Tag Archives: nature research

Sekolah di Negeri Kita

Dalam sebuah perbincangan di Jum’at kemarin, dengan Pak Runjai yang mantan Kepala Sekolah Mifkho (sekarang jadi Kepsek MA Salman di Cirebon) dan Pak Eko, juragan kelinci yang lulusan ITB. Inti perbincangan tersebut adalah “Sekolahan kita yang dikelola pemerintah ini ga ada isinya” kata Pak Eko dengan lugas. Ketika saya koreksi ‘mungkin kurang berbobot pak?’, “Bukan, tapi ngga ada isinya” tukas Pak Eko tegas. Anak-anak sekolahan kita masih butuh bimbel untuk masuk perguruan tinggi, berarti sekolah kita ga ada apa-apanya. Mau dikuatin di akademik ga kuat, di agama juga ga kuat, di keterampilan ga kemana-mana.

Ketika novel “Laskar Pelangi’ mencetak box office, bukannya jadi bahan introspeksi terhadap kondisi pendidikan, malah melahirkan kesimpulan, tuh kaaan dalam segala keterbatasan, pendidikan kita bisa menghasilkan orang-orang hebat. Pfuiiih…

Sebagai salah satu pelaku di dunia pendidikan, saya pun merasakan carut marutnya pendidikan kita. (walaupun ga ada uangnya) dengan gagah kami tetap berusaha mempertahankan sekolah kecil kami, untuk menantang segala carut marut tersebut. Kami berpikir, sungguh hal kecil yang kami lakukan dengan menyelenggarakan SMAIT Mifkho cukup memberi arti bahwa ada titik cerah dalam kusamnya nasib pendidikan kita. Kenapa? karena kami masih bisa menyelenggarakan pendidikan yang mendewasakan, memperkaya jiwa dan pikiran anak, walaupun mungkin orang tua siswa yang menitipkan anaknya di sekolah kami adalah orang-orang tua anomali yang berani menantang arus. Betapa tidak? Dengan sarana yang sangat terbatas bahkan mereka tetap mempercayai kami, bahkan al Irsyad percaya untuk minta dibuatkan sistem sekolahnya yang di Karawang kepada kami, bahkan Bu Ledia Hanifa yang anggota dewan itu, mengarahkan teman-teman Malaysia-nya untuk study banding ke sekolah kami.

the inspiring school-mifkho

the inspiring school-mifkho

Keunikan Sekolah Kami

Mungkin tidak bisa dikatakan unik kalau anda pemikir pendidikan yang memanusiakan, tapi ditengah ngga jelasnya kurikulum sekolah-sekolah kita, banyak hal unik yang dikandungnya (setidaknya menurut para penjabat diknas). Kami memadukan kurikulum dengan cara didik yang efisien. Beberapa materi pelajaran yang tidak relevan buah apakah dipertahankan? kami coret itu semua, kami buat kurikulum keterpaduan, yang memadukan nilai-nilai agama (moral dan etika) dengan nilai sains dan kepemimpinan. Tidak lupa kami masukkan pelajaran kewirausahaan yang diam-diam jadi kredo di sekolah kami.

Kegiatan Nature Research membuat siswa gape membuat penelitian sains di alam sekalian dengan membuat laporan dan presentasinya. Pesantren Sains telah mengasah jiwa wirausaha sekalian menempa ruhani mereka, Studi Lapangan dan Sarasehan menyebabkan mereka dapat belajar langsung dari ahlinya, mereka melihat bahwa guru dapat menjadi fasilitator yang baik buat mereka. Menanamkan nasionalisme dan jiwa heroik mereka dapatkan di The Journey to Freedom di hari kemerdekaan Indonesia. Dan dalam kesehariannya, para guru dapat dijadikan partner dalam mendalami ilmu, karena mereka masih cukup banyak memiliki waktu untuk anak-anak.

belajar di sungai Bali Gede

belajar di sungai Bali Gede Cianjur

“Kami menyiapkan sekolah untuk anak-anak, bukan menyiapkan anak-anak untuk sekolah”, sekolahlah yang harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan perkembangan akal, jiwa dan aktivitas anak. Sehingga mereka diberi kesempatan untuk tumbuh matang sesuai dengan bakat, muyul kecenderungan, dan kemampuan mereka.

Yup, kita harus melakukan perubahan itu. Harus melakukan antitesa terhadap kondisi mapan pendidikan Indonesia yang lebih banyak melahirkan kritik daripada acungan jempol. Sekolah kami telah melahirkan Dani yang sekarang bisnis ekspor kopi luwak, atau Soma yang jadi seniman berbisnis travel, atau Zaki yang membuka apotek (dan bersumpah untuk tidak kembali ke Mifkho sebelum sukses), atau Ana sang arsitek arab yang telah punya dua anak dan lain-lain dengan segala keunikannya. Atau Mutho yang ber-backpacker untuk kuliah di turki tanpa bekal? kami cukup bangga dengan mereka.

tampak muka mifkho

tampak muka mifkho

Advertisements

Perkebunan Dewata on Memory

Waktu diputar mundur ke April 2002, Murid SMAIT Miftahul Khoir kelas I dan II yang baru saja terpisah dari SMA Salman Al Farisi (SMA ini terpaksa dibubarkan karena ada ‘sengketa’ Yayasan) berangkat mengikuti Nature Research ke Perkebunan Dewata sekitar Gunung Maud dan Cagar Alam Patuha. Jumlahnya hanya 15 orang saja dengan sekitar 7 orang guru. NR yang berkesan, karena inilah NR pertama sebagai Mifkho, nuansa pemberontakan sedang tumbuh pada waktu itu.

kemah lingkungan

kemah lingkungan-dewata 2002

Penelitian yang menarik karena penelitian meliputi area yang sangat luas, penelitian debit air di sungai dengan ‘asruk-asrukan’ di belantara. Ada vegetasi hutan, penelitian tanaman air dan lain sebagainya. Penelitian ini bekerjasama dengan Konus (Konservasi Alam Nusantara) dalam bentuk Kemah Alam dalam rangka hari Bumi–ternyata ada juga Hari Bumi ya..

Kami dikenalkan dengan suatu model penelitian yang mengasyikkan dengan cara moving camp, ketemu ular segede gambreng, katak yang buesar buangaet dan lain-lain. Pokoknya asyik..terutama karena sepanjang NR saya lagi sakit gigi, sempat ga konsen juga.

Dan hari ini..pemukiman di Dewata telah tergusur longsor..habis..tragedi yang memilukan, karena tempat yang terpencil ini dikenal Indonesia justru karena ada bencana yang memilukan. Tempat yang sangat terpencil dengan kualitas jalan yang buruk. Butuh waktu 4-5 jam dari jalan ciwidey ke Dewata. Mungkin orang-orang yang kami wawancara atau yang melayani makan kami waktu itu mungkin telah terkubur..masya Allah.

Tempat hijau seperti ini saja bisa longsor apalagi tempat gersang di tempat lainnya? Semoga yang menjadi korban diterima amal sholehnya amiin, insya Allah kami kembali kesana untuk melakukan penelitian yang bermanfaat. Insya Allah.