Monthly Archives: November 2011

Desa Bersahaja

Gapura Keluar dari Desa Kertawirama

Gapura Keluar dari Desa Kertawirama

Desa yang bersahaja, itulah kesan yang selalu melekat tentang desa tempat kelahiranku ini, “asa wararaas”  ketika melakukan googling dan mata kepentok dengan foto tempat yang telah menjadi jalan terlahirnya saya ke dunia. Ya, setelah puluhan tahun meninggalkan desa kelahiran dan hanya sekali-kali saja kembali untuk bersilaturahim yang saya perhatikan hanyalah suasana yang tetap bertahan begitu lama. Masyarakatnya, memang ada yang bermobil sekarang, tapi saya yakin itu tidak didapatkan dari tanahnya, tapi mungkin karena hasil usaha di perantauan atau berdagang di lain daerah.  Desa bersahaja ini, kendati subur makmur belum memberikan hasil tani yang bisa meningkatkan perekonomian, mungkin belum dikelola secara baik.

Saya menemukan penduduknya lebih memilih menjadi PNS Guru, mengembara ke Jakarta (atau ke Jawa) entah dikemanakan lahan tanahnya sehingga angka buruh tani kini semakin meningkat. Tanah subur ini tidak memberikan kemakmuran. Tengok saja salah satu potensi pariwisatanya, Curug Bangkong, belum pernah dipromosikan secara baik. Hingga kini, hampir tidak ada wisatawan yang sengaja menjadikannya tujuan selain karena kebetulan. Saya yang lahir disana saja, perasaan baru 2 atau 3 kali kesana, walaupun sejuk, tapi terlalu sepi untuk bisa bertahan lebih dari 1 jam, atau karena tidak ada sarana penunjang disini.

curug bangkong

curug bangkong

Curug Bangkong terlalu sepi untuk dijadikan objek, sebaliknya juga terlalu riskan buka warung di objek yang sekali dua saja dikunjungi orang. Posisinya memang tersembunyi, wong Waduk Darma yang terbuka saja tetap sepi pengunjung.  Bagaimanapun, Desaku memang bersahaja, perlu sentuhan tangan-tangan kreatif untuk menjadikannya menarik. Sayalah itu? Pernah terpikir untuk secara rutin mengunjunginya dan memberikan “sentuhan aktivis” kepadanya. Tapi kesibukan perkotaan belum memungkinkanku melaksanakannya sekarang.

Syukur, kebersahajaan desa itu juga berarti masyarakatnya yang masih murni, tanpa prasangka, dan siap menerima sentuhan dari siapa saja, sentuhan perubahan. Gunung Ebun yang dingin (saya hanya mengenalnya sebagai pekuburan yang ditandai kalong yang bergelantungan) hampir tak tersentuh perubahan. Padahal potensi air dan tanahnya luar biasa hebat untuk bercocok tanam, dan beternak. Yang dibutuhkan adalah jalan-jalan atau gang yang menghubungkan titik-titik tersebut. Tidak mudah, karena itu berarti pekerjaan cut and fill jalan-jalan setapak yang berkelok-kelok dan naik turun. Tapi itu pilihan yang harus diambil. PNPM sudahkah masuk ke desaku?

Blog ini adalah langkah awalku untuk membuat perubahan. Ada pola berpikir yang harus diubah, ada sarana prasarana yang harus disiapkan, ada masyarakat yang harus ditingkatkan penghasilannya, harus ditingkatkan daya juangnya. Ada tokoh-tokoh yang harus dipacu jiwa revolusionernya, jiwa kerja keras.

Desaku yang amat kucintai, harus diselamatkan setiap jengkal tanahnya agar menjadi lahan-lahan produktif. Ditanami dengan pelbagai bibit, pohon jati, rasamala, alba atau bahkan buah-buahan. Dibuat kandang-kandang untuk ternak yang produktif, kolam-kolam ikan yang menyuplai kebutuhan pangan Cirebon atau Bandung. Bismillah, ide ini harus diwujudkan.

Advertisements

SEA Games penuh kecurangan?

SEA Games baru saja berlalu, Indonesia menjadi juara umum, semua mafhum itu karena kita jadi tuan rumah. Bukan menyepelekan, tapi menjadi tuan rumah memang memberi banyak peluang. Dari yang positif sampai yang negatif. Jadi tuan rumah menyebabkan kita memiliki keunggulan karena sangat mengenal venue dan lapangan. Tidak ada kendalan apa-apa. Tapi, karena venue untuk Sea Games selesai beberapa hari sebelum sukan digelar, maka kelebihan itu tidak kesampaian. Yang ada, adalah pertanyaan .. adakah kemungkinan yang lain?

Oke mungkin karena atlet kita memang berbakat, tapi menjadi juara dengan jarak perolehan emas segitu banyak? Oke di Thailand aja ketika dia jadi tuan rumah sekaligus jadi juara juga ada keberuntungan dibuat-buat untuk tuan rumah. Tapi? apa kita harus ngikutin?

Kenapa saya curiga ada kecurangan? sebagai warga negara, saya hafal watak sebagian warga kita terutama pemimpinnya. Demi kebanggan, seorang menteri dan model pejabat lain sanggup berbuat nista agar dimuka kelihatan bagus. Ini tidak bisa ditutupi, mental sebagian kita memang begitu, maen dukun biar menang. Nyogok wasit, mempersulit lawan dan lain-lain adalah wajah keseharian kita. Bahkan kalau anda liat You tube tentang naifnya pesilat kita yang lari-lari ketakutan ketika di laga .. maka yang kita dapat simpulkan adalah .. sungguh memalukan.

Tidaklah penting kebanggan yang dibangun dari kepalsuan. Kita harus membangun budaya sportivitas — yang seharusnya dibangun dari kegiatan olah raga. Janganlah olah raga dicelupi kepentingan-keentingan politik sesaat. Demi kebanggan saat kampanye, maka amankan juara umum apapun caranya. Yang penting citra!! pas banget dengan presidennya yang suka bersolek. Yang penting citra. whew!!