Pasar Tradisional (akankah punah?)

umi belanja

korban hukum supply demand

Puluhan tahun, Pasar Tradisional sudah menjadi ikon interaksi sosial masyarakat, Pasar bukan saja menjadi tempat memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi ia telah menjadi wahana komunikasi sosial, transformasi pemikiran dan perasaan yang dipendam oleh warga masyarakat. Pasar dalam lenskep kota masa lalu (yang bertahan hingga kini di beberapa tempat) selalu ditempatkan berdekatan dengan kantor pemerintahan, lapangan kota dan masjid. Pasar telah menjadi ciri sebuah tempat berperadaban. Dimana ada pasar maka disitu terletak peradaban yang telah berkembang, karena para pedagang adalah sumber transformasi informasi yang sungguh ideal. Karena jenis pasar ini tumbuh kembang beriringan dengan tradisi masyarakat, maka kemudian kita menamakannya Pasar Tradisional.

Pasar adalah tempat mencari nafkah, begitu banyak masyarakat terlibat di dalamnya, sebuah Pasar Sempurna, siapapun boleh berniaga di dalamnya. Menyenangkan, itulah suasana yang diterbitkan oleh Pasar-Pasar Tradisional sebuah potret yang dapat ditangkap sebagai interaksi budaya, kehidupan sosial yang sangat komunal. Tidak ada yang individual disana.

Tetapi, nasib Pasar Tradisional kini telah mengalami pergeseran ke pinggir. Modernisasi a la kapitalisme telah melahirkan supermarket, hypermarket, sampai minimarket. Hampir tidak ada ruas jalan yang tersisa tanpa minimarket nagkring disana. Tempat yang bersih ber-AC menjadi daya tawar yang menyebabkan kunjungan ke market (yang artinya pasar juga) lebih banyak. Apalagi watak sebagian masyarakat perkotaan kita yang kormod (korban mode), rasanya lebih gaya ke mini market walau hanya untuk beli permen.

pasar kircon
pasar tradisional-butuh keberpihakan

Kalau anda turun ke Pasar dan bertanya kepada para pedagang tentang omzet, kebanyakan mereka terutama pedagang-pedagang jongko kecil akan bercerita bahwa banyak teman-teman mereka yang telah gulung tikar. Salah satu penyebabnya adalah kehadiran market-market itu.

Mengembalikan kekuatan pasar tradisional berarti juga mengembalikan keberpihakan kepada masyarakat pedagang kecil. Butuh political will agar pasar bisa dikembalikan pada posisi idealnya. Butuh keberpihakan pemerintah untuk melindungi para pedagang kecil itu.

 
(bersambung)
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s