Membangun Kuningan

Hari ini, bersama anak kedua saya, Azmi, saya menyengaja untuk ke Kuningan dengan gaya backpacker, lebih menelaahi perjalanannya daripada destinasinya. Saya coba ambil lewat Cirebon karena kendaraan AC yang masih bisa kita temui –jelas karena Cirebon termasuk kota yang berkembang di Jawa Barat. Lewat Cikijing sementara ini kurang menarik, karena moda yang alakadarnya. Hal ini menunjukkan pembangunan Kuningan dari arah Barat kurang tumbuh dengan baik. Dulu, waktu kecil lewat Cikijing kita bisa naik Bus Aman Sejahtera dan Bukit Mulya yang besar-besar, bahkan ada Patas, kini, karena hukum supply dan demand moda Aman Sejahtera mengkerut jadi bis tigaperempat, dan Bukit Mulya lenyap entah kemana.

backpacker azmi

di cirebon

Melihat Cirebon setidaknya menjadi bahan benchmarking untuk melihat harapan seperti apa bentuk Kuningan di masa yang akan datang. Perumahan tumbuh dengan masiv dan sepertinya akan tumbuh menjadi metropolitan bersama/bersambung dengan Kabupaten Cirebon, kontur yang datar mengunyungkan pertumbuhan kota-kota ini. Dari Terminal Hardjamukti, kami naik elf jurusan Kuningan yang jumlahnya satu dua, dengan perjalanan ersendat-sendat karena menunggu penumpang mencapai BEP melewati Gronggong lewat Graha Darusalamnya Pak Fuad🙂 lewat Beber dan trereeeeng mulai deh suasana Kuningan terasa, nuansa desa, bukan nuansa kemajuan, karena ada juga nuansa desa yang sedang menginjak kemajuan. Untuk bisa menyusuri kotanya saya harus turun di dekat terminal Cirendang lanjut dengan menyicil angkot yang jalurnya pendek-pendek.

Pusat kemajuan ada di alun-alunnya dan secuplik jalan Siliwangi dan sekitar, disini berkumpul Masjid Agung, Taman, Bank , Pasar dll, kemajuan tersedot ke tengahnya. Menjadikan Kuningan sebagai Kota Pariwisata dan supplier pertaian nampaknya akan menjadi pilihan yang tepat, tetapi sarana moda, penerangan, dan prasarana belum terlihat mengarah ke arah sana. Inilah problem Kuningan. Jika tidak dipimpin oleh Bupati yang Visioner akan menjadi begitu-begitu saja. Kuningan ini memiliki modal Kemolekan, masyarakatnya cukup terbuka, otak bisnisnya cukup baik (terlihat pada yang mengembara ke Jogja atau ke Jakarta) — motekar, tinggal bagaimana mengembangkan kemajuan di daerah.

alun-alun

alun-alun

masjid syiarul Islam- masjid Agung Kuningan pusat kota

masjid syiarul Islam- masjid Agung Kuningan pusat kota

pasar Kepuh Kuningan cukup bersih

Membangun Kuningan berarti kita harus memotret kondisi riilnya, mulai dari kondisi geografis, demografis, sosial danlain sebagainya selain juga tetap harus menelusuri bagaimana jejak sejarahnya yang pernah menjadi pusat sebuah kerajaan dan lain-lain untuk meneguhkan karakter budaya daerahnya. Karena jika tidak ditegaskan bagaimana runutan sejarah termasuk bagaimana suasana Islami sebagai pengaruh dari Sunan Gunung Jati di Cirebon maka Kuningan akan menjadi tempat yang terlalu terbuka bagi tamu misalnya bagaimana mungkin Kuningan bisa menerima Paseban Madrais atau Bukit/Goa Maria di Cigugur, darimana sejarahnya? Cenderung mengada-ada.

Latar sejarah ini penting untuk memetakan bagaimana pembangunan berangkat dengan pemahaman yang utuh tentang masyarakat dan budayanya. Darisinilah penetapan Visi dan misi mendapatkan latarnya. Nati dilanjut ya ..

salah satu gang dari pasar Kepuh

salah satu gang dari pasar Kepuh

di Kertawirama

di Kertawirama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s