Category Archives: Uncategorized

Car Free Day di Dago (an)

Kebudayaan dan peradaban bisa lahir dari kebiasaan dan event-event yang dibangun. Kebersamaan “rasa Sunda” bisa dirasakan di event car free day tiap ahad di daerah Dago kota Bandung. Sebagai orang sunda ngawangkong bari ngaso memang telah menjadi bagian dari kehidupan kesehariannya, ditunjukkan dengan konstruksi rumah mereka yg memberikan ruang ngawangkong di tepas imah dan di bale-bale. Keriangan juga dapat kita saksikan di acara ahadan ini.
Orang jalan-jalan, jualan pamer kabisa merupakan bagian yang mendominasi, tapi berkumpul disini memang bikin seger, ga percaya? Sok geura ikutan tiap ahad jam 6an.

Zona “Nyaman”

Saya punya beberapa teman, kita ambil saja dua contoh si A dan si B. Si A adalah teman masa lalu zaman SMA, sejak SMA fokusnya adalah karir, dia rencanakan hidupnya dengan baik, bagaimana mencapai karir tertinggi sehingga memiliki kehidupan yang mapan dalam usia muda. Wal hasil dia berhasil mencapai harapannya, kabarnya sudah menikah pula. Ideologi teman ini adalah karir, jika karir berhasil maka masalah-masalah lain akan terselesaikan dengan baik. Si A merasa berada pada zona nyaman dengan hasil kerjanya tersebut, dia tidak berpikir untuk memperjuangkan sebuah nilai A atau B atau Z, yang penting adalah bisa mencapai hidup senang dengan baik, sekali-sekali menyumbang buat anak yatim boleh lah.

Si B beda lagi, setelah hidup berumah tangga, B pergi dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, alasannya pekerjaan A terlalu cape, pekerjaan B ga enak jadi marketing 3 bulan ga dapet-dapet order, akhirnya 3 bulan ini nganggur. lama-kelamaan B dicurigai merasa nyaman ternak teri (anter anak anter istri) tanpa kerjaan tetap.

Sesungguhnya dua zona nyaman ini walaupun kutubnya berbeda, bukanlah keadaan yang ideal. Karena sesungguhnya hidup itu butuh keseimbangan. kenikmatan sesungguhnya bukanlah zona nyaman, zona nyaman seharusnya adalah sesuatu hal yang bisa dinikmati sekali-sekali. sesuatu itu menjadi nikmat karena jarang-jarang. Kita harus merasa nyaman jika dalam kondisi berjuang, bukan dalam kondisi individualis atau menganggur. Wallohu a’lam

Malam Dingin

Gerimis malam ini

mengajakku

untuk menulis lagi

Kebiasaan Membaca dan Menulis

“Awali setiap subuhmu dengan menulis/mencatat karena dengan begitu membuatmu menjadi penulis.” ::Gerald Brenan

Luar biasa, ketika menelusuri blog-blog yang berisi resensi buku, untuk blogspot saja ada bukuygkubaca, akubuku, resensor dan lain-lain. Syukurlah ternyata para pembaca itu masih ada. Berarti kemajuan yang akan didapatkan negeri ini bukan mimpi.

Mejadi penulis (otomatis menjadi pembaca) adalah sebuah aktivitas yang akan membangkitkan kemajuan, semuanya dimulai dari pikiran. Para penggerak peradaban menyerukan semangat juang melalui tulisan. Rasyid Ridha atau Jamaludin al Afghani juga menebarkan fikiran lewat tulisan. Hasan al Bana membuat rosa’il untuk menyusun agenda perjuangan. Begitu juga dengan Muhamad Iqbal, Gandhi dan lainnya pejuang.

Mengawali hari dengan aktivitas menulis merupakan tantangan yang menggoda. Membiasakan diri mengemukakan pikiran menyebabkan kita harus mampu memformulasikan pikiran sebelum dinarasikan dalam tulisan. Otomatis kita harus memiliki pengalaman membaca. Membaca yang mencerna. Tapi bagaimana caranya kita memiliki tulisan yang menggerakkan? Itu adalah proses selanjutnya setelah kita terbiasa menulis, menulis yang menggerakkan adalah apabila kita mendalami dan mengerjakan tulisan dari dunia gerak. Atau kita memang sedang menuliskan gerakan kita yang pasti kita telah menjiwainya.

Who are you?

“The self is not something ready-made, but something in
continuous formation through choice of action.”

— John Dewey

Kepercayaan

Sekarang ini, nampaknya sulit untuk mempercayai institusi di negeri ini, polisi, anggota DPR, Wali Kota atau yang lainnya…bahkan KPK sebuah lembaga yang dianggap superbody dalam menangani kasus korupsi di negeri ini, terindikasi mulai sering main mata dan tebang pilih

Negeri ini krisis kepercayaan, pemimpinnya sudah tidak layak dipercaya, masyarakat sudah tidak percaya lagi. Masyarakat tidak mau lagi membayar pajak ketika banyak ‘gayus’ yang memotongi setoran pajak mereka.

