Pembelajaran di Alam Semesta

Sekarang, saya makin yakin, kalo orang tua punya segudang agenda untuk memperkaya jiwa, akal dan jasad anak lewat pengalaman-pengalaman yang sengaja dirancang untuk ‘menyempurnakan’ anak. Contohnya, membuat acara ke desa untuk membersamai alam, mengajarkan tentang tingkah laku burung pipit, mengajarkan bahwa di sawah bisa ditanami ikan-ikan kecil, mengajarkan bahwa butuh penghitungan yang tepat agar sawah berundak bisa diairi terus menerus, tentang malam yang berbintang di hari-hari cerah, mengajarkan rasi bintang, mengajarkan teknik memancing ikan di kolam untuk sekedar bisa membakar ikan agar terhindarkan lapar. Inilah sebenarnya konsep yang diingini oleh para penggagas Sekolah Alam. Mumpung alam kita sangat kaya, disamping mengajarkan anak tentang mengelola blog, sosial media atau apapun yang teknologi, anak juga bisa diajarkan teknologi pertanian, teknologi pengairang, transportasi dan lain sebagainya.

kids at waduk darma

belajar biota di danau

Learning by Doing

Belajar dengan mengerjakan dan menjalani pengalamannya akan lebih mengena jka dilakukan di alam, apalagi kalo anak sudah pernah mendapatkan teorinya di sekolah. Orang tua yang dengan sadar merancang pembelajaran dengan selalu mengaitkan dengan materi yang bisa ditemui di buku pelajaran, akan mengambil kesimpulan bahwa pembelajaran di alam akan melejitkan begitu banyak dimensi pembelajaran dan kecerdasan anak.

Pengalaman saya membawa keluarga ke Kuningan 2 hari lalu cukup memberikan pengalaman yang banyak, ternyata dengan perjalanan jauh kita bisa membekali keterampilan packing  (mempersiapkan apa saja barang yang bisa dibawa anak-anak) disini anak-anak belajar tentang perencanaan–biasakanlah untuk menyiapkan catatan. Anak-anak diajari fiqih perjalanan, seperti shalat jama-qoshor beserta syarat-syaratnya. Tentang biota air, beda air tawar dengan air laut, tanaman apa saja yang bisa hidup di air, tentang ilmu sosial menghitung pengeluaran dan melakukan penghematan, tentang pohon keluarga, tentang tingkah laku tupai dan berbagai masalah lain yang akan membuat sebuah jalur sambungan antara struktur ilmu yang belum rapi yang teronggok di pikiran anak.

Dengan model ini anak akan semakin matang, bayangkan kalau kurikulum ini dijalankan dengan disiplin.

mancing seperti nelayan

mancing seperti nelayan

Saya suka heran, dengan sekolah yang mencukupkan diri belajar di ruang-ruang kelas (belajar ke luar kelas untuk berada di sekeliling sekolah aja udah untung) — berkilah untuk mengejar target kurikulum tapi menjelang UASBN atau UN harusdigeber dengan bimbingan belajar. Ini pendidikan kosong, nol besar, sekolah tidak memberikan apa-apa. Hal ini juga berlaku untuk sekolah-sekolah di pedesaan, dalam kesempatan-kesempatantertentu mereka harus diajak ke Kota atau pusat-pusat keunggulan teknologi. Adalah hal yang bagus jika ada spesialisasi sekolah sesuai kondisi daerahnya. Inilah pendidikan terdiferensiasi. Mengajarkan teknologi perairan di Papua atau Kalimantan lebih relevan daripada mengajarkan tentang Kereta Api. Begitulah.. lain kali kita bisa sharing lagi ya..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s