Monthly Archives: October 2011

Komodo masuk seven wonders?

7 wonders

7 wonders

Sekarang lagi rame mempromosikan Komodo masuk World’s Seven Wonders tidak tanggung-tanggung mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi duta mengerahkan dukungan Komodo menjadi salah satu keajaiban dunia. Seberapa penting sih Komodo dimasukkan daftar tersebut? tentu saja ada manfaatnya setidaknya sebagai ikon promosi pariwisata, keunikan ini menyebabkan orang penasaran berwisata ke Pulau Komodo kan? Yaa ga ada salahnya sih menjadikan salah satu keunikan sebagai peningkat nilai jual. Tapi kenapa saya terdengar sinis ya?

Ditengah Pemerintah yang dikritik habis-habisan yang tidak punya strategi dalam menjaga dan mempertahankan pulau-pulau miliknya, terutama pulau terluar maka kampanye Komodo jelas menimbulkan kesinisan. Betapa terjadi pilih kasih, rupanya Pemerintah kita baru ngeh dan bereaksi kalo sesuatu sudah jadi masalah atau mendapatkan manfaat dari isu tersebut. Menerima dulu baru memberi, manajemen negara yang tidak punya konsep.

Memang penting menjadikan salah satu kekhasan menjadi sesuatu yang dikenang dan dikenal, jangan lupa juga menyiapkan sarana dan prasarana agar promo ini tidak menjadi sia-sia. Menjadikan Pulau Komodo menjadi barang mahal semacam  Bali membuat ironi, yang berkunjung banyak-banyak kesana kan turis asing selain wisatawan lokal. Konon ketika puncak musim liburan, lebih banyak terdengan suara-suara bahasa Australian daripada bahasa yang lainnya.

Harus diperhatikan dan ditunjukkan juga perhatian kita dalam menjaga habitat Komodo, jangan hanya dipromosikan tetapi kita sendiri tidak menjaga aset-aset tersebut. Kan sayang, kalau Komodo menjadi simbol yang diperjuangkan sekarang sementara hal tersebut tidak berlangsung lama. Seperti biasa kita suka lalai. Hhhh .. positif ..positif .. saya berusaha positif untuk hal ini, harus ada semacam LSM Swasta yang melaksanakan aktivitas konservasi Komodo. mempertahankannya sehingga anak cucu kita masih bisa melihat dan menikmatinya, ada sebuah keajaiban purba di salah satu pulau negaranya.

Advertisements

Desa Setara

Jumlah desa di seluruh Indonesia pastinya lebih banyak daripada kota. Karena secara demografis, kota adalah desa yang berkembang baik jumlah penduduknya, kerapatan penduduknya, sampai pendapatan per kapitanya (yang terakhir ini harus ditelaah apa memang betul seperti itu). Secara sadar ataupun tidak, kita sering mengidentikkan keculunan, ketertinggalan dengan desa. Dia orangnya Ndeso .. dengan tujuan mengatakan bahwa dia banyak ketinggalan, dusun. Padahal disisi lain Desa menyimpan keasrian dan keaslian yang kondisi ini merupakan kondisi yang dimiliki oleh kota-kota kecil di Barat sana. Di Eropa atau Amerika Serikat, kota-kota kecil hanya berpenduduk ribuan saja, tidak bising bahkan boleh jadi warga kota akan saling mengenal karena kecilnya. Hijau dan tidak bising.

Jika pembangunan diarahkan menuju westernisasi (diakui atau tidak) maka seharusnya pola yang baik-baik ini harus ikut diadopsi. Manajemen serapi kota, ada dewan kota sebagai lembaga legislasi, pembangunan terencana dan akses informasi yang tidak kedodoran, maka dia akan mewujud menjadi tempat tinggal yang menyenangkan.

desa cisalak subang

desa cisalak subang

Sebagai contoh kasus saya ambil profil sebuah desa yang pernah saya kunjungi, Desa Cisalak Kabupaten Subang. Sebuah desa bisa dikembangkan menjadi wilayah yang tidak ditinggalkan oleh SDMnya, terbengkalai tanpa arah dengan menyiapkan sebuah visi pembangunan yang jelas, pemimpin yang kuat (strong leadership), masyarakat yang kompak akan membawa pada sebuah desa yang maju. Kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa anak-anak desa tertarik pergei ke kota? karena mereka mengharapkan kemajuan dalam sisi pendidikan dan kesejahteraan. Maka logika nya jika kita siapkan sebuah peradaban di desa yang dapat menjangkau harapan-harapan warganya, proses Urbanisasi akan minim.

Secara infrastruktur desa harus dikembangkan sehingga memiliki:

  • Akses jalan yang baik — sehingga arus distribusi produksi desa akan menjadi lancar
  • Pasar — sebagai ikon pertumbuhan ekonomi, selayaknya memberikan pelayanan terhadap seluruh kebutuhan warga.
  • Sekolah — minimal sampai jenjang SMA — dengan kualitas yang baik– agar  layanan pendidikan sampai tingkat menengah atas cukup dipenuhi di desa saja
  • Akses Informasi — media massa harus sampai ke desa, terutama akses internet (yang sehat) agar tidak ada kesenjangan informasi antara masyarakat desa dengan masyarakat kota.

Persyaratan-persyaratan ini jika dipenuhi akan membawa desa menjadi partner setara kota, pembangunan akan berjalan secara berimbang. Ketimpangan antara kota dan desa, Jakarta dengan kota-kota lain, Jawa dengan pulau yang lain, daerah yang dekat dengan pusat kota atau daerah perbatasan akan berlomba menjadi mitra yang sejajar.

Cisalak, sebuah desa di Kabupaten Subang termasuk diantara desa yang memiliki modal menuju desa setara. Sebuah desa yang memiliki kondisi geografis mendukung untuk dikembangkan bisnis agro dengan pembaikan disana sini. Desa ini hanya 1,5 jam dijangkau dengan kendaraan dari kota Bandung. Jika kita naik kendaraan umum dari terminal Ledeng Bandung ke Subang kita akan dihantarkan sampai jalan Cagak yang merupakan persimpangan arah ke Subang kota dengan perkebunan teh. Cisalak cukup terkenal karena menjadi tempat produksi air Aqua — seharusnya bahkan CSR bisa didapatkan  desa Cisalak dari perusahaan besar ini.

Begitulah dengan rancangan diatas, sebuah desa akan tumbuh menjadi lebih baik, khusus tentang Desa Cisalaknya kita bahas lain kali ya.

Belitung: next target

Googling tentang Belitung di belitungisland.com, atau nonton Laskar Pelangi, kita bersirobok dengan indahnya pantai-pantai di Belitung. Ini target selanjutnya, setelah kontak-kontakan dengan temen yang orang sana, dan seorang bibi yang lagi merantau ke Bangka, nampaknya sudah ditekadkan, Desember 2011 (pas liburan) Belitung Island adalah target selanjutnya. Backpacking maaan

tanjung kelayang

tanjung kelayang

Mengunyah Ide

Dalam Demokrasi, kebebasan seseorang untuk berpendapat sangat dihargai, mencari titik temu yang terbaik adalah model perkawinan ide yang ideal, jadi win-win solution yang coba dihadirkan. Secara alami, kita sering bereaksi kurang pas untuk ide-ide yang nampaknya bertentangan dengan ide kita. Kedewasaan berdemokrasi mengajarkan agar kita tidak memahami ide orang lain dengan reaksioner. Mengunyah ide tersebut adalah hal yang seharusnya dilakukan, didalamnya ada proses memahami, menganalisis kemudian kita bisa memberikan reaksi yang tepat.

Sosok Gus Dur almarhum adalah contoh pelontar ide yang sering kali dipandang nyeleneh, menimbulkan reaksi kemarahan and so on. Membentuk musuh dan pendukungnya sendiri, kemudian orang dipaksa membuat tafsir akan apa yang disampaikan GusDur. Gus Dur bergelas “Pejuang Demokrasi”, karena apa yang dia sampaikan sesungguhnya sedang memberikan trigger kedewasaan berpikir dan berbeda pendapat. Biasanya, kita harus memahami systemthinking agar mampu mencerna pendapat atau ide seseorang, memang ada yang ngawur tidak menggunakan pola berpikir sistemik.

Dimasa kini, –setidaknya ketika tulisan ini diangkat– sedang rapai polemik tentang pembubaran KPK, organisasi superbody yang kini begitu ditakuti, lebih ditakuti daripada kepolisian dan kejaksaan (padahal elemen KPK ya orang-orang kepolisian dan jaksa juga). Ada sosok Fahri Hamzah (politisi PKS) yang maju mengguncang kemapanan dengan usul pembubaran KPK. Jika kita memahami sistem berpikirnya maka kita akan memahami apa tujuan pengungkapan ide tersebut. Sebenarnya bukan bubarnya institusi pemberantasan korupsi, tapi sebuah kritik besar akan timpangnya fungsi pemberantasan korupsi yang seharusnya ditangani oleh polisi dan kejaksaan. KPK adalah exit plan, sebuah cara untuk percepatan dan tidak dibuat untuk selama-lamanya. Konon di Hongkong, komisi semacam ini mampu menghasilkan perubahan signifikan hanya dalam 3 tahun, KPK ? malah dicurigai hanya jadi gagah ketika sesuai dengan kepentingan “tertentu”. Main tebang pilih dan hanya menggarap yang kecil-kecil dan tidak beriko. Lebih banyak nyari popularitas dan seterusnya.

Intinya, polemik yang sedang terjadi menunjukkan kemalasan masyarakat bangsa kita untuk mengunyah ide dan mengambil pelajaran dari ide tersebut. Dimana mulainya? di bangku-bangku sekolah kita.

BackPack : (lebih) Mencintai Indonesia

Membaca buku Meraba Indonesia (karya Ahmad Yunus) tentang perjalanan mereka meraba pinggir-pinggir batas wilayah nusantara memakai motor sungguh telah menambahkan raca cinta yang semakin tebal terhadap Indonesia. Betapa orang-orang dan masyarakat yang jauh di batas-batas pulau terluar telah sebegitu ditelantarkan–tapi tetap dituntut untuk mencintai tanah air. Bagaimana kondisi sulitnya transportasi di pulau-pulau tersebut, tentang ketimpangan. Saya pikir, Yunus disini cukup sukses menampilkan wajah eksotis Indonesia. Dampak baiknya .. saya sangat ingin segera ber-backpack sederhana.

meraba

buku meraba Indonesia

Sederhana, karena saya belum bisa sespektakuler Farid Gaban atau Trinity yang memang niat banget, saya cuma ingin merasakan tanah air dengan suasana yang lain. Perasaan yang selalu hadir ketika berkunjung ke tempat-tempat yang baru .. sendirian. Bagaimana suasana Dompu, desa Kilo yang berada di bibir pantai ujung sumbawa sana, atau suasana Bandara Ngurah Rai yang banyak bulenya – orang-orang jauh yang berkelana.  Perasaan perjalanan sendirian (naik travel dg penunpang dua orang) ke Purwokerto, melalui Gombong, Kebumen dan seterusnya cukup menggoda untuk terus berkelana. Ah banyak sekali kenikmatan suasana terpencil itu.

Ransel sudah disiapkan, dana lagi dikumpulkan, kayaknya jangan dilewatkan nih, sekedar menyusuri kota-kota teman lama, atau pelosok-pelosok yang belum terjamah.