Strategi Perlawanan HAMAS

Sekitar setahun yang lalu Harian Kompas pernah menurunkan tulisan dengan tajuk sebuah pertanyaan “Siapakah Hamas itu?” Hamas begitu gagah berani mereka menghadapi gempuran pasukan Israel dari darat dan udara. Padahal, mesin perang Israel jauh lebih canggih dan lengkap. Pertanyaan yang hampir serupa sudah mengemuka pada Januari 2006 ketika Hamas memenangi pemilu legislatif Palestina. Hamas mengalahkan Fatah—faksi terbesar dalam PLO—yang sudah demikian lama berkuasa? Apa kehebatan Hamas sehingga rakyat memberikan suara mereka? Hamas meraih 76 dari 132 kursi di parlemen yang diperebutkan dan Fatah 43 kursi. Sisanya direbut partai-partai kecil lainnya, seperti Partai Jalan Tengah, Palestina Independen, dan Badil masing-masing merebut dua kursi, sementara PFLP meraih tiga kursi, sedangkan empat kursi sisanya jatuh ke partai independen lainnya.

kata'ib Izzudin Al Qossam

kata'ib Izzudin al Qossam, ujung tombak sayap militer Hamas

Tiga Strategi

Siapakah mereka? Matthew Levitt dalam bukunya, Hamas: Politics, Charity, and Terrorism in the Service of Jihad, menulis, Hamas yang akronim dari Harakat al-Muqawama al-Islamiya atau Gerakan Perlawanan Islam didirikan pada 14 Desember 1987. Organisasi ini merupakan pengembangan dari Ikhwanul Muslimin—yang berpusat di Mesir—cabang Palestina. Salah satu pendiri Hamas adalah Sheikh Ahmed Yassin, yang dibunuh Israel pada tanggal 22 Maret 2004. Hamas didirikan sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap organisasi-organisasi perlawanan Palestina yang lebih dahulu dalam menghadapi Israel. Mereka dinilai lembek dan cenderung kompromistis. Fatah, misalnya, membuka dialog dengan Israel. Oleh karena itu, Hamas didirikan dengan tujuan utama menyingkirkan Israel dari peta bumi dan kemudian mendirikan negara Islam di seluruh wilayah yang dulu masuk dalam Mandat Inggris, yakni wilayah yang kini menjadi negara Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Walaupun dianggap paria dan diberi cap sebagai teroris oleh AS, Israel, dan sejumlah negara Barat–ingat! sebutan teroris oleh Barat berarti bahwa mereka bertentangan dengan kepentingan Barat–bagi kita tentu saja mereka adalah kelompok Mujahidin, Hamas sangat memesona rakyat Palestina karena strategi perjuangannya.

Hamas memiliki tiga strategi untuk mendukung tercapainya tujuan perjuangan. Pertama, aktivitas kesejahteraan sosial-ekonomi bagi rakyat untuk membangun dukungan dari rakyat. Kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan oleh divisi kewanitaan Hamas telah memikat hati mereka, begitu dekatnya hubungan mereka sehingga ketika Palestina diserang Israel, masyarakat palestina sangat yakin bahwa Hamas tidak akan meninggalkan mereka begitu juga sebaliknya, berbeda dengan pandangan masyarakat terhadap organisasi lain seperti Fatah. Kedua, aktivitas politik untuk menandingi PLO yang sekuler dan Otoritas Palestina. Ketiga, melakukan perlawanan bersenjata terhadap Israel, termasuk dengan bom syahid.

Dengan mengembangkan ketiga strategi itu—terutama yang pertama—mereka mampu meraih simpati dan dukungan rakyat Palestina dalam pemilu. Kekuatan Hamas Kemenangan Hamas dalam pemilu merupakan bukti bahwa mereka memiliki pijakan kuat di tengah masyarakat. Dominasi mereka di Jalur Gaza pun menegaskan hal itu. Karya sosial dan kemasyarakatan mereka di tengah masyarakat Palestina merupakan salah satu daya pemikat dukungan rakyat. Lewat jaringan organisasi yang luas—kalangan ulama, mahasiswa, intelektual, organisasi kemasyarakatan lainnya—mereka mendapatkan dukungan dan legitimasi rakyat. Dukungan dalam hal dana, misalnya, mengalir dari sejumlah negara. Mengutip Matthew Levitt, uang dalam jumlah jutaan dollar AS mengalir dari para donatur di Jordania, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Inggris, Jerman, AS, Uni Emirat Arab, Italia, dan Perancis. Sejumlah negara Arab pun mendukung Hamas, misalnya Arab Saudi, Iran, Suriah, Lebanon, Libya, Sudan, Yaman, dan Qatar. Dukungan yang mereka berikan bermacam-macam, ada yang berupa dukungan dana, latihan militer, atau menjadi tempat berlindung tokoh-tokoh Hamas yang dikejar-kejar Israel. Lalu, mampukah Israel mengalahkan Hamas? Barangkali Israel bisa menghancurkan infrastruktur yang digunakan sebagai alat perjuangannya. Namun, jaringan dan terutama ideologi perlawanan mereka tidak dapat dihancurkan meski mereka tercerai-berai.