Tag Archives: Hamas

Strategi Perlawanan HAMAS

Sekitar setahun yang lalu Harian Kompas pernah menurunkan tulisan dengan tajuk sebuah pertanyaan “Siapakah Hamas itu?” Hamas begitu gagah berani mereka menghadapi gempuran pasukan Israel dari darat dan udara. Padahal, mesin perang Israel jauh lebih canggih dan lengkap. Pertanyaan yang hampir serupa sudah mengemuka pada Januari 2006 ketika Hamas memenangi pemilu legislatif Palestina. Hamas mengalahkan Fatah—faksi terbesar dalam PLO—yang sudah demikian lama berkuasa? Apa kehebatan Hamas sehingga rakyat memberikan suara mereka? Hamas meraih 76 dari 132 kursi di parlemen yang diperebutkan dan Fatah 43 kursi. Sisanya direbut partai-partai kecil lainnya, seperti Partai Jalan Tengah, Palestina Independen, dan Badil masing-masing merebut dua kursi, sementara PFLP meraih tiga kursi, sedangkan empat kursi sisanya jatuh ke partai independen lainnya.

kata'ib Izzudin Al Qossam

kata'ib Izzudin al Qossam, ujung tombak sayap militer Hamas

Tiga Strategi

Siapakah mereka? Matthew Levitt dalam bukunya, Hamas: Politics, Charity, and Terrorism in the Service of Jihad, menulis, Hamas yang akronim dari Harakat al-Muqawama al-Islamiya atau Gerakan Perlawanan Islam didirikan pada 14 Desember 1987. Organisasi ini merupakan pengembangan dari Ikhwanul Muslimin—yang berpusat di Mesir—cabang Palestina. Salah satu pendiri Hamas adalah Sheikh Ahmed Yassin, yang dibunuh Israel pada tanggal 22 Maret 2004. Hamas didirikan sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap organisasi-organisasi perlawanan Palestina yang lebih dahulu dalam menghadapi Israel. Mereka dinilai lembek dan cenderung kompromistis. Fatah, misalnya, membuka dialog dengan Israel. Oleh karena itu, Hamas didirikan dengan tujuan utama menyingkirkan Israel dari peta bumi dan kemudian mendirikan negara Islam di seluruh wilayah yang dulu masuk dalam Mandat Inggris, yakni wilayah yang kini menjadi negara Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Walaupun dianggap paria dan diberi cap sebagai teroris oleh AS, Israel, dan sejumlah negara Barat–ingat! sebutan teroris oleh Barat berarti bahwa mereka bertentangan dengan kepentingan Barat–bagi kita tentu saja mereka adalah kelompok Mujahidin, Hamas sangat memesona rakyat Palestina karena strategi perjuangannya.

Hamas memiliki tiga strategi untuk mendukung tercapainya tujuan perjuangan. Pertama, aktivitas kesejahteraan sosial-ekonomi bagi rakyat untuk membangun dukungan dari rakyat. Kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan oleh divisi kewanitaan Hamas telah memikat hati mereka, begitu dekatnya hubungan mereka sehingga ketika Palestina diserang Israel, masyarakat palestina sangat yakin bahwa Hamas tidak akan meninggalkan mereka begitu juga sebaliknya, berbeda dengan pandangan masyarakat terhadap organisasi lain seperti Fatah. Kedua, aktivitas politik untuk menandingi PLO yang sekuler dan Otoritas Palestina. Ketiga, melakukan perlawanan bersenjata terhadap Israel, termasuk dengan bom syahid.

Dengan mengembangkan ketiga strategi itu—terutama yang pertama—mereka mampu meraih simpati dan dukungan rakyat Palestina dalam pemilu. Kekuatan Hamas Kemenangan Hamas dalam pemilu merupakan bukti bahwa mereka memiliki pijakan kuat di tengah masyarakat. Dominasi mereka di Jalur Gaza pun menegaskan hal itu. Karya sosial dan kemasyarakatan mereka di tengah masyarakat Palestina merupakan salah satu daya pemikat dukungan rakyat. Lewat jaringan organisasi yang luas—kalangan ulama, mahasiswa, intelektual, organisasi kemasyarakatan lainnya—mereka mendapatkan dukungan dan legitimasi rakyat. Dukungan dalam hal dana, misalnya, mengalir dari sejumlah negara. Mengutip Matthew Levitt, uang dalam jumlah jutaan dollar AS mengalir dari para donatur di Jordania, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Inggris, Jerman, AS, Uni Emirat Arab, Italia, dan Perancis. Sejumlah negara Arab pun mendukung Hamas, misalnya Arab Saudi, Iran, Suriah, Lebanon, Libya, Sudan, Yaman, dan Qatar. Dukungan yang mereka berikan bermacam-macam, ada yang berupa dukungan dana, latihan militer, atau menjadi tempat berlindung tokoh-tokoh Hamas yang dikejar-kejar Israel. Lalu, mampukah Israel mengalahkan Hamas? Barangkali Israel bisa menghancurkan infrastruktur yang digunakan sebagai alat perjuangannya. Namun, jaringan dan terutama ideologi perlawanan mereka tidak dapat dihancurkan meski mereka tercerai-berai.

