Desa Bersahaja

Gapura Keluar dari Desa Kertawirama

Gapura Keluar dari Desa Kertawirama

Desa yang bersahaja, itulah kesan yang selalu melekat tentang desa tempat kelahiranku ini, “asa wararaas”  ketika melakukan googling dan mata kepentok dengan foto tempat yang telah menjadi jalan terlahirnya saya ke dunia. Ya, setelah puluhan tahun meninggalkan desa kelahiran dan hanya sekali-kali saja kembali untuk bersilaturahim yang saya perhatikan hanyalah suasana yang tetap bertahan begitu lama. Masyarakatnya, memang ada yang bermobil sekarang, tapi saya yakin itu tidak didapatkan dari tanahnya, tapi mungkin karena hasil usaha di perantauan atau berdagang di lain daerah.  Desa bersahaja ini, kendati subur makmur belum memberikan hasil tani yang bisa meningkatkan perekonomian, mungkin belum dikelola secara baik.

Saya menemukan penduduknya lebih memilih menjadi PNS Guru, mengembara ke Jakarta (atau ke Jawa) entah dikemanakan lahan tanahnya sehingga angka buruh tani kini semakin meningkat. Tanah subur ini tidak memberikan kemakmuran. Tengok saja salah satu potensi pariwisatanya, Curug Bangkong, belum pernah dipromosikan secara baik. Hingga kini, hampir tidak ada wisatawan yang sengaja menjadikannya tujuan selain karena kebetulan. Saya yang lahir disana saja, perasaan baru 2 atau 3 kali kesana, walaupun sejuk, tapi terlalu sepi untuk bisa bertahan lebih dari 1 jam, atau karena tidak ada sarana penunjang disini.

curug bangkong

curug bangkong

Curug Bangkong terlalu sepi untuk dijadikan objek, sebaliknya juga terlalu riskan buka warung di objek yang sekali dua saja dikunjungi orang. Posisinya memang tersembunyi, wong Waduk Darma yang terbuka saja tetap sepi pengunjung.  Bagaimanapun, Desaku memang bersahaja, perlu sentuhan tangan-tangan kreatif untuk menjadikannya menarik. Sayalah itu? Pernah terpikir untuk secara rutin mengunjunginya dan memberikan “sentuhan aktivis” kepadanya. Tapi kesibukan perkotaan belum memungkinkanku melaksanakannya sekarang.

Syukur, kebersahajaan desa itu juga berarti masyarakatnya yang masih murni, tanpa prasangka, dan siap menerima sentuhan dari siapa saja, sentuhan perubahan. Gunung Ebun yang dingin (saya hanya mengenalnya sebagai pekuburan yang ditandai kalong yang bergelantungan) hampir tak tersentuh perubahan. Padahal potensi air dan tanahnya luar biasa hebat untuk bercocok tanam, dan beternak. Yang dibutuhkan adalah jalan-jalan atau gang yang menghubungkan titik-titik tersebut. Tidak mudah, karena itu berarti pekerjaan cut and fill jalan-jalan setapak yang berkelok-kelok dan naik turun. Tapi itu pilihan yang harus diambil. PNPM sudahkah masuk ke desaku?

Blog ini adalah langkah awalku untuk membuat perubahan. Ada pola berpikir yang harus diubah, ada sarana prasarana yang harus disiapkan, ada masyarakat yang harus ditingkatkan penghasilannya, harus ditingkatkan daya juangnya. Ada tokoh-tokoh yang harus dipacu jiwa revolusionernya, jiwa kerja keras.

Desaku yang amat kucintai, harus diselamatkan setiap jengkal tanahnya agar menjadi lahan-lahan produktif. Ditanami dengan pelbagai bibit, pohon jati, rasamala, alba atau bahkan buah-buahan. Dibuat kandang-kandang untuk ternak yang produktif, kolam-kolam ikan yang menyuplai kebutuhan pangan Cirebon atau Bandung. Bismillah, ide ini harus diwujudkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s