, Syekh Quro kembali ke wilayah Pajajaran dengan menumpang Kapal Laksamana Cheng Ho. Syekh turun di Karawang dan mendirikan mushola yang mungkin menjadi Pesantren Pertama Jawa Barat di daerah Karawang. Dari sinilah awal kiprah Nyi Subang Larang sebagai da’iyah di Tatar Sunda.

Mengetahui Syekh Quro yang kembali, Prabu Anggalarang mengutus anaknya Raden Pamanah Rasa untuk menutup pesantren tersebut. Alih-alih menutup pesantren, Raden Pamanah Rasa malah tertarik oleh alunan merdu suara tilawah Qur’an Nyi Subang Larang (yang mewarisi keahlian gurunya, Syekh Quro). Pamanah Rasa masuk Islam dan menikahlah dengan Nyi Subang Larang yang sama-sama turunan raja. Mereka memiliki tiga anak yakni Raden Walangsungsang, Nyi Mas Rara Santang dan Raja Sangara atau lebih dikenal sebagai Prabu Kian Santang.

Mendalami sejarah penyebaran agama Islam di tatar Sunda nampaknya harus dimulai dari tokoh-tokoh utamanya seperti Syekh Quro, Nyi Subang Larang, Prabu Kian Santang dan seterusnya. Agar identifikasi keislaman orang Sunda menjadi jelas adanya, wallohu a’lam.