Advertisements

Mosab: Kisah anak yang berkhianat

Ada berita menggegerkan dari Hamas Palestina: “satu orang anak pendiri Hammas yaitu Mosab Hassan Yousef telah menjadi agen shin bet, disinyalir menjadi penyebab kematian pimpinan Hamas Mahmud Al Mabhuh, murtad dari agama islam, dan yang lebih parah menyebut teroris terbesar adalah tuhan. Luar biasa! Ayahnya seorang aktivis, anaknya jadi bandit pengkhianat. Memang, hal ini bukan hal yang baru, karena bahkan seorang Nabi Nuh pun anaknya jadi pengkhianat dan durhaka.

mosab: sang pengkhianat

mosab: sang pengkhianat

Mosab begitu menggegerkan ketika dalam bukunya, “Son of Hamas: A Gripping Account on Terror, Betrayal, Political Intrigue and Unthinkable Choices.” begitu mencerca perjuangan Hamas yang notabene merupakan organisasi perlawanan yang ikut  didirikan ayahnya. Seorang anak kader, selama satu dekade lebih bergabung dengan Dinas Intelligen Israel, Shin Bet sebelum memutuskan berhenti pada 2007. Mosab melancarkan kritikan yang tajam pada Khalid Meshaal, pemimpin Hamas, dan memiliki proyek pribadi mendongkel Khalid. Mosad bahkan butuh menjadi murtad dan kafir atas tindakannya itu. Sebagai ayah, kita pasti dapat meraba bagaimana perihnya perasaan Sheikh Hassan Yousef tentang anaknya ini.

Ada bahan yang harus menjadi renungan kita, bahwa keimanan memang tidak dapat diwariskan, tetapi sesungguhnya orang tua paling bertanggung jawab mengawal agar anaknya tetap berada dalam lingkungan keshalihan. Di palestina tentu kondisinya sangat lain, israel dan jaringannya tentu saja akan mencari-cari celah untuk menyelusupkan cakarnya pada jantung kaum muslimin.

Disini kita harus waspada bahwa kesibukan seorang ayah dalam mengemban dakwah tidak boleh menyebab kita terlupa akan pentingnya mengawal pendidikan anak, terus menjaga agar tidak terinfiltrasi pengaruh-pengaruh keburukan yang pasti akan menerjang lebih dahsyat terhadap keluarga dakwah sebagai bentuk ujian.

Mari kita berintrospeksi, bahwa sesungguhnya dakwah itu harus dimulai dari Ishlahul fardi terus membina keluarga menjadi keluarga sebaik-baiknya. Dari sinilah kita berangkat menjadi keluarga Haroki, yang secara bersama-sama berdakwah bahu membahu. Ayah menasihati anak istri, anak menjadi penyeimbang keluarga dan seterusnya. Semoga Allah melindungi.

hassan yousef: sang ayah

hassan yousef: sang ayah

Sebuah bahan renungan bagi kita yang mengazzamkan diri menjadi da’i, bahwa ternyata keberhasilan dakwah kita juga diukur dengan bagaimanakah cara kita mengestafetkan tongkah dakwah ini kepada anak keturunan kita, bukan hanya pada mutarobi dan mad’u kita. Karena anak-anak adalah mutarobbi kita yang pertama kali.

Selain itu jamaah dakwah harus senantiasa memperhatikan a’dhonya secara menyeluruh, memutaba’ah (mengevaluasi) perkembangan kadernya bukan hanya pada sisi pelaksanaan tugas-tugas dan kualitas ibadahnya tetapi juga pada kondisi keluarganya, karena kita sedang membangun sebuah peradaban yang besar, yang membutuhkan bantuan seluruh tenaga yang tersedia. Allahu a’lam