Mengunyah Ide

Dalam Demokrasi, kebebasan seseorang untuk berpendapat sangat dihargai, mencari titik temu yang terbaik adalah model perkawinan ide yang ideal, jadi win-win solution yang coba dihadirkan. Secara alami, kita sering bereaksi kurang pas untuk ide-ide yang nampaknya bertentangan dengan ide kita. Kedewasaan berdemokrasi mengajarkan agar kita tidak memahami ide orang lain dengan reaksioner. Mengunyah ide tersebut adalah hal yang seharusnya dilakukan, didalamnya ada proses memahami, menganalisis kemudian kita bisa memberikan reaksi yang tepat.

Sosok Gus Dur almarhum adalah contoh pelontar ide yang sering kali dipandang nyeleneh, menimbulkan reaksi kemarahan and so on. Membentuk musuh dan pendukungnya sendiri, kemudian orang dipaksa membuat tafsir akan apa yang disampaikan GusDur. Gus Dur bergelas “Pejuang Demokrasi”, karena apa yang dia sampaikan sesungguhnya sedang memberikan trigger kedewasaan berpikir dan berbeda pendapat. Biasanya, kita harus memahami systemthinking agar mampu mencerna pendapat atau ide seseorang, memang ada yang ngawur tidak menggunakan pola berpikir sistemik.

Dimasa kini, –setidaknya ketika tulisan ini diangkat– sedang rapai polemik tentang pembubaran KPK, organisasi superbody yang kini begitu ditakuti, lebih ditakuti daripada kepolisian dan kejaksaan (padahal elemen KPK ya orang-orang kepolisian dan jaksa juga). Ada sosok Fahri Hamzah (politisi PKS) yang maju mengguncang kemapanan dengan usul pembubaran KPK. Jika kita memahami sistem berpikirnya maka kita akan memahami apa tujuan pengungkapan ide tersebut. Sebenarnya bukan bubarnya institusi pemberantasan korupsi, tapi sebuah kritik besar akan timpangnya fungsi pemberantasan korupsi yang seharusnya ditangani oleh polisi dan kejaksaan. KPK adalah exit plan, sebuah cara untuk percepatan dan tidak dibuat untuk selama-lamanya. Konon di Hongkong, komisi semacam ini mampu menghasilkan perubahan signifikan hanya dalam 3 tahun, KPK ? malah dicurigai hanya jadi gagah ketika sesuai dengan kepentingan “tertentu”. Main tebang pilih dan hanya menggarap yang kecil-kecil dan tidak beriko. Lebih banyak nyari popularitas dan seterusnya.

Intinya, polemik yang sedang terjadi menunjukkan kemalasan masyarakat bangsa kita untuk mengunyah ide dan mengambil pelajaran dari ide tersebut. Dimana mulainya? di bangku-bangku sekolah kